Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Wisata Kreatif Jakarta yang digagas oleh pegiat wisata Ira Lathief menggelar tur napak tilas jejak peninggalan bersejarah Asian Games 1962 pada 23 hingga 26 Agustus. Tur ini bermula di gedung Sarinah, MH Thamrin, dan berakhir di Studio TVRI, Senayan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dalam agenda turnya yang berlangsung selama 3 jam, Ira menjelaskan histori dibalik pembangunan gedung-gedung yang ternyata berhubungan dengan perhelatan Asian Games 56 tahun yang lalu itu. Secara interaktif, Ira pun menanyai pesertanya tentang pengetahuan singkat mereka akan bangunan yang selama ini sudah kesohor sebagai ikon Ibu Kota.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Mengapa patung Selamat Datang di Bunderan Hotel Indonesia ini menghadap ke utara?” ujarnya saat memandu rombongan tur melintas monumen patung Selamat Datang di Jakarta Pusat, Kamis sore, 23 Agustus 2018.
Sejumlah peserta tampak menggeleng. Ira menjelaskan, patung itu menghadap ke sisi utara bukan lantaran di arah tersebut terdapat Monumen Nasional (Monas). “Monas bukan dibangun dalam rangka Asian Games,” ujar Ira.
Jawaban paling tepat, kata dia, ialah lantaran patung dua pemuda yang mengacungkan tangannya ini merepresentasikan bangsa Indonesia yang ramah saat menyambut para atlet yang datang dari Bandara Kemayoran.
Saat itu, ribuan atlet yang datang ke Indonesia akan mendarat di bandara tersebut. Letak bandara itu tepat di sisi utara kawasan MH Thamrin. Para atlet yang saat itu akan diinapkan di Hotel Indonesia—yang letaknya tepat di samping monumen Selamat Datang—pun akan langsung disambut keberadaan patung ketika mendarat di Indonesia.
Bandara Kemayoran sebelumnya mulai beroperasi pada 8 Juli 1940. Lantas ditutup pada 31 Maret 1985. Ini adalah bandara pertama di Indonesia yang dibuka untuk penerbangan internasional.
Sementara itu, jalan dari Bandara Kemayoran menuju kawasan MH Thamrin juga disiapkan untuk Asian Games. “Khususnya jalan MH Thamrin yang lebar itu dulunya hanya kecil. Tapi didesain untuk menjadi kawasan pusat perekonomian dengan jalan lebar saat akan Asian Game,” tutur Ira.
Adapun patung Selamat Datang itu merupakan gagasan Sukarno. Sukarno berpesan pada sang perupa, Edhi Sunarso, untuk memahat patung itu dari perunggu.
Patung Selamat Datang eksis sampai sekarang. Keberadaannya menjadi ikon yang acap tak lepas dari bidikan kamera para turis. Patung Selamat Datang yang berdiri setinggi 9 meter itu kini tampak dikelilingi bangunan-bangunan gergasi pencakar langit. Bahannya yang terbuat dari perunggu tak lekang kemakan zaman bersama ideologi Bung Karno yang hidup. Tentu saja warnanya belum luntur.
Seorang atlet dari Tajikistan, Umedzhon Khudoyarov , menyatakan kekagumannya terhadap patung tersebut. Atlit cabang panahan ini sempat melihatnya saat berbelanja di Grand Indonesia yang tak jauh dari kawasan patung bbrapa waktu lalu.
Semula dia mengira patung itu baru dibangun menjelang Asian Games 2018 ini. Tapi saat pemandunya menjelskan bahwa patung tersebut khusus didirikan menjelang Asian Games 1962, ia tak menyembunyikan ketakjubannya. “Hebat sekali,” kata dia seperti dikutip Antara.