Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kesehatan

Mengenal Hemofilia, Penyakit Kelainan Darah yang Bisa Berakibat Fatal

Hemofilia atau penyakit kelainan darah terjadi karena darah tidak dapat membeku seperti seharusnya dan akibatnya bisa fatal.

27 Februari 2021 | 16.19 WIB

Hidup Normal dengan Hemofilia
Perbesar
Hidup Normal dengan Hemofilia

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Hemofilia atau penyakit kelainan darah terjadi karena darah tidak dapat membeku seperti seharusnya, bisa menyebabkan penderitanya mengalami episode perdarahan yang lama dan bahkan tidak terkendali akibat benturan ringan ataupun pendarahan spontan.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ketua Himpunan Masyarakat Hemofilia Indonesia (HMHI), Prof. dr. Djajadiman Gatot, mengatakan, kondisi yang sebagian besar diturunkan secara genetik melalui anak laki-laki ini bisa menyebabkan cacat fisik permanen, termasuk kerusakan sendi hingga kematian penderitanya.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

"Hemofilia merupakan suatu kelainan perdarahan yang diturunkan secara genetik dan penyandanganya bisa mengalami perdarahan tanpa atau dengan trauma. Biasanya apabila dengan trauma menandakan penyandangnya mengalami penyakit cukup berat dan jika tidak ditangani bisa menyebabkan cacat fisik permanen atau bahkan berakibat kematian," tuturnya.

Laman Healthline mencatat orang dengan hemofilia dapat mengalami pendarahan spontan atau internal dan seringkali mengalami nyeri, sendi bengkak karena pendarahan pada sendi. Pada anak-anak dengan hemofilia, gejala-gejala ini dapat terjadi sekitar usia 2 tahun. Lebih lanjut, perdarahan spontan dapat menyebabkan sejumlah masalah, antara lain darah dalam urin dan tinja, gusi berdarah, sering mimisan, dan persendian yang kencang.

Namun, apabila penyakit ini ditatalaksana dengan baik maka kualitas hidup penyandangnya dapat seperti normal. Hanya saja, menurut Djajadiman yang mengambil spesialisasi anak di Departemen Medik Ilmu Kesehatan Anak RSCM itu, masih ada sejumlah hambatan dalam pengobatan hemofilia di Indonesia, salah satunya biaya yang relatif sangat mahal.

Walau begitu, pengobatan saat ini didukung melalui jaminan kesehatan nasional sehingga penderita hemofilia di Indonesia dapat memperoleh pengobatan faktor pembekuan yang dibutuhkan meskipun jumlahnya masih terbatas.

Di sisi lain, masih banyak penyandang hemofilia yang diobati di bawah standar pengobatan sehingga masih banyak pasien mengalami kerusakan sendi ataupun perdarahan berat yang berisiko kematian.

"Salah satu penyulit penanganan hemofilia adalah terbentuknya inhibitor yang menetralisir faktor pembekuan sehingga membutuhkan pengobatan lain yang harganya menjadi jauh lebih mahal," kata Djajadiman.

Di samping itu, pemberian profilaksis atau prosedur kesehatan untuk mencegah penyakit seperti yang dilakukan di negara lain belum dapat dilaksanakan. Diagnosis hemofilia melalui Parameter Prothrombin Time (PT) dan Activated Partial Thromboplastin Time (APTT) untuk mengevaluasi kelainan perdarahan saat ini baru bisa dilakukan di RSUD, lalu pemeriksaan faktor pembekuan di rumah sakit besar harganya cukup mahal, terutama apabila ada tambahan seperti MRI.

Secara statistik diperkirakan terdapat sekitar 20.000-25.000 penyandang hemofilia di Indonesia. Namun baru 2.300 pendderita atau 10 persen pasien yang terdiagnosis dan mendapatkan pengobatan.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus