Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Kelompok Houthi di Yaman menembakkan rudal dan berhasil mencapai ibu kota Arab Saudi pada Selasa untuk pertama kali sejak gencatan senjata yang diberlakukan selama pandemi virus corona berakhir bulan lalu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dua ledakan besar bisa terdengar di Riyadh menjelang fajar dan asap mengepul ke langit, menurut laporan Reuters, 23 Juni 2020. Houthi mengatakan mereka telah menyerang kementerian pertahanan Arab Saudi dan pangkalan militer, sementara koalisi militer yang dipimpin Saudi mengatakan mereka telah menembak jatuh rudal Houthi, namun tidak mengatakan target yang diserang rudal itu.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tidak ada tanda-tanda kerusakan di sisi gedung kementerian pertahanan Saudi yang terlihat dari jalan utama atau bangunan di sekitarnya. Daerah itu sepi pada Selasa malam, dengan arus lalu lintas normal dan tidak ada langkah-langkah keamanan tambahan.
Houthi telah berulang kali menembaki Arab Saudi selama konflik, tetapi tidak menargetkan Riyadh sejak akhir Maret, ketika Arab Saudi mengatakan menembak jatuh rudal dan dua warga terluka oleh puing rudal yang jatuh di ibu kota.
Sejumlah rudal dan drone yang dipamerkan dalam sebuah pameran di sebuah lokasi yang tidak diketahui di Yaman pada 9 Juli 2019. Houthi Media Office/Handout via REUTERS.
Pertempuran kedua pihak terjadi setelah gencatan senjata enam minggu pandemi Covid-19 berakhir bulan lalu. Koalisi yang dipimpin Saudi, yang telah berperang melawan Houthi selama lebih dari lima tahun, biasanya menanggapi serangan Houthi dengan serangan udara.
Juru bicara militer Houthi Yahya Sarea mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi bahwa kelompok itu menembakkan beberapa rudal dan drone, yang menggempur markas dan pusat militer di Riyadh, termasuk kementerian pertahanan dan Pangkalan Udara Raja Salman.
Sarea mengatakan serangan juga diluncurkan terhadap situs militer di kota Najran dan Jizan di Saudi selatan.
Belum ada konfirmasi apakah ada rudal mencapai target di Riyadh. Juru bicara koalisi yang dipimpin Saudi, Kolonel Turki al-Maliki mengatakan serangan terhadap Riyadh adalah "aksi permusuhan yang disengaja yang dirancang untuk menargetkan warga sipil". Koalisi juga menembak jatuh tiga rudal menuju Najran dan Jizan dan sejumlah drone, katanya.
Namun, al-Maliki tidak mengomentari target di Riyadh yang disebut telah digempur oleh Houthi.
Sementara di Yaman selatan, bentrokan pecah antara pasukan pemerintah yang didukung Saudi dan separatis selatan, faksi-faksi dalam koalisi anti-Houthi yang saling bertikai, meskipun ada gencatan senjata di antara mereka yang ditengahi oleh Riyadh pada hari Senin.
Lembaga medis Doctors Without Borders mengatakan rumah sakit di pelabuhan selatan Aden menerima lebih dari 20 pasien pada hari Selasa, yang terluka dalam penembakan di provinsi Abyan.
"Pertempuran berlanjut di Yaman bersamaan dengan wabah mematikan COVID19," kicau Doctors Without Borders di Twitter.
Koalisi Arab Saudi melakukan intervensi di Yaman pada Maret 2015 setelah Houthi menggulingkan pemerintah yang didukung Saudi dari ibu kota Yaman, Sanaa, pada akhir 2014 dan konflik ini telah memicu perang proksi antara Arab Saudi dan Iran.