Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Filipina telah memesan dua kapal perang baru dari perusahaan Korea Selatan Hyundai Heavy Industries, kata Menteri Pertahanan Delfin Lorenzana pada Selasa.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Angkatan Laut Filipina tertinggal dengan masih mengandalkan kapal perang tua dalam beberapa puluh tahun terakhir, bahkan masih mengoperasikan kapal perang AS dari Perang Dunia II sampai pendahulu Presiden Rodrigo Duterte, Benigno Aquino, memulai program modernisasi sederhana pada 2010.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Kesepakatan 28 miliar peso (Rp7,8 triliun) pada Selasa dengan raksasa pembuat kapal Korea Selatan itu terjadi lima tahun setelah perusahaan itu juga memenangkan kontrak untuk membangun dua fregat baru untuk Angkatan Laut Filipina, dilaporkan Channel News Asia, 29 Desember 2021.
Korvet dan fregat kecil, kapal perang cepat terutama digunakan untuk melindungi kapal lain dari serangan.
"Proyek ini akan memberi Angkatan Laut Filipina dua korvet modern yang mampu melakukan misi anti-kapal, anti-kapal selam dan anti-perang udara," kata Lorenzana dalam pidato pada upacara penandatanganan di Manila.
Dua korvet akan dikirimkan pada 2026.
Korvet dan fregat adalah kapal perang kecil dan cepat yang terutama digunakan untuk melindungi kapal lain dari serangan. Setiap kapal memiliki berat 3.200 ton dan panjang 116 meter. Kapal jenis ini akan mampu mencapai kecepatan maksimum 25 knot dan kecepatan jelajah 15 knot, dengan jangkauan 4.500 mil laut, menurut IBTimes.
Selain itu, korvet juga akan memiliki delapan peluncur rudal anti kapal, sistem senjata jarak dekat 35 mm, meriam utama 76 mm, dua peluncur torpedo tiga tabung, dan radar Active Electronically Scanned Array (AESA).
Angkatan Laut Filipina baru-baru ini mengakuisisi dua fregat dari perusahaan Korea Selatan dalam kesepakatan yang ditandatangani lima tahun lalu. Manila juga akan memiliki korvet kelas Pohang yang telah dinonaktifkan dari Angkatan Laut Korea Selatan yang diperbaharui dan dikirim ke sana tahun depan.
Untuk mempertahankan diri dari perang Cina, Filipina juga telah mengakuisisi dua kapal bekas penjaga pantai AS dan tiga kapal pendarat dari Australia.
Kapal perang Filipina BRP Sierra Madre bersandar di dekat atol Thomas II yang disengketakan, bagian dari Kepulauan Spratly di Laut Cina Selatan 30 Maret 2014. [REUTERS/Erik De Castro/File Photo]
Kesepakatan ini datang ketika ketegangan antara Cina dan Filipina masih meningkat di Laut Cina Selatan.
Pada November Filipina menolak memindahkan kapal angkatan laut tua yang berlabuh di sebuah atol di Laut Cina Selatan, menolak permintaan Cina untuk memindahkan kapal itu, Reuters melaporkan.
Kapal pendarat tank sepanjang 100 meter dibangun untuk Angkatan Laut AS selama Perang Dunia Kedua.
"Kapal itu sudah ada sejak 1999. Kalau ada komitmen pasti sudah lama disingkirkan," kata Menteri Pertahanan Lorenzana.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri Cina Zhao Lijian mengatakan Beijing menuntut pihak Filipina menghormati komitmennya dan memindahkan kapalnya yang dilabuhkan secara ilegal.
Beting Thomas Kedua, 195 km)dari Palawan, adalah rumah sementara dari kontingen kecil militer di atas kapal berkarat, yang terjebak di karang.
Lorenzana menuduh Cina melanggar kedaulatan Filipina ketika penjaga pantainya mengganggu misi pasokan untuk pasukan.
Cina mengklaim sebagian besar Laut Cina Selatan sebagai miliknya, menggunakan klaim "sembilan garis putus-putus" pada peta yang menurut putusan arbitrase internasional di Den Haag pada 2016 tidak memiliki dasar hukum.
Cina mengklaim hampir semua jalur air Laut Cina Selatan yang dilalui perdagangan triliunan dolar setiap tahun, dengan klaim saling silang dari Brunei, Malaysia, Filipina, Taiwan, dan Vietnam.
CHANNEL NEWS ASIA | IBTIMES | REUTERS