Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kesehatan

Bahaya Menelan Klorat Bagi Kesehatan Tubuh

Senyawa klorat yang ditemukan pada produk Coca Cola bisa membahayakan kesehatan tubuh apabila melebihi kadar maksismum bahan pangan

1 Februari 2025 | 15.14 WIB

Ilustrasi Coca cola. Pexels/Craig Adderly
Perbesar
Ilustrasi Coca cola. Pexels/Craig Adderly

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Produk Coca Cola yang terdeteksi mengandung klorat diproduksi di pabrik Coca Cola di Ghent, Belgia. Selain Belgia, produk tersebut dikirim ke Belanda, Inggris, Jerman, Prancis, dan Luksemburg.

Senyawa klorat dikaitkan dengan masalah kesehatan serius, terutama di kalangan anak-anak karena dapat mengganggu fungsi kelenjar tiroid.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Badan Federal Belgia untuk Keamanan Rantai Pangan (FASFC) menjelaskan penarikan tersebut dilakukan pada produk yang diproduksi antara 23 November dan 3 Desember 2024. Penarikan tersebut menyangkut minuman dalam kaleng dan botol kaca dengan kode produksi berkisar antara 328 GE hingga 338 GE.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Klorat berasal dari desinfektan klorin yang digunakan dalam pengolahan air dan makanan. "Klorat berasal dari disinfektan klorin yang banyak digunakan dalam pengolahan makanan dan pengolahan air," bunyi laporan perusahaan pada Selasa, 28 Januari 2025, dikutip dari Euronews.

Apa itu klorat?

Dilansir dari DW, klorat adalah garam dari asam klorat, senyawa yang mengandung klorin dan oksigen, yang dikenal juga sebagai asam okso atau asam oksi.

Klorat dapat muncul sebagai produk sampingan dari disinfektan berbasis klorin yang digunakan dalam produksi makanan dan minuman, termasuk pertanian. Disinfektan semacam itu dapat digunakan untuk membersihkan sistem air, tetapi dapat meninggalkan residu klorat dalam produk.

Natrium dan kalium klorat telah digunakan dalam pestisida tetapi sekarang dilarang di Uni Eropa. Sementara itu, di Amerika Serikat, natrium klorat diizinkan. Sebuah memorandum yang diterbitkan pada 2020 oleh Badan Perlindungan Lingkungan AS menyatakan belum ada kekhawatiran terkait pestisida.

Bahaya mengonsumsi klorat

Melalui pernyataannya kepada media, perusahaan Coca Cola mengatakan tingkat klorat yang ditemukan dalam makanan dan minuman merupakan hal umum. Selain itu, analisis ahli yang independen menyimpulkan bahwa risiko yang terkait dengan konsumen sangat rendah.

Namun, dalam sebuah studi tentang risiko kesehatan masyarakat terkait keberadaan klorat dalam makanan pada 2015, Otoritas Keamanan Pangan Eropa (EFSA) menyatakan bahwa paparan kronis terhadap klorat dapat menyebabkan terhambatnya asupan yodium.

Lebih lanjut, menurut German Federal Institute for Risk Assessment (BfR), asupan yodium yang terhambat pada manusia, dapat menyebabkan perubahan sementara pada kadar hormon tiroid pada kelompok berisiko tinggi. Namun penghambatan asupan yodium melalui klorat bersifat reversibel.

Adapun, EFSA sebelumnya telah membatasi kadar klorat sebesar 0,01 milligram untuk semua produk makanan. Ketentuan ini disebutkan dalam Peraturan (EC) No 396/2005 yang mengatur penetapan dan peninjauan batas residu maksimum (MRL) klorat di tingkat Eropa.

Komisi Eropa juga menerbitkan dua peraturan baru pada musim panas 2020. Peraturan ini menetapkan kadar maksimum klorat dan per-klorat dalam bahan pangan. Kadar maksimum per-klorat yang diizinkan adalah 0,05 miligram.

Di mana lagi klorat ditemukan dalam makanan?

BfR mengatakan bahwa, klorat telah sering terdeteksi dalam sayuran beku, jus buah, selada, dan rempah-rempah. Hal ini karena teknik glazing, pengenceran konsentrat jus, dan pencucian sayuran dengan air yang terkontaminasi.    

Klorat juga terdeteksi dalam air minum. Menurut EFSA, air minum adalah sumber utama klorat dalam makanan, yang mungkin berkontribusi hingga 60% dari paparan klorat kronis untuk bayi.

Adapun, WHO telah mengusulkan maksimum 0,7 mg klorat per liter agar aman untuk dikonsumsi.

Khumar Mahendra berkontribusi dalam penulisan artikel ini.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus