Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta -Kabar gembira bagi jutaan buruh di Jerman setelah serikat buruh metal, IG Metall, berhasil menggolkan kesepakatan untuk mengurangi jam kerja menjadi 28 jam per minggu. Buruh juga mendapat kenaikan gaji yang besar.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
IG Metall melakukan negosiasi dengan perwakilan lebih dari 700 perusahaan di kawasan barat daya Jerman. Kesepakatan ini diperkirakan akan berdampak pada seluruh industrI Jerman.
Baca: Jerman Hentikan Ekspor Senjata ke Negara Terlibat Perang Yaman
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Ini standar bagi setiap orang," kata Megan Greene sebagai kepala ekonom di Manulife Asset Management, seperti dikutip dari CNN.COM, 7 Februari 2018.
IG Mettal sebenarnya menegosiasikan jam kerja yang lebih fleksibel. Selain 28 jam per minggu, pekerja juga dapat memilih opsi 35 jam per minggu, hingga 40 jam per minggu.
Serikat buruh IG Mettal juga berhasil menyepakati kenaikan gaji para buruh sebesar 4.3 persen yang berlaku mulai April mendatang.
Pengurangan jam kerja menjadi 28 jam per minggu bertujuan agar buruh punya waktu luang untuk merawat anak-anak mereka atau sanak saudara mereka. Konsekwensinya, upah akan dikurangi karena jam kerja yang berkurang.
Baca: Perayaan Tahun Baru 2018, Polisi Jerman Buat Zona Aman Perempuan
Kesepakatan pengurangan jam kerja telah menarik minat perusahaan top Jerman lainnya seperti Mercedez-Benz yang juga memberi opsi bekerja 28 jam per minggu untuk selama 2 tahun dan kemudian tahun berikutnya kembali ke jam kerja sebanyak 35 jam per minggu.
Kesepakatan ini juga dinikmati para pekerja yang tidak bernaung di serikat pekerja. Penyebabnya, perusahaan-perusahaan lainnya juga menginginkan hal yang sama diberlakukan di perusahaannya.
"Anda dapat memperkirakan kesepakatan serupa muncul di sektor lain dan kawasan lain," kata Famke Krumbmuller, mitra di OpenCitiz, konsultan resiko politik.
Para pekerja di Jerman mengambil keuntungan ini dari rendahnya pengangguran dan pertumbuhan ekonomi yang kuat.
Contohnya, Daimler menawarkan seluruh karyawannya jam kerja fleksibel mulai tahun 2019.
Baca: AfP, Partai Neo-Nazi Akhirnya Masuk Parlemen Jerman
Bosch yang memperkerjakan 138 ribu orang di Jerman, akan menawarkan kenaikan upah dan tunjangan kepada mayoritas pekerja di Jerman. Perusahaan ini menyakini jam kerja fleksible tidak akan menimbulkan masalah.
"Bosch sudah memiliki sekitar 100 model jam kerja brbeda untuk memastikan keseimbangan kerja dan hidup secara optimal," kata Simon Schmitt, juru bicara Bosch.
Namun tidak semua perusahaan setuju dengan kesepakatan jam kerja fleksibel ini. Sebab, menurut juru bicara Sudwestmetall, Volker Stenmaier, pemangkasan jam kerja akan menimbulkan kekurangan tenaga kerja. Adapun buruh malah banyak yang ingin lembur untuk menghasilkan lebih banyak uang.