Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Mataram - Sebulan lagi Festival Pesona Tambora (FPT) 2018 akan berlangsung di pulau Sumbawa. Memperingati 203 tahun meletusnya Gunung Tambora, Dinas Pariwisata Nusa Tenggara Barat bersama Dinas Pariwisata se-pulau Sumbawa menyiapkan kegiatan dimulai dari lari ekstrem 320 kilometer.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Lomba lari Chalenge Tambora dimulai dari Poto Tano hingga Doro Ncanga di kaki gunung Tambora. Kegiatan ini masuk dalam kegiatan kalender pariwisata nasional yang dimulai diselenggarakan sejak 11 April 2015.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Taman Nasional Gunung Tambora juga menyiapkan penyelenggaraan Wana Trail ke desa-desa lingkar Tambora. Tahun ini adalah penyelenggaraan kedua Wana Trail yang diperkirakan diikuti 50 orang penggemar motor trail. Waktu tempuh Wana Trail adalah empat hari. Spot-spot wisata yang disinggahi adalah air terjun, makam kuno, kebun kopi, dan situs lainnya.
Kepala Taman Nasional Gunung Tambora, Agus Budi Santosa, menjelaskan di lokasi ini ada lima jalur pendakian. Di antaranya pintu pendakian Piong yang bisa ditempuh menggunakan motor dan satu jam berjalan kaki menjelang puncak. ''Pendakian melalui Piong menggunakan motor itu legal,'' kata dia, Selasa, 13 Maret 2018.
Ketua Ikatan Motor Indonesia NTB, Muhammad Nur Haedin alias Edo, juga mengabarkan adanya rencana 1.000 orang anggota Indonesia Max Owner (IMO) se-Indonesia yang akan meramaikan Festival Pesona Tambora 2018 di Doro Ncanga. ''Mereka juga akan kami ajak singgah ke Pantai Sarae Nduha di Pekat,'' ujar Edo seusai survei lokasi di Dor Ncanga, Selasa, 13 Maret 2018.
Setelah Festival Pesona Tambora, peserta perjalanan IMO itu akan disebar tujuan kunjungannya ke Pantai Pink di selatan Lombok Timur dan Sembalun di lembah Rinjani utara Lombok Timur. Ada juga ke Lombok Tengah, mereka mendatangi sport paralayang di Gunung Tunak dan kawasan wisata Mandalika.
Kepala Tata Usaha Taman Nasional Gunung Tambora Deny Rahadi menjelaskan sebelum ditetapkan sebagai taman nasional, sejak 1937, status Tambora adalah kawasan konservasi yang terdiri dari cagar alam (23.840,81 hektare), suaka margasatwa (21.674,68 hektare), dan taman buru (26.130,25 hektar).
Tambora dijadikan taman nasional karena memiliki potensi keanekaragaman hayati yang luar biasa dan merupakan habitat berbagai jenis satwa. Bagi masyarakat internasional, Tambora merupakan kiblat untuk penelitian dampak perubahan iklim. Akibat erupsinya yang memuntahkan lava hingga 100 kilometer kubik dan semburan debu 400 kilometer kubik dengan ketinggian 44 kilometer dari permukaan tanah, membuat Eropa dan Amerika Utara pada 1816 mengalami tahun tanpa kehangatan akibat partikel debunya yang menghalangi sinar matahari.
Peneliti LIPI juga berhasil mendata hewan di Tambora seperti kupu-kupu malam (230 jenis), burung (46 jenis), kelompok tawon (27 jenis), reptil (21 jenis), mamalia (10 jenis), kalajengking (10 jenis), dan amfibi (4 jenis) di taman ini.
SUPRIYANTHO KHAFID
Artikel Lain: Animo Pendakian Gunung Tambora Meningkat
Artikel Lain: