Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Para pengusaha Cina banyak yang menerapkan filosofi bambu. Prinsipnya adalah mengambil keuntungan sedikit demi sedikit sampai menguasai pasar. Mereka menekan biaya sehingga bisa menghasilkan produk yang memiliki kualitas setara dengan negara pesaing, tapi dengan harga lebih murah. "Kini mereka sedang memperbesar kemampuan manufakturnya," kata Corporate Culture Expert of ACT Consulting, Rinaldi Agusyana.
Para saudagar Tiongkok juga menganggap bisnis sebagai medan perang. Mereka sangat bangga mewarisi dan menjalankan nilai-nilai seni Sun Tzu dan filosofi hidup pohon bambu. Baca: Mau Sukses jadi Pengusaha? Ikuti Langkah Para Saudagar Cina Ini
Rinaldi mengatakan seni Sun Tzu membuat para saudagar itu cepat beradaptasi dengan lingkungan. Dengan demikian, mereka unggul dalam menanggapi perubahan. "Seni ini bicara tentang menjalin relasi, di mana hubungan manusia lebih diutamakan daripada perhitungan bisnis," katanya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dengan menerapkan seni ini, bisnis menjadi lebih manusiawi. Filosofi ini pula yang menyebabkan para saudagar Cina memiliki banyak pelanggan dan hubungan yang erat. Seni ini, kata Rinaldi, mendorong pengusaha menjalankan strategi yang menguntungkan banyak orang. Mereka memilih mengambil keuntungan sedikit tapi dengan jumlah transaksi yang besar.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Rinaldi menuturkan, para profesional Indonesia bisa meniru etos kerja para taipan Tiongkok. "Masyarakat kita memiliki kecerdasan, ketelitian, dan budaya yang baik," kata dia. Rinaldi mencontohkan teknik berdiplomasi orang Indonesia yang disegani bangsa lain. Hanya, kualitas ini jarang disadari dan dimaksimalkan potensinya. Baca: Bayi pada Fase Merangkak, Apa Saja yang Dipelajarinya?
Ia menyebutkan keunggulan tersebut harus dikelola untuk meningkatkan karier. "Di kantor, setiap karyawan harus bekerja dengan tulus dan berkolaborasi untuk keuntungan dan keunggulan bersama. Rekan kerja adalah mitra strategis yang berharga," kata dia. Prinsip harmonisasi dalam berhubungan dengan semua orang termasuk dalam prinsip saudagar Cina.
Hal lain yang dapat disontek dari pengusaha Cina adalah kemampuan menyusun strategi bisnis, menguasai teknologi terbaru, serta mengenali kelemahan diri sendiri dan pesaing. Dia mengatakan seorang profesional kerap gagal mengetahui kelemahan dan kekuatan diri sendiri. Padahal ini adalah kunci untuk mengembangkan potensi diri.
Berikutnya, para pebisnis Cina unggul lantaran mengutamakan kecepatan dan menampilkan diri secara sederhana, menutupi kelebihan untuk membuat lawan lengah, dan melakukan penetrasi pasar tanpa banyak disadari khalayak. "Seperti bisnis telepon seluler merek Cina yang makin disukai pasar, dengan fitur-fitur yang selalu baru, tanpa membuat rilis," kata dia.
Rinaldi mengimbuhkan, syarat utama menerapkan filosofi para saudagar Cina adalah mengenal diri sendiri. Lalu bersedia memberi manfaat terlebih dulu sebelum memetik keuntungan. "Ini adalah filosofi pohon bambu, yang selama lima tahun tidak terlihat tumbuh, tapi kemudian menjulang tinggi dengan cepat," kata dia.Jack Ma, Executive Chairman Alibaba Group dan pendiri Jack Ma Foundation. (Alibaba Group)
Dia mengingatkan profesional agar menahan beratnya tantangan guna membangun diri di awal karier. Tantangan itu antara lain membangun harmoni dengan banyak pihak dan mempelajari banyak hal untuk menjadi pemenang dalam persaingan karier. Tentu saja, persaingan karier harus dilakukan dengan jujur.
Satu lagi filosofi bisnis saudagar Cina yang dalam pandangan Rinaldi layak ditiru adalah menciptakan kestabilan usaha jangka panjang. Karena itu, dia menyarankan profesional tidak hanya mencari pengakuan jangka pendek. "Beri perbaikan, perbuatan baik, dan kualitas terunggul sebagai pengalaman jangka panjang," katanya. Baca: Lindsay Lohan Pakai Hijab, 5 Tokoh Ini Juga Pernah Kenakan Hijab
Rinaldi berujar, seni Sun Tzu tidak mengajari seseorang untuk memenangi laga dengan peperangan. Dalam ajaran Sun Tzu, orang yang unggul adalah yang memenangi 100 perang, tapi orang terhebat adalah orang yang menguasai pasar tanpa perang sehingga tak perlu ada prajurit yang terluka atau menderita.
KORAN TEMPO