Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Ekuador Umumkan Status Darurat Usai Pembunuhan Kandidat Presiden

Calon presiden Ekuador dibunuh saat sedang berkampanye. Pembunuhan itu membuat Ekuador mengumumkan status darurat.

10 Agustus 2023 | 20.18 WIB

Capres Ekuador Fernando Villavicencio. REUTERS
Perbesar
Capres Ekuador Fernando Villavicencio. REUTERS

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

TEMPO.CO, Jakarta - Ekuador mengumumkan keadaan darurat nasional selama 60 hari sebagai tanggapan atas pembunuhan calon presiden Fernando Villavicencio pada rapat umum kampanye di ibukota, Quito. Villavicencio, 59, seorang kritikus vokal anti-korupsi dan kejahatan terorganisir, tewas dalam acara kampanye pada hari Rabu di tengah melonjaknya kekerasan di negara Andes. 

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100

“Angkatan bersenjata saat ini dimobilisasi di seluruh wilayah nasional untuk menjamin keamanan warga negara, ketenangan negara, dan pemilihan umum yang bebas dan demokratis pada 20 Agustus,” kata Presiden Ekuador Guillermo Lasso, Kamis, 10 Agustus 2023 dalam pidato yang disiarkan di YouTube.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Media lokal melaporkan sekitar 30 tembakan dilepaskan di sebuah acara di utara Quito. Rekaman video yang diunggah di media sosial menunjukkan Villavicencio masuk ke mobil setelah acara tersebut, sebelum terdengar suara tembakan dan teriakan.

“Marah dan kaget dengan pembunuhan calon presiden Fernando Villavicencio. Solidaritas dan belasungkawa saya kepada istri dan putrinya,” kata Lasso di X, platform media sosial yang sebelumnya bernama Twitter.

Kantor jaksa agung mengatakan satu tersangka dalam kejahatan tersebut meninggal karena luka yang dideritanya dalam baku tembak. Kekerasan tersebut melukai sembilan orang lainnya, termasuk seorang calon legislatif dan dua petugas polisi.

Kantor jaksa agung mengatakan telah menangkap enam orang sehubungan dengan kejahatan tersebut selama penggerebekan di Quito. Polisi Ekuador dan Kementerian Dalam Negeri tidak menanggapi konfirmasi atas rincian pembunuhan itu. Namun Lasso memastikan polisi dengan aman meledakkan sebuah granat yang ditinggalkan oleh para pembunuh.

“Ini adalah kejahatan politik, yang bersifat terorisme, dan kami tidak ragu pembunuhan ini merupakan upaya sabotase proses pemilu,” kata Lasso dalam keterangan video lewat tengah malam waktu setempat, usai bertemu dengan petugas keamanan dan pemilu. 

Surat kabar utama negara itu, El Universo, melaporkan bahwa kandidat tersebut dibunuh dengan gaya pembunuh bayaran dan dengan tiga tembakan di kepala. Video yang diunggah di media sosial menunjukkan Villavicencio berjalan keluar usai kampanye dikelilingi oleh penjaga. Video kemudian menunjukkan dia memasuki truk putih diikuti dengan tembakan.

Gambar dan cuplikan video dari rapat umum menunjukkan kekacauan saat orang-orang berlindung di lantai gedung setelah tembakan dilepaskan.

Kantor jaksa agung kemudian mengatakan bahwa seorang tersangka meninggal karena luka-luka yang diterima selama penangkapan.

Patricio Zuquilanda, penasihat kampanye Villavicencio, mengatakan setelah penembakan bahwa Villavicencio telah menerima ancaman pembunuhan sebelum peristiwa itu terjadi. Ia telah melaporkannya kepada pihak berwenang.

Zuquilanda meminta otoritas internasional untuk mengambil tindakan terhadap kekerasan tersebut. Ia menghubungkannya dengan kekerasan yang meningkat dan perdagangan narkoba di Ekuador.

“Rakyat Ekuador menangis, dan Ekuador terluka parah,” katanya. “Politik tidak dapat menyebabkan kematian anggota masyarakat mana pun.”

Villavicencio, dari provinsi Chimborazo di Andean, adalah mantan anggota parlemen, anggota serikat pekerja di perusahaan minyak negara Petroecuador, dan menjadi jurnalis yang mengecam dugaan kerugian dalam kontrak minyak. Dia adalah salah satu dari delapan calon presiden yang terdaftar untuk mencalonkan diri dalam pemilihan yang dijadwalkan pada 20 Agustus.

Pada hari Selasa, Villavicencio membuat laporan ke kantor jaksa agung Ekuador tentang bisnis minyak, namun tidak ada rincian lebih lanjut dari laporannya itu. Villavicencio juga seorang pengkritik vokal mantan Presiden Rafael Correa. Ia pernah dijatuhi hukuman 18 bulan penjara karena pencemaran nama baik atas pernyataannya terakhir. Dia melarikan diri ke wilayah Pribumi di Ekuador dan kemudian diberi suaka di Peru.

Sebagai seorang legislator, Villavicencio juga dikritik oleh politisi oposisi karena menghalangi proses pemakzulan tahun ini terhadap Lasso, yang menyebabkan Lasso menyerukan pemilihan presiden lebih awal.

AL JAZEERA 

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x100
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus