Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Aristokrat Eropa Beli Lahan Peternakan di Selandia Baru, Kenapa?

Dua aristokrat Eropa membeli lahan peternakan sapi dan domba di Selandia Baru untuk dijadikan hutan.

14 Oktober 2019 | 20.01 WIB

Image of Tempo
Perbesar
Salah satu lahan peternakan di Selandia Baru. Independent.ie

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Auckland – Seorang aristokrat keturunan Austria dan Jerman membeli lahan perkebunan di Selandia Baru untuk ditanami pohon pinus sebagai bagian dari program penghijauan.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Kantor Investasi Luar Negeri atau OIO Selandia Baru telah menyetujui rencana aristokrat Eropa Johannes Trauttmansdorff – Weinsberg dan keluarga Gemmingen – Hornberg untuk membeli perkebunan domba dan sapi di daerah Wairarapa dan Wairoa.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

“Trauttansdorff – Weinsberg membeli 1000 hektar lahan di Bushgrove dan Glentarn Station senilai 4.2 juta dolar Selandia Baru atau sekitar Rp37 miliar,” seperti dilansir Stuff pada Senin, 14 Oktober 2019.

Sedangkan keluarga Gemmingen – Hornberg dari Jerman membeli lahan 736 hektar lahan pertanian dekat daerah Wairoa senilai $6.7 juta atau sekitar Rp59 miliar.

Trauttmansdorff – Weinsberg memiliki garis keturunan ke kalangan bangsawan pada abad 16. Dia mewarisi bisnis pertanian dan kehutanan dari keluarganya pada 1990. 

Dia mendirikan perusahaan kincir angin pada 1994 dan dianggap sebagai perintis bisnis listrik menggunakan teknologi ini.

Perusahaannya ImWind Group merupakan perusahaan pembangkit listrik tenaga angin terbesar di Austria dengan investasi sampai 1.2 miliar dolar Selandia Baru dan menyuplai sekitar satu juta pelanggan.

Sedangkan keluarga Gemmingen – Hornberg dari Jerman telah berinvestasi pada hutan di Selandia Baru sejak 18 tahun terakhir. Sebelumnya, keluarga ini telah membeli area hutan di dekat lahan yang baru dibelinya yaitu di sekitar area pertanian Whaitirinui Farm.

Ada rencana untuk mengembangkan hutan di Selandia Baru ini dengan tujuan komersil dan mempertahankan sebagian area untuk hutan alami dan tumbuhan lokal.

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus