Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Mentan Ungkap Sebab Minat Petani Tanam Kedelai Rendah: Tanamannya Manja Banget

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebutkan minat petani lokal untuk menanam kedelai masih rendah dibandingkan komoditas lain seperti jagung.

7 Januari 2021 | 15.56 WIB

Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mencium kedelai yang sedang diolah saat meninjau pabrik pembuatan tempe di Komplek KOPTI Semanan, Kalideres, Jakarta, Kamis, 7 Januari 2021. Secara bersamaan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meluncurkan operasi pasar untuk menekan harga kedelai di pasaran yang saat ini mengalami kenaikan dan dalam operasi pasar ini, kedelai akan dijual ke pengrajin seharga Rp 8.500 per kilogram (kg) dan diupayakan bertahan selama 100 hari ke depan. Tempo/Tony Hartawan
Perbesar
Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mencium kedelai yang sedang diolah saat meninjau pabrik pembuatan tempe di Komplek KOPTI Semanan, Kalideres, Jakarta, Kamis, 7 Januari 2021. Secara bersamaan Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo meluncurkan operasi pasar untuk menekan harga kedelai di pasaran yang saat ini mengalami kenaikan dan dalam operasi pasar ini, kedelai akan dijual ke pengrajin seharga Rp 8.500 per kilogram (kg) dan diupayakan bertahan selama 100 hari ke depan. Tempo/Tony Hartawan

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo menyebutkan minat petani lokal untuk menanam kedelai masih rendah dibandingkan komoditas lain seperti jagung. Salah satu penyebabnya adalah repotnya menanam kedelai karena harus membutuhkan waktu yang lama.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Selain itu, Syahrul menyebut kedelai lebih mudah dihinggapi hama tikus. Selain karena ukuran tumbuhan kedelai di Indonesia yang pendek-pendek dan rasanya juga manis. Walhasil, biaya perawatan pun lebih mahal.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

"Tanamannya manja banget," kata Syahrul dalam acara peluncuran operasi pasar kedelai di sentra produksi kedelai di Komplek KOPTI Semanan, Kalideres, Jakarta Barat, Kamis, 7 Jauari 2021.

Sebelumnya, harga kedelai di pasaran naik dari semula Rp 6.500 menjadi Rp 9.500. Kementerian Perdagangan menyebut penyebabnya adalah harga kedelai internasional yang meningkat, akibat lonjakan permintaan dari Cina ke negara produsen, Amerika Serikat.

Selama ini, ketergantungan Indonesia terhadap impor kedelai memang sangat dominan. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), Indonesia tak kurang mengimpor 2,6 juta ton kedelai pada 2019. Di mana, 2,5 juta berasal dari Amerika Serikat.

Produksi dalam negeri jauh di bawah itu. Menurut data Kementerian Pertanian, produksi untuk 2020 saja hanya 300 ribu ton. Sentra produksinya tersebar di Jawa, Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, dan Sulawesi Barat.

Sebaliknya, kata Syahrul, petani lebih suka menanam jagung yang harganya di pasaran lebih tinggi. Sementara, proses produksinya lebih mudah ketimbang kedelai. "Jagung dilempar (tebar ke kebun), kena hujan sedikit, selesai (langsung tumbuh)," kata dia.

Tapi dalam acara ini, Syahrul berjanji akan tetap menggenjot produksi kedelai dalam negeri akibat adanya kenaikan harga ini. Ia menyebut selama 200 hari ke depan, produktivitas kedelai lokal akan coba ditingkatkan.

Fajar Pebrianto

Meliput isu-isu hukum, korupsi, dan kriminal. Lulus dari Universitas Bakrie pada 2017. Sambil memimpin majalah kampus "Basmala", bergabung dengan Tempo sebagai wartawan magang pada 2015. Mengikuti Indo-Pacific Business Journalism and Training Forum 2019 di Thailand.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus