Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ekonomi

Berita Tempo Plus

Toyota bantu astra kalau ...

Wawancara tempo dengan top executive toyota motor corporation, masaharu tanaka, akira yokoi dan koji hasegawa tentang perubahan pemilikan saham astra tak membawa dampak buruk bagi tmb.

30 Januari 1993 | 00.00 WIB

Toyota bantu astra kalau ...
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

AKHIRNYA sikap Toyota Motor Corporation (TMC), tentang perubahan pemilikan saham PT Astra International (PT AI), terungkap juga. Kepala Biro TEMPO di Tokyo, Seiichi Okawa, Selasa malam pekan silam (19 Januari) telah berbincang-bincang dengan pucuk pimpinan TAM di Tokyo. Hal ini dapat terlaksana karena Okawa termasuk wartawan yang diundang perusahaan mobil terbesar di Jepang itu untuk menghadiri resepsi akbar yang biasa dilakukan setiap awal tahun. Seiichi Okawa, lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Waseda, sempat mengajukan beberapa pertanyaan kepada Chairman TMC, Shoichiro Toyoda. Kendati tidak mungkin berbicara panjang lebar, dalam keterangannya kepada Okawa tersirat sikapnya yang tegas. Tentang berubahnya komposisi pemilikan saham Astra -- dengan masuknya sejumlah konglomerat, di antaranya pemilik Indomobil, Liem Sioe Liong -- Toyoda tidak menggangapnya sebagai sesuatu yang terlalu serius. Dan ia pun tidak melihat hal itu akan membawa dampak buruk. Alasannya, Grup Salim bukanlah pemilik saham terbesar di Astra. Mengenai prospek Toyota Astra Motor di Indonesia, ia melihat tak ada masalah. Sebagai contoh, ia menyebutkan mobil Kijang. Merupakan hasil kerja sama TMC dan TAM, Kijang ternyata cocok dengan pasar Indonesia dan berhasil. Dari penjelasan ini diperoleh kesan bahwa bagi Toyoda semua beres-beres saja, apakah itu menyangkut saham Astra ataupun industri otomotif di Indonesia. Penjelasan yang lebih rinci didapat Okawa dari jajaran pucuk pimpinan Toyota Motor Corp. yang paling banyak mengikuti perkembangan Astra. Mereka adalah tiga eksekutif TMC, yang pernah bekerja di Indonesia. Pertama adalah Vice President, Masaharu Tanaka. Bisa berbicara bahasa Indonesia sepatah dua, Tanaka pernah bertugas di Jakarta dan menjabat Presiden PT TAM (Toyota Astra Motor) selama tujuh tahun (1977-1983). Tanaka sekarang khusus membawahkan bidang ekspor dan kegiatan Toyota di luar Jepang. Yang kedua adalah Managing Director, Akira Yokoi. Yokoi, yang kini membawahkan bisnis Toyota di Asia, Oceania, dan Timur Tengah, pernah pula bertugas di Indonesia selama empat tahun (1977-1980) sebagai Manajer Pemasaran PT TAM. Tak mengherankan jika Tanaka (62 tahun) dan Yokoi (57 tahun) dijuluki pers Jepang sebagai anggota ''Mafia Jakarta'' (Jakarta Connection). Selain kedua orang itu, tidak kurang penting adalah General Manager TMC Divisi Asia, Koji Hasegawa. Hasegawa (52 tahun) pernah juga bertugas sebagai general manager di PT TAM (1977-1990). Adalah Hasegawa yang bolak balik ke Jakarta -- kabarnya sampai 5 kali -- untuk berbicara dengan William Soeryadjaja dan Pemerintah di saat-saat krisis Bank Summa. Berikut ini petikan wawancara Seichi Okawa dengan ketiga top executive TMC tersebut, yang dilakukan secara terpisah. Demi kelengkapan, setiap jawaban dimuat utuh dan berdiri sendiri. Bagaimana pendapat Anda tentang Salim Group, pemilik PT Indomobil dan pesaing utama Toyota Astra Motor yang kini berhasil memegang 10 juta lembar saham Astra International? Yokoi: Skala yang dipegang Salim-san masih di bawah 20 juta lembar atau sekitar 5,76%. Kalau ditambah saham tokoh-tokoh yang dekat Salim-san, baru sekitar 16%. Itu kan tidak bisa bikin apa-apa. Jadi mereka tidak akan merupakan ancaman bagi TAM? Yokoi: Kenyataan menunjukkan sejumlah saham yang cukup besar berada di tangan Pemerintah. Kenapa Pemerintah