Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Profesor matematika Jang Se-yul menutup rapat-rapat rumahnya di Korea Utara. Bersama lima profesor lain, Jang sembunyi-sembunyi menonton Scent of a Man, sebuah drama seri dari Korea Selatan tentang cinta terlarang antara bekas narapidana dan saudari tirinya.
Upaya sembunyi-sembunyi itu sia-sia. Aparat pemerintah tetap memergoki Jang menonton sampai subuh. Akibatnya, jabatan Jang diturunkan jadi pegawai biasa di pusat pembangkit listrik. Jang tak menyesal. Drama yang diperkenalkan murid pascasarjananya itu membuat dia memutuskan menyeberang ke Korea Selatan tujuh tahun lalu.
Kini Jang menjadi pemasok alias penyelundup drama dari Korea Selatan ke Korea Utara. "Saya yakin drama-drama ini berpengaruh pada (pemikiran warga) Korea Utara. Saya buktinya," ujarnya kepada The New York Times, Januari lalu.
Meski plot ceritanya kerap aneh, seperti drama Bad Housewife dan Red Bean Bread, Jang percaya drama Korea Selatan bisa membantu menumbuhkan gerakan antipemerintah. Alasannya, drama dan lagu Korea Selatan, bagian dari "gelombang Korea" (Korean wave/Hallyu), membuat penonton membandingkan negara mereka yang otoriter dengan kehidupan dalam drama.
Drama Korea Selatan menggambarkan kenyamanan hidup di sebuah dunia baru. Penonton Korea Utara menyadari kenyataan berbeda dengan doktrin pemerintah yang puluhan tahun menyebut drama Korea Selatan sebagai racun kapitalisme. "Lewat drama, saya memahami anehnya negara saya, penuh kebohongan," kata Jeon Hyo-jin, salah satu warga Korea Utara yang sudah menonton.
Adegan seperti orang berkencan di kafe, mobil memenuhi jalanan, hingga sekadar dapur yang dilengkapi keran air panas dan dingin bisa menginspirasi penonton. "Perempuan mengenakan pakaian berbeda setiap hari. Tidak seperti kami, memakai jaket tebal yang sama dari hari ke hari," ujar Jeon.
Drama Korea Selatan memenuhi kebutuhan hiburan di Korea Utara yang sangat terbatas. Saluran televisi dan radio hanya menyiarkan instruksi negara. Film-film Korea Utara hanya bercerita tentang kesetiaan kepada pemimpin dan partai. "Negara lebih utama daripada cinta. Kami harus siap mati untuk pemimpin, bla-bla...," kata Jeon. Akhirnya, pada 2013, ketika baru berusia 18 tahun, dia berani terbang ke Korea Selatan.
Penonton lainnya, Kim Seung-hee, juga tersentuh. Perempuan 24 tahun ini saat pertama kali menonton Stairway to Heaven harus kucing-kucingan dengan aparat. Kim terpesona oleh pemeran pria di drama itu, yang menurut dia bersikap sangat menghargai wanita. "Tidak seperti laki-laki yang suka memerintah di sekitar kami," ujarnya, mengacu pada pemeran pria Kwon Sang-woo. Kim jadi mendambakan negara seperti Korea Selatan dan bermimpi bertemu dengan pria seperti tokoh dalam drama.
Bukan cuma Jeon dan Kim yang terpengaruh Hallyu. Penelitian Institut Perdamaian dan Reunifikasi Universitas Nasional Seoul terhadap 149 penyeberang mengungkap setidaknya 8 dari 10 penyeberang pernah menonton drama atau mendengar lagu Korea Selatan. Sebagian besar dari mereka tinggal di wilayah Korea Utara yang berbatasan dengan Cina, jalan masuk penyelundupan barang-barang Korea Selatan.
Celah penyelundupan hiburan ke Korea Utara bermula pada 1990-an, ketika arus informasi ke Korea Utara tertutup ketat. Namun, karena rakyat dilanda kelaparan, pemerintah mengizinkan mereka bepergian ke Cina. Selain mencari makanan, mereka mencari barang untuk dijual di rumah. Di antaranya pita video, CD, DVD, dan perangkat pemutar murah Cina. Semuanya laris di Korea Utara.
Sadar akan "bom waktu" ini, pemerintah Kim Jong-il menugasi tim khusus untuk mendobrak masuk ke rumah-rumah warga dan mengambil DVD dari Korea Selatan. Di masa Presiden Kim Jong-un sekarang, tugas ini diserahkan ke Unit 114 Departemen Propaganda Partai Sentral. Mereka mematikan listrik agar warga tak menonton. Karena itu, pemasok mengakali dengan suplai pemutar DVD bertenaga baterai dan menyimpan drama dalam flash disk.
Meski begitu, penyelundupan tetap bertahan. Persaingan penjualan drama di pasar gelap berjalan seperti biasa. "Sekarang mereka (pembeli Korea Utara) meminta serial drama dan video musik K-pop yang lebih spesifik. Bukan suplai searah lagi," kata Chung Kwang-il, seorang pemasok.
Atmi Pertiwi (The New York Times, Daily NK)
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo