SABTU pekan lalu rumah Prajogo Pangestu kedatangan banyak tamu. Bos Barito Pacific, Prajogo, hari itu tengah merayakan Tahun Baru Imlek. Di antara para tamu tampak beberapa top executive PT Astra International (AI), seperti Presiden Direktur Theodore P. Rachmat dan Wakil Presiden Direktur Benny Subianto. Apakah kedatangan mereka ada kaitannya dengan posisi Prajogo, yang sejak 15 Januari ini menjadi pemegang saham Astra, dengan membeli 15 juta saham AI? Ternyata kunjungan itu sepenuhnya demi hubungan silaturahmi. Tiap tahun kalau Imlek, Teddy, Benny, ataupun Edwin biasa berkunjung ke kediaman Prajogo. ''Sebaliknya, Prajogo datang ke rumah Om Willem kalau Natalan,'' tutur seorang direktur dari Barito Pacific. Sabtu siang itu Presdir PT AI Teddy Rachmat datang seraya menaburkan senyum kepada tamu-tamu Prajogo yang menyalaminya. ''Apakah saya masih akan dipertahankan (sebagai Presdir PT AI), itu terserah pemegang saham,'' katanya sambil mengangkat tangan. Menurut Presdir AI ini, permintaan RUPS siap diajukan para pemegang baru. ''Kemungkinan hari Senin (pekan ini). Kalau permohonan itu masuk, maka RUPS akan dilaksanakan 40 hari kemudian, sekitar awal Maret,'' lanjutnya serius. RUPS Luar Biasa ini agaknya akan memilih anggota Dewan Komisaris. Jabatan presiden komisaris lowong sejak dilepaskan Prof Dr Sumitro Djojohadikoesoemo Desember lalu. Kini Benyamin Arman Suriadjaya kabarnya juga akan melepaskan jabatan wakil presiden komisaris. Empat putra-putri William Soeryadjaya -- Edward, Joice, dan Judith yang duduk sebagai komisaris, serta Edwin yang duduk sebagai Wakil Presdir PT AI -- menurut Sofyan Wanandi, pemegang saham PT AI, sudah akan mengundurkan diri. Seperti diketahui, Jumat dua pekan lalu tiga bank (Exim, Bapindo, dan Danamon) bersama 16 tokoh pengusaha telah mengambil alih 100 juta lembar saham Astra dari keluarga William Soeryadjaya. Tapi sewaktu dilegalisasikan di bursa, Senin pekan lalu, transaksi bernilai Rp 1 triliun itu melibatkan hanya empat pialang penjual. PT Anugerah Securities, milik Keluarga Soeryadjaya, menjual 46 juta lembar. PT Makindo dan PT Exim Securitas masing-masing melepaskan 21,6 juta, sedangkan PT Danamon Securitas menjual 10,8 juta lembar. Adapun pihak pembeli meliputi 20 perusahaan. Transaksi ini rupanya mendapat perlakuan khusus dalam pembebanan komisi. PT Anugerah Securities, sebagaimana dikutip harian Bisnis Indonesia, tidak meminta fee. Sedangkan pialang yang lain (baik yang bertindak sebagai penjual ataupun pembeli) meminta komisi cuma 0,5 permil. PT Bursa Efek Jakarta (BEJ), sebagai pengelola pasar yang biasanya juga meminta komisi 0,8 permil, kali ini mengutip 0,5 permil. Mengapa ada pengecualian? ''Peristiwa ini merupakan kasus khusus yang bersifat nasional,'' kata Direktur BEJ, Achmad Daniri. Penjualan 100 juta saham AI ini terjadi karena William Soeryadjaya harus melunasi utang-utangnya kepada tiga bank (Bapindo-Exim-Danamon) sebesar Rp 540 miliar, sekaligus untuk menutup sebagian dari tagihan nasabah besar Bank Summa sebanyak Rp 700 miliar lebih. Menurut ketentuan, serah terima saham serta pembayaran semua transaksi itu mestinya dilunasi Senin pekan ini (empat hari bursa, dihitung sejak terjadinya transaksi). Namun para pembeli belum akan membayar seluruhnya. Prajogo Pangestu dan kawan-kawannya akan melunasi secara mencicil. Dan Departemen Keuangan ternyata memberikan dispensasi. Jumat dua pekan lalu mereka sudah membayar 20%. ''Tanggal 29 Januari mereka membayar 50%, sedangkan 30% lagi dibayar akhir Februari,'' kata seorang pejabat tinggi dari Depkeu. Dengan jual beli saham tersebut maka saham-saham Keluarga William Soeryadjaya, yang dulu mewakili lebih dari 70% suara (sebanyak 166 juta lembar), kini dimiliki oleh 20 pemegang saham. Jadi suara akan terpecah. Bicara soal jumlah saham, maka kini yang dominan menguasai pemilikan PT AI adalah Pemerintah. Empat bank BUMN (BDN, BankExim, Bapindo, dan BNI) sekarang memegang 66 juta lembar. Kendati begitu, keempat bank pemerintah itu tak bisa mendikte PT AI, karena saham mereka seluruhnya baru mewakili 27,25% suara. Sementara itu perusahaan Jepang, Toyota Motor Corporation, yang diharapkan membeli 20 juta saham Astra milik Keluarga William, tampaknya kurang berminat. (Lihat Toyota Bersedia Bantu Astra). Mengenai sikap Toyota ini Teddy Rachmat berpendapat lain. ''Saya optimistis bahwa sebelum RUPS nanti Toyota sudah akan ikut masuk Astra,'' ujar Presdir Astra itu, tanpa penjelasan lebih jauh. Setelah peta pemilikan Astra berubah, pihak-pihak yang ingin mengendalikan PT AI, suka tak suka, haruslah melobi Pemerintah. Sumber di Departemen Keuangan mengungkapkan bahwa Kamis pekan lalu (21 Januari) Prajogo Pangestu (pemegang 15 juta saham), Sofyan Wanandi (pemegang 5 juta saham), dan Usman Admadjaya (bos Bank Danamon yang memegang 5 juta saham) telah menghadap Menteri Keuangan. ''Mereka ingin supaya Pak Oskar Surjaatmadja dicalonkan sebagai Presiden Komisaris PT AI. Pada prinsipnya Pemerintah setuju saja,'' kata seorang pejabat tinggi Depkeu. ''Tapi itu masih harus dilaporkan kepada Bapak Presiden (RI),'' kata sumber tadi. Tahun lalu Oskar memasuki masa pensiun, sesudah 14 tahun menjabat sebagai Dirjen Moneter. Pria asal Majalengka itu kini menjabat Presiden Komisaris Bank Indonesia. ''Kalau Pak Oskar merangkap jabatan itu sebenarnya tidak bertentangan,'' kata pejabat yang sangat mengetahui ini. Oskar telah dikontak berkali-kali, tapi belum mau bicara. Sumber TEMPO mengatakan, Oscar setuju bertugas sementara di AI, yakni sekitar satu tahun saja. Mengapa? Agaknya karena ada kemungkinan bahwa bank-bank pemerintah tak akan memegang saham Astra lebih dari setahun. Sinyalemen ini diperkuat oleh keterangan juru bicara Bank Indonesia, Dahlan Sutalaksana. ''Ada surat edaran dari Gubernur Bank Indonesia yang mengatakan, bank dan LKBB tak boleh menyimpan saham sampai jangka waktu tertentu.... Yang pasti, tidak lebih dari setahun,'' kata Direktur Muda BI tadi. Max Wangkar, Bambang Aji, Sri Wahyuni, Linda Djalil
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini