Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Viral Produk Eiger Berlabel Made in China, Sebelumnya Ramai Soal Surat Keberatan ke Youtuber

Brand Eiger kembali ramai diperbincangkan setelah produknya berlabel Made in China viral. Sebelumnya sempat ramai soal surat keberatan ke Youtuber.

4 Mei 2023 | 14.45 WIB

Eiger. Twitter/@eigeradventure
Perbesar
Eiger. Twitter/@eigeradventure

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Brand Eiger kembali ramai diperbincangkan setelah muncul unggahan soal produknya yang berlabel Made in China. Informasi soal produk Eiger berlabel Made In China itu berasal dari unggahan akun Twitter @kegoblogan.unfaedah.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

PT Eigerindo MPI lantas merespons soal produknya yang viral lantaran berlabel Made in China. Kabar itu meluas lantaran Eiger merupakan merek asli Indonesia, tepatnya dari Kota Bandung, Jawa Barat. Sehingga, banyak warganet mempertanyakan keaslian dari produk tersebut.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

"Itu memang original produk Eiger. Kami memang menyediakan produk kegiatan luar ruang yang berasal dari berbagai pemasok, prioritas pemasok tetap dari dalam negeri, sebagian kecilnya dipasok dari pemasok lain dari luar Indonesia" ujar PR Executive Eiger, Shulhan Syamsur Rijal dalam keterangannya pada Selasa,

Berdasarkan nomor artikelnya, kata Shulhan, produk itu adalah produk topi. Shulhan berujar, Eiger kini merupakan perusahaan retail dan distribusi. Sehingga, banyak produk yang dihasilkan oleh pemasok baik dari Indonesia maupun luar Indonesia. 

Ihwal alasan mengambil produk dari luar Indonesia atau impor dari luar negeri, Shulhan mengungkapkan ada beberapa faktor. Biasanya, kata dia, perusahaan terpaksa memasok dari luar negeri karena teknologi dan bahan bakunya belum bisa didapatkan secara masif di Indonesia. 

Dia juga menegaskan alasan Eiger memasok produk dari luar negeri sama sekali bukan karena alasan sumber daya manusia (SDM). Menurutnya, langkah itu hanya berkaitan dengan kualitas bahan yang sesuai standar Eiger. Sebab, ada beberapa produk yang tidak bisa disiapkan di Indonesia. 

Shulhan lantas membeberkan beberapa produk Eiger yang teknologi dan bahannya hanya bisa didapatkan dari luar negeri. Seperti, komponen produk jam tangan Eiger atau pelengkap untuk mendaki gunung, yaitu carabiner. Produk ini, tuturnya, tidak 100 persen buatan dalam negeri.

Kendati demikian, ia memastikan jumlah produk Eiger yang disuplai dari pemasok luar negeri masih sangat kecil. Standar prosedur Eiger pun tetap memprioritaskan pemasok dari dalam negeri. Sementara produk Eiger yang berasal dari impor, mayoritas adalah produk aksesoris atau pelengkap.

Dia juga menggarisbawahi semua produk Eiger akan selalu sesuai dengan standar keberlanjutan yang sudah ditetapkan, mulai dari proses produksi hingga limbah sisa produksi.

"Kami pastikan mayoritas produk EIGER adalah hasil karya anak bangsa," ucap Shulhan.

Ia menuturkan tim riset dan pengembangan teknologi, serta desainer Eiger pun bekerja dari Kantor Pusat Eiger di Jalan Raya Soreang, Kabupaten Bandung. Untuk pemasok, pabriknya tersebar di seluruh Indonesia dan beberapa negara lain.

Sempat ramai soal surat keberatan ke Youtuber

Sebelumnya, brand Eiger juga sempat menjadi buah bibir ketika melayangkan surat keberatan kepada Youtuber Dian Widiyanarko karena mengulas produk perusahaan lewat saluran YouTube “Dunia Dian”. Perusahaan memasalahkan kualitas pengambilan video yang kurang baik sehingga dikhawatirkan mengakibatkan produk yang direkam tampak tak sesuai dengan kondisi aslinya.

Lewat media sosial, Dian menceritakan asal-muasal persoalan tersebut. “Lengkapnya saya tulis di Instagram,” kata Dian kepada Tempo, Kamis, 28 Januari 2021.

Masalah ini bermula saat Dian mengunggah ulasan produk kacamata jenis kerato buatan Eiger berjudul “REVIEW Kacamata Eiger Kerato I Cocok Jadi Kacamata Sepeda” pada 2020. Dalam video berdurasi sekitar 10 menit, Dian mengungkapkan kelebihan kacamata tersebut ketimbang merek internasional.

Dian mengatakan kacamata Eiger memiliki kualitas yang baik dengan harga yang lebih murah. Dian mengaku unggahan itu adalah ulasan jujur alias bukan konten iklan.

Namun, manajemen justru melayangkan surat keberatan atas unggahan video itu. Surat yang ditandatangani HCGA & Legal General Manager Hendra ini dikirimkan pada 23 Desember 2020, namun baru disampaikan kepada Dian melalui surat elektronik pada Januari 2021.

Eiger memasalahkan tiga hal atas video buatan Dian. Pertama, manajemen menilai kualitas video produk kurang baik dari segi pengambilan gambar sehingga dapat menyebabkan produk terlihat berbeda, baik dari sisi warna, bahan, maupun detail.

Kedua, manajemen mempersoalkan adanya suara di luar video yang mengganggu tayangan alias noise sehingga informasi diklaim menjadi tidak jelas. Ketiga, manajemen memasalahkan latar pengambilan video yang kurang layak atau proper. Manajemen pun meminta Dian memperbaiki konten atau menghapusnya.

Dian lantas mengunggah surat resmi Eiger tersebut ke media semua sosialnya, yaitu di Instagram, Twitter, dan Facebook. Dian bercerita bahwa ia kaget terhadap sikap manajemen.

“Saya kan review produk enggak Anda endorse. Kalau Anda endorse atay ngiklan, boleh lah komplen begitu,” ucapnya.

Dian menilai semestinya manajemen berterima kasih atas ulasan tersebut. Sebab, perusahaan memperoleh promosi secara cuma-cuma. Keluhan Dian lantas viral di media sosial.

Selain Dian, sejumlah YouTuber mengaku memperoleh surat serupa. Mereka menerima surat keberatan dari Eiger setelah mengunggah video ulasan terhadap produk perusahaan yang berbasis di Bandung itu.

Permintaan maaf CEO Eiger

Menanggapi kejadian ini, pihak Eiger memberikan klarifikasi. CEO Eiger Ronny Lukito mengkonfirmasi bahwa surat itu benar dikirimkan oleh tim perusahaan kepada youtuber Dian. Ronny kemudian meminta maaf karena sikap timnya tidak tepat.

“Sejatinya maksud dan tujuan awal kami untuk memberikan masukan kepada reviewer agar lebih baik lagi. Tetapi sekali lagi, kami menyadari bahwa cara penyampaian kami salah,” ucap Ronny dalam keterangan tertulisnya.

RIANI SANUSI PUTRI | FRANCISCA CHRISTY ROSANA

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus