Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Umum Perkumpulan Penggilingan Padi dan Pengusaha Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso angkat bicara ihwal temuan beras impor berkutu di gudang Perum Bulog. Menurut dia, temuan itu wajar, tapi harus dikendalikan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Pasti ancaman kutu pun ada. Jadi kalau kemarin ada berita beras berkutu itu ya memang wajar ada, tetapi tidak boleh berlebih dan itu harus dikendalikan,” ujar Sutarto dalam diskusi bertema 'Investasi Pemerintah untuk Cadangan Beras' di Attap Jakarta, dikutip Selasa, 25 Maret 2025.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tak hanya kutu, Sutarto mengatakan, beras berpeluang akan berjamur jika penyimpanan dilakukan dengan tak memadai. Pasalnya, menurut dia, beras atau gabah merupakan barang hidup.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Arief Prasetyo Adi mengatakan, stok beras yang disebut berkutu di gudang Perum Bulog masih dapat dikonsumsi. Tapi beras berkutu itu harus lewati proses fumigasi atau pengendalian hama. "Masih (bisa dikonsumsi), beras kutu itu artinya berarti beras itu tidak mengandung chemical yang berlebihan," ujar Arief kepada Tempo, Kamis, 13 Maret 2025.
Arief menjelaskan, beras di gudang Bulog harus mendapatkan perawatan secara berkala. Perawatan ini dilakukan untuk memastikan beras masih layak untuk disalurkan kepada masyarakat. Adapun jika sudah telanjur berkutu, ujar dia, beras dapat melalui proses fumigasi.
Tapi Arief menjamin Bulog hanya akan menyalurkan beras yang berkualitas kepada masyarakat. Ia meminta Bulog memeriksa seluruh gudang untuk memastikan kondisi stok beras yang mereka simpan.
Temuan beras berkutu diungkap Ketua Komisi IV DPR Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto. Dia menemukan sisa beras impor tahun lalu yang disimpan di gudang Perum Bulog di Yogyakarta sudah tak layak konsumsi. Saat kunjungan di masa reses ke Yogyakarta, ia dan tim meninjau gudang Bulog.
“Di situ kami menemukan masih banyak beras-beras sisa impor yang lalu di dalam gudang Bulog itu yang sudah banyak kutunya," ujar Titiek. Ia meminta kemeterian segera mengelola beras tersebut yang dinilainya sudah tak layak jual.
Menurut Menteri Pertanian Amran Sulaiman, temuan beras yang tak layak konsumsi tak hanya terjadi di Yogyakarta. Ia mengaku mendapatkan laporan Bulog yang mengungkapkan, ada 100 ribu hingga 300 ribu ton dari total 1,9 juta ton stok beras impor di seluruh Indonesia yang tak layak konsumsi.
Sedangkan di Yogyakarta, menurut Amran, ada 10 ton beras tak layak. "Ini sudah masuk dalam list termasuk Jogja, tapi kami tanya lagi kalau bisa dipercepat yang di Yogyakarta itu, Bu. Minta maaf, Bu," ujarnya.