Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Hukum

KSAD Jenderal Dudung Sebut Jumlah Kekuatan TNI Angkatan Darat Belum Ideal

KSAD Jenderal Dudung mengatakan jumlah personel TNI AD masih berjumlah 76 persen atau 400 ribu dari jumlah personel ideal dari segi kekuatan.

22 Mei 2023 | 15.29 WIB

Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Dudung Abdurachman saat wawancara dengan Tempo di ruang kerjanya, Markas Besar TNI Angkatan Darat, Gambir, Jakarta Pusat, Senin, 14 Mei 2023. [Tempo/Eka Yudha Saputra]
Perbesar
Kepala Staf TNI Angkatan Darat Jenderal Dudung Abdurachman saat wawancara dengan Tempo di ruang kerjanya, Markas Besar TNI Angkatan Darat, Gambir, Jakarta Pusat, Senin, 14 Mei 2023. [Tempo/Eka Yudha Saputra]

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Staf Angkatan Darat Jenderal Dudung Abdurachman mengatakan segi kekuatan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat atau TNI AD masih belum ideal.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

Pasalnya, kata Dudung, saat ini jumlah personel TNI AD masih berjumlah 76 persen atau 400 ribu dari jumlah personel ideal dari segi kekuatan. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

“Idealnya hampir 500 ribu. Tapi yang ideal itu harus sebanding dengan anggaran,” kata Dudung saat ditemui Tempo di kantornya di Markas Besar AD di Jakarta Pusat, Senin 15 Mei 2023.

Dudung mengungkapkan penyebab kurangnya jumlah personel dari garis ideal karena masalah anggaran. Sebab, kata dia, porsi anggaran masih banyak dialokasikan untuk belanja pegawai dan biaya rutin. Ia mengakui ada keterbatasan anggaran pada batalion dan komando daerah militer. 

Alutsista (alat utama sistem persenjataan) juga sama. Kami menyesuaikan anggaran,” ujarnya. 

Dudung mengatakan sekitar 60 persen alutsista untuk Angkatan Darat. Namun ia menuturkan jumlah itu pun tidak cukup banyak. 

Di tengah keterbatasan anggaran tersebut, Dudung berupaya melakukan efisiensi dan apa yang dia sebut mengembalikan TNI Angkatan Darat pada trahnya. Salah satu yang ia lakukan adalah penerimaan Sekolah Staf Komando Angkatan Darat (Seskoad) harus melalui seleksi ketat. Sebab, kata dia, hal ini berpengaruh pada pola pembinaan.

“Sebelum saya memimpin, tidak ada seleksi sehingga begitu mudahnya (orang masuk Seskoad). Akhirnya, mereka (lulusan Seskoad) mengajukan tuntutan, dong. "Saya sudah sekolah, saya minta (pangkat) kolonel, jabatan." Kalau sebelumnya, seperti zaman Pak Mulyono (KSAD 2015-2018), ada seleksi,” papar Dudung.

Selain di level menengah, Dudung juga menyerahkan wewenang werving (pengarahan dan penerimaan personel TNI) kepada Panglima Komando Daerah Militer. “Kalau untuk taruna kan kewenangannya di KSAD,” ujarnya. 

Dudung menyebut dampak kebijakannya, salah satunya adalah agar tidak terjadi anggota menumpuk di level menengah. Sebab, kata dia, seleksi Seskoad tidak mudah dan butuh persiapan meliputi fisik dan jasmani, kemudian kesehatan, akademik, dan psikologi. 

“Persiapan untuk ke Seskoad tidak saat seseorang berpangkat mayor. Saya saja dari letnan satu sudah mempersiapkan akan ke Seskoad saat nanti berpangkat mayor,” kata Dudung. 

EKA YUDHA SAPUTRA | ABDUL MANAN | SETRI YASRA | IWAN KURNIAWAN | ANTON APRIANTO

Eka Yudha Saputra

Eka Yudha Saputra

Alumnus Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia. Bergabung dengan Tempo sejak 2018. Anggota Aliansi Jurnalis Independen ini meliput isu hukum, politik nasional, dan internasional

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus