Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
CHATGPT meluncurkan fitur dalam model GPT-4o. Fitur ini memungkinkan pengguna menghasilkan gambar dalam berbagai gaya artistik, termasuk animasi gaya Studio Ghibli. Sejumlah pengguna media sosial membagikan hasil karya AI ini mengunggah foto pribadi, hewan peliharaan, hingga pemandangan yang telah diubah menjadi ala film buatan Hayao Miyazaki, animator pencipta gaya tersebut. Namun di balik kepopulerannya, fitur ini menuai kontroversi. Penggunaan AI dalam pembuatan gambar tersebut dinilai berpotensi melanggar hak cipta dan berdampak terhadap seniman.
Karier Hayao Miyazaki
Hayao Miyazaki pendiri Studio Ghibli. Ia salah satu sutradara animasi paling berpengaruh di Jepang. Dikutip dari Visual Paradigm, ayahnya Miyazaki merupakan direktur di Miyazaki Airplane perusahaan manufaktur yang memproduksi suku cadang untuk pesawat tempur Zero. Setelah meraih gelar di bidang ekonomi dari Universitas Gakushin pada 1963, ia memulai karier sebagai animator pemula di Tei Animation, divisi dari studio Tei yang dikenal sebagai produsen animasi terbesar di Asia.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Saat berkarier di Tei Animation, Miyazaki bekerja sebagai animator in-between sebelum akhirnya berkolaborasi dengan sutradara Isao Takahata. Beberapa film terkenal yang melibatkan kontribusinya di Tei antara lain Doggie March dan Gulliver's Travels Beyond the Moon. Ia juga mengerjakan animasi kunci untuk film lain di studio tersebut, seperti Puss in Boots dan Animal Treasure Island. Pada 1971, ia pindah ke A-Pro dan bersama Takahata turut menyutradarai Lupin the Third Part I.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dikutip dari IMDb, pada 1978 Miyazaki menyutradarai serial televisi pertama Future Boy Conan. Setahun setelah itu ia bergabung dengan Tokyo Movie Shinsha dan menggarap film debutnya sebagai sutradara Lupin III: The Castle of Cagliostro (1979). Pada 1984, ia merilis Nausicaa of the Valley of the Wind yang diadaptasi dari manga berjudul sama yang telah ia mulai dua tahun sebelumnya. Kesuksesan film tersebut mendorong pendirian Studio Ghibli sebagai studio animasi baru.
Pada tahun berikutnya, film Tenk no Shiro Rapyuta (Castle in the Sky) karya Miyazaki dirilis di Jepang. Adapun Nausicaa diperkenalkan ke pasar Amerika Serikat dengan judul Warriors of the Wind. Meskipun adegan udara dari versi aslinya tetap dipertahankan, penyuntingan yang tidak beraturan serta dubbing yang buruk membuat Warriors of the Wind sulit dinikmati. Akibatnya butuh lebih dari satu dekade sebelum Miyazaki mempertimbangkan kembali untuk merilis filmnya dalam versi Barat.
Miyazaki terus menyutradarai, menulis, dan memproduksi berbagai film bersama Isao Takahata, serta belakangan bekerja sama dengan Toshio Suzuki. Karya terus mendapat pencapaian komersial terutama Princess Mononoke (1997). Film ini meraih penghargaan setara Academy Award untuk kategori Film Terbaik di Jepang dan, pada saat perilisannya, menjadi film domestik terlaris.
Linda Lestari turut berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Pilihan Editor: Film Animasi Lawas Studio Ghibli