terlibat dengan porsi saham yang demikian besar, itu karena Pemerintah tak menginginkan ada monopoli dalam industri otomotif Indonesia. Menurut pendapat saya, industri mobil Indonesia harus dikembangkan dalam kompetisi yang sehat. Dan pemerintah Indonesia tampaknya menganut pikiran yang sama. Liem Sioe Liong rupanya ingin belajar dari kami, misalnya mengenai know how manajemen. Kami bersedia memberikan, asalkan untuk maksud baik. Saling menambah pengetahuan kan bagus juga? (Tanaka: Kami berpendapat, bagaimanapun akan tidak baik jika industri mobil Indonesia dimonopoli. Setahu saya, kalangan pengusaha dan pejabat pemerintah Indonesia telah terlibat dalam urusan jual-beli saham Astra. Maka saya pikir tak mungkin akan terjadi monopoli. Asalkan ada niat untuk mengembangkan industri mobil Indonesia, maka kami tak meributkan siapa saja yang menjadi pemegang saham baru AI.) Jadi, Toyota Motor Corp. tidak akan mengalihkan keagenan Toyota di Indonesia ke negara lain? Tanaka: Saya tahu, banyak yang menantikan reaksi Toyota. Orang- orang yang membeli saham AI dari William-san khawatir kalau-kalau Toyota mundur dari TAM. Tapi perlu saya tegaskan, kami sama sekali tak memikirkan pengunduran TAM dari negara Anda. Minat kami masih sangat kuat untuk memelihara industri mobil di Indonesia. Kami mengerti kalau ada pihak yang cemas di Indonesia, tapi kekhawatiran itu tidak realistis. (Hasegawa: Sama sekali tak ada niat TMC untuk mengalihkan kemitraan di Indonesia. Lewat TAM, kami kan sudah mempunyai pabrik perakitan, pabrik mesin, pabrik kempa, dan lain-lain. Bagaimana mungkin kami mencari mitra baru?) Selama ini, kalau tak salah, Toyota Motor Corp. bermitra dengan Astra International yang didirikan William Soeryadjaya. Yokoi: Secara pribadi saya sangat bersimpati pada William. Jumlah uang yang harus dipertanggungjawabkannya luar biasa. Setahu saya sekitar US $ 1,5 miliar (Rp 3 triliun lebih). Mana mungkin TMC menolong? Tapi kami juga kasihan pada karyawan TAM (Toyota Astra Motor) yang berjumlah lebih dari 10.000 orang. Mereka sudah 20 tahun bersama Toyota. Kasihan kalau mereka juga menderita. Karena itu kami sangat keberatan jika pemegang saham baru Astra akan memecat manajemen TAM. Hal itu telah kami sampaikan kepada pemegang saham baru, kepada Pemerintah, dan Bank Indonesia. Kami telah menghabiskan 20 tahun untuk mengembangkan manajemen TAM. Kami cenderung memelihara sumber daya manusia ini daripada menjual saham Toyota di TAM. (Tanaka: Bagaimanapun juga, janganlah mengganti pejabat TAM. Soalnya, banyak manajer muda yang telah dibina manajemen lama. Setelah dibina selama dua puluh tahun, mereka tumbuh sebagai manajer yang andal. Apakah TMC tak pernah memberi nasihat kepada William sebagai mitra bisnis? Yokoi: Masalah William sebetulnya adalah masalah ayah-anak. Terus-terang, Edward Soeryadjaya suka melakukan bisnis dengan sikap yang kelewat optimistis. Saya secara pribadi sejak 15 tahun lalu sering membisikkan kepada William agar mengontrol putranya. Misalnya dengan membatasi bidang bisnis yang mau dikembangkan. Saya heran, kok William terus membiarkannya. (Hasegawa: Saya pun sejak 10 tahun lalu sering memberi nasihat kepada William. Edward juga pernah mengalami krisis, kalau tak salah tahun 1980-an. Toyota Motor Corp. lalu meminta kepada William agar bisnis Edward dipisahkan dari bisnis Astra. Maka lahirlah Summa Group. Edward keluar dari bisnis Toyota, lalu Edwin masuk Astra. Apakah Toyota mau membeli saham Astra? Tanaka: Saya menduga, dalam waktu dekat memang akan ada tawaran itu kepada Toyota. Mungkin tawaran itu akan datang dari para pemegang saham baru, mungkin juga dari pihak bank, atau dari pihak lain lagi. Tampaknya Presiden (Soeharto) pun amat memperhatikan masalah Astra itu. Tapi kami belum tahu bagaimana restrukturisasi yang akan terjadi pada Astra. Bagaimanapun, kami belum berniat mengundurkan diri dari usaha di Indonesia. Kalau diminta membantu Astra, kami bersedia. Tapi kami belum tahu apa keinginan pemegang saham yang baru. Sekarang ini kami belum tahu siapa tokoh sentral pemegang saham baru. Maka tak ada bayangan bagaimana kira-kira bentuk permintaan yang akan ditujukan pada kami. Astra sangat penting sebagai mitra bisnis Toyota Motor Corp. Namun kami sama sekali tak terpikir untuk membeli saham Astra. Ada pendapat mengatakan bahwa Toyota Motor Corp. tak mau membeli saham Astra karena tidak tertarik pada bisnis yang banyak. Itu sama sekali tidak betul. Mungkin saja ada yang bilang Toyota tidak tertarik lagi pada Indonesia karena ada perubahan pemilikan saham Astra. Namun kecemasan itu pun tidak beralasan. Untuk membuktikan hal itu saya kira kami pun harus melakukan sesuatu. Tapi kami belum tahu apa yang dapat kami lakukan karena saat ini memang belum ada permintaan apa-apa dari pihak Indonesia. (Yokoi: Secara realistis Astra adalah sebuah konglomerat besar, sedangkan kami hanya tukang membuat mobil dan tidak tahu bidang usaha lain. Oleh sebab itu tak ada arti bagi kami untuk menyuntikkan modal atau memasukkan orang ke bidang yang tak kami kenal. Maka saya pikir, apabila pemerintah Indonesia dapat menyelesaikan masalah Astra, kami tak usah terlibat. Namun kalau Astra membutuhkan bantuan, demi menjaga kepercayaan pada Astra, kami pun bersedia memikirkan hal-hal yang dapat kami laksanakan. (Hasegawa: Apakah kami memang harus membeli saham Astra atau akuisisi Astra? Astra adalah mitra bisnis Toyota Motor Corp. Harapan kami adalah, Astra terus menjadi mitra kami seperti dulu. Kalau dilihat dari sudut pandang Jepang, Astra adalah perusahaan asing yang bergerak di berbagai bidang yang bukan bidang kami. Seandainya Toyota Motor Corp. mengambil saham Astra, apa nanti kata masyarakat Indonesia? Mereka tentu akan bertanya, ''Kenapa Toyota mau akuisisi Astra.'') Bagaimana prospek bisnis Toyota Astra Motor? Tanaka: Ekspor Toyota Motor Corp. ditambah jumlah mobil yang diproduksi di luar Jepang tahun lalu tercatat 2,46 juta unit. Kira-kira 3% di antaranya diproduksi di Indonesia. Sejak September 1990 blok silinder mesin 5-K buatan Indonesia sudah dipasarkan di Jepang untuk pembuatan mesin pikap Lite Ace (di Indonesia untuk mesin Kijang). Tahun lalu masuk kira-kira 50.000 unit atau kira-kira 5.000 unit sebulan. Ini akan diteruskan. (Hasegawa: Pangsa Toyota di pasar mobil Indonesia sekitar 28%. Pasaran tahun ini tampaknya kurang bagus, mungkin setaraf tahun lalu atau turun sedikit. Departemen Perindustrian tampaknya hendak mengarahkan industri mobil Indonesia ke sistem pasar terbuka seperti di Thailand. Kebijakan ini kami sambut baik. Pemerintah rupanya akan mencabut kewajiban lokalisasi produksi yang tak patut, lalu makin mendorong kompetisi berdasarkan teori ekonomi. Mengapa Toyota Motor Corp. tidak mau memusatkan seluruh roduksi di salah satu negara ASEAN? Tanaka: Sekarang ini ada pasar tunggal Eropa, ada NAFTA (pasar bebas Amerika-Kanada-Meksiko), dan AFTA (perjanjian pasar bebas ASEAN). Tapi Toyota Motor Corp. sudah lebih dulu mengantisipasi hal itu dengan menerapkan kebijakan yang kami sebut CAPS (complimentary auto parts scheme). Dalam pelaksanaannya dilakukan tukar-menukar suku cadang mobil antar-negara ASEAN. Misalnya mesin buatan Thailand, silinder buatan Malaysia, transmisi buatan Filipina, juga mesin buatan Indonesia. Misalnya, Filipina mengekspor transmisi ke Thailand, Malaysia, dan Indonesia. Indonesia mengekspor mesin 5-K ke Malaysia, tapi sebaliknya Indonesia mengimpor steering buatan Malaysia. Itu kami lakukan sejak tahun lalu.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus