Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Co-Captain Tim Nasional Pemenangan Anies Baswedan-Muhaimin Iskandar (AMIN) Thomas Trikasih Lembong atau Tom Lembong menyoroti program makan siang gratis dan susu gratis untuk anak-anak yang digagas Paslon Capres Cawapres nomor urut dua Prabowo Subianto - Gibran Rakabuming Raka.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tom Lembong menilai, gagasan ini kurang tepat. Apalagi Prabowo-Gibran berencana akan impor 1,5 sapi untuk memenuhi kebutuhan susu tersebut.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sebaliknya, Capres nomor urut satu Anies-Muhaimin, lebih memilih mengoptimalkan potensi perikanan untuk menekan angka stunting dan juga meningkatkan gizi anak.
"Pak Anies sudah bicara, kalau kita mau mengatasi stunting, kalau mau meningkatkan konsumsi protein, kita lebih percaya pada perikanan, bukan pada susu," kata Tom Lembong dalam diskusi "Pemuda Harsa: Bangga Bicara" di Jakarta, Jumat, 9 Februari 2024.
Tom Lembong menilai, lebih baik anggaran jumbo untuk impor 1,5 juta sapi yang digagas Prabowo-Gibran itu digunakan untuk mengembangkan teknologi dan industri pengolahan ikan.
"Ngapain kita impor 1,5 juta sapi untuk naikin produksi susu? Sementara 70 persen dari ikan yang ditangkap dibuang lagi ke laut. Ya mendingan uang itu (anggaran impor sapi) dipakai untuk membangun industri pengolahan yang bisa mengolah ikan-ikan," kata Tom.
Tom menyebut, banyak olahan yang bisa dihasilkan dari ikan. Ia bercerita, di Pantai Utara atau Pantura, ada istilah ikan sampah untuk ikan yang kualitasnya tidak sesuai standar. Namun, ikan itu bisa diolah menjadi berbagai olahan makanan yang memiliki kadar protein yang tinggi.
"Bahwa ikan itu bisa diolah jadi saos ikan, jadi bubuk protein. Kalau masak daging ayam, kemudian ditambah saos ikan supaya jadi lebih gurih. Jadi tidak perlu mengkonsumsi ikan secara langsung, tapi olahan ikan saus ikan," ujar Tom.
Sebelumnya, Prabowo Subianto mengatakan hanya jenis susu terbaik dari para peternak yang akan dibagikan kepada anak-anak. Bukan dari susu-susu kemasan yang banyak gula dan berpengawet.
Prabowo mengakui, kemampuan peternak dalam negeri sulit untuk merealisasikan program tersebut. Tapi, kesulitan itu bisa diatasi dengan impor sapi.
"Kalau kita punya kehendak, ya sudah 1, 2, 3, 4 tahun kita beli sapi-nya (dari luar negeri), kita kembangkan di Indonesia," tutur Prabowo dalam pertemuan di kantor Dewan Pers, Jakarta pada Kamis, 4 Januari 2024.
Ia menjelaskan, dari hitung-hitungan kasar, kemungkinan Indonesia membutuhkan minimal 2,5 juta ekor sapi perah. "Jadi kita mungkin harus impor satu juta atau 1,5 juta sapi dalam 3 tahun," ujar Prabowo.
Menurut Prabowo, sapi perah impor tersebut akan beranak sehingga bisa menjadi 3 juta ekor. "Kira-kira begitu strategi kita. Ini tidak instan, tapi (bisa terwujud jika ada) will-nya, ada kehendak,” ucap dia.
YOHANES MAHARSO | HAN REVANDA