Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Awal bulan Ramadan dan Idul Fitri ditentukan oleh ada atau tidaknya hilal. Sebenarnya apa itu hilal dan bagaimana cara melihatnya?
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pilihan Editor: Menag: Pengumuman Penetapan 1 Ramadan 1446 H Telat karena Menunggu Pengamatan Hilal di Aceh
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sebagai informasi hilal adalah bulan sabit pertama yang muncul setelah konjungsi (ijtimak) dan menjadi acuan dalam penanggalan Islam. Penentuan hilal dilakukan dengan melaksanakan rukyat hilal yang biasanya dilakukan oleh Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) serta Kemenag.
Untuk penentuan hilal awal Ramadan 2025, BMKG akan melakukan rukyat hilal hari ini, Jumat, 28 Februari 2025 dengan mendatangi 37 titik lokasi di Indonesia. Sedangkan, kemenag melaksanakan pemantauan hilal di 125 lokasi di seluruh Indonesia.
Apa Itu Hilal?
Mengutip dari akun Instagram Observatorium Astronomi ITERA Lampung (OAIL), hilal adalah bulan sabit muda yang pertama kali terlihat setelah konjungsi (ijtimak) dalam siklus bulan. Hilal menandai awal bulan baru dalam kalender Hijriah, yang digunakan umat Islam untuk menentukan waktu ibadah, termasuk awal Ramadan, Syawal (Idul Fitri), hingga Dzulhijjah (Idul Adha).
Ketika konjungsi terjadi, bulan yang tidak menghadap bumi tidak mendapatkan cahaya matahari. Hal ini membuat bulan tidak terlihat dan disebut sebagai bulan baru. Lalu, setelah melewati masa konjungsi, sebagian kecil permukaan bulan akan terkena cahaya matahari dan membentuk hilal yang menandakan awal bulan pada kalender hijriyah.
Bentuk hilal sangat tipis dan memiliki cahaya yang redup. Oleh sebab itu, biasanya digunakan alat bantu seperti teleskop agar lebih akurat.
Cara Melihat Hilal
Untuk melakukan rukyat hilal atau pemantauan hilal, bisa menggunakan alat bantu seperti teleskop atau bisa juga dengan mata telanjang.
Hilal biasanya akan lebih mudah terlihat setelah matahari terbenam. Hal ini karena pancaran cahaya dari hilal sangat redup serta ukurannya tipis, sehingga akan lebih terlihat dengan jelas saat matahari terbenam.
Selain menggunakan metode rukyat hilal, penentuan hilal juga bisa menggunakan metode hisab, yakni menggunakan perhitungan matematis dan astronomi untuk menentukan posisi hilal tanpa harus melihat langsung. Hisab biasanya digunakan sebagai pedoman, terutama jika cuaca mendung atau hilal sulit diamati.
Di banyak negara, termasuk Indonesia, metode rukyat dan hisab sering dikombinasikan. Jika hisab menunjukkan kemungkinan hilal bisa terlihat dan rukyat membuktikannya, maka awal bulan baru ditetapkan.