Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Kenapa Industri Padat Karya RI bakal Paling Terpukul Tarif Impor Trump 32 Persen?

Peneliti Eksekutif NEXT Indonesia Center mengungkap dampak tarif impor 32 persen pada industri padat karya di Tanah Air.

4 April 2025 | 16.52 WIB

Pekerja menyelesaikan produksi kain di PT Trisula Textile Industries di Cimahi, Jawa Barat.
Perbesar
Pekerja menyelesaikan produksi kain di PT Trisula Textile Industries di Cimahi, Jawa Barat.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Peneliti dari Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, membeberkan dampak dari tarif impor 32 persen yang diberlakukan oleh Amerika Serikat untuk Indonesia. Tarif baru itu dinilai akan memberikan pukulan keras bagi industri padat karya Indonesia.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

“Alasannya, sepanjang periode 2020-2024, Amerika Serikat menyerap lebih dari separuh dari total ekspor tiga komoditas padat karya asal Indonesia yang dikirim ke seluruh dunia,” kata Christantoko melalui keterangan tertulis pada Jumat, 4 April 2025.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Dia mengatakan setidaknya terdapat 3 komoditas dari sektor usaha padat karya yang akan terdampak. Tiga komoditas itu di antaranya pakaian dan aksesoris rajutan, pakaian dan aksesoris yang bukan rajutan, serta mebel, furnitur, dan perabotan.

Secara keseluruhan, kata Christantoko, nilai ekspor tiga komoditas tersebut ke Amerika Serikat mencapai US$ 6 miliar atau setara dengan Rp 99 triliun (asumsi kurs Rp 16.560 per dollar AS) pada perdagangan 2024.

Dia merinci, pasar Amerika selama lima tahun belakang ini menyerap produk pakaian dan aksesoris rajutan Indonesia sebesar 60,5 persen atau senilai US$ 12,2 miliar, setara dengan Rp 202 triliun. Kemudian, untuk komoditas pakaian dan aksesorinya yang bukan rajutan, AS menyerap sebanyak 50,5 persen atau mencapai US$ 10,7 miliar atau setara dengan Rp 177 triliun.

Sementara untuk komoditas mebel, furnitur dan perabotan, AS tercatat menyerap sebanyak 58,2 persen atau senilai US$ 7,5 miliar setara dengan Rp 123 triliun. “Jadi kalau pengiriman ke AS terhambat gara-gara tarif, ekspor komoditas-komoditas tersebut bisa terganggu atau bahkan mungkin tumbang,” tutur Christian. 

Tak hanya itu, dia menilai dampak terburuk dari kondisi yang terjadi saat ini adalah lumpuhnya industri tekstil. Jika itu terjadi, Christian menyebut lebih dari 3 juta orang akan kehilangan pekerjaan. “Ini masalah serius yang harus dipikirkan oleh pemerintah, apalagi saat ini sedang ramai-ramainya informasi tentang PHK,” kata dia.

Sebelumnya, Presiden Donald Trump mengumumkan tarif impor baru untuk barang dari sejumlah negara mitra dagang Amerika Serikat pada Rabu waktu setempat, 2 April 2025. Tarif yang diberikan pada setiap negara itu pun bervariasi. Indonesia menjadi negara ke 8 dengan tarif tertinggi, yaitu sebesar 32 persen. Tarif dagang ini berlaku mulai 9 April 2025.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus