Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Psikiater Santi Yuliani mengatakan pengalihan rasa panik bisa dilakukan melalui metode memfokuskan perhatian ke indera perasa seperti memakan permen.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Metode lebih simpel bisa distraksi melalui metode merasakan permen. Taruh permen apapun itu, yang penting rasanya cukup kuat sehingga memang bisa dianalisis, mungkin asam atau sifatnya pedas atau mint," ucapnya.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Distraksi dengan metode ini disebutnya bisa mengalihkan konsentrasi otak yang sedang panik atau cemas ke area pengecapan atau area rasa. Ketika merasakan permen, otak akan fokus berpikir sehingga energi kecemasan yang tadinya terfokus ke amigdala tidak terlalu banyak sehingga menurunkan ketegangan. Amigdala adalah bagian dalam anatomi otak yang berhubungan dengan proses emosi, perilaku, dan memori.
"Apakah bisa langsung tenang, enggak juga. Tapi paling enggak kepanikannya tidak terlalu signifikan," katanya.
Menurutnya, cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan rangsangan fisik seperti memijit area antara jempol dan telunjuk. Pengalihan nyeri ini bisa memberikan efek nyeri pada fisik sehingga otak menganggap ada bahaya lain yang perlu direspons. Rangsangan ini akan membuat otak menganalisis bahaya yang jelas dan terlihat dibanding bahaya mental yang tidak terasa.
"Jadi pencet di antara jempol dan telunjuk, dilakukan secara ritmik 10 sampai 15 menit. Akhirnya otak berpikir ada bahaya lain yang perlu kita tindaklanjuti," lanjutnya.
Konsultasi ke ahli
Santi mengatakan terjadinya ovethinking atau berpikir terus menerus ini biasanya karena kurangnya referensi untuk menyelesaikan masalah. Karena itu diperlukan konseling dengan psikolog atau tenaga ahli.
"Ketika kita bicara tentang overthinking, ini terjadi karena referensi penyelesaiannya mungkin terbatas. Tujuannya datang konseling dengan psikolog atau datang ke psikiater bukan buat dicarikan solusinya tapi dikasih referensi," jelas Santi.
Kekurangan referensi ini juga bisa menimbulkan keputusasaan karena dirasa tidak bisa menyelesaikan masalah yang dihadapi. Sehingga korteks prefrontal atau otak bagian logika tidak bisa membantu meredakan kepanikan karena kurangnya referensi menyelesaikan masalah.
"Itulah fungsinya membaca, berkonsultasi, dan kemudian mengerem banjir informasi dengan memilih sumber yang terpercaya. Jadi prefrontal cortex atau otak bagian logika ini betul-betul punya cukup modal untuk menenangkan amigdala," ucapnya.
Santi pun menjelaskan ciri-ciri orang yang memikirkan masalah terus menerus adalah gangguan tidur, emosi tidak stabil, nafsu makan terganggu, dan terburu-buru mengambil keputusan.
"Jadi, perhatikan perubahan kecil-kecil apakah ada masalah dalam tidur, apakah mulai masalah merespons pembicaraan dengan orang atau informasi, apakah jadi lebih mudah terburu-buru mengambil keputusan, atau termasuk nafsu makan akhir-akhir ini bermasalah atau tidak. Kalau iya, kemungkinannya sudah masuk kategori yang perlu dievaluasi," papar Santi.
Dokter yang praktik di RSJ. Prof. Dr. Soerojo Magelang ini mengatakan jika mengalami masalah yang membuat berpikir terus menerus, disarankan untuk mencoba menolong diri sendiri dengan melihat video atau membaca mengenai referensi penyelesaian masalah.