Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Kedutaan Besar Republik Besar Iran di Jakarta mengecam serangan Israel terhadap Gaza, Palestina, yang masih berlangsung hingga saat ini, khususnya sepanjang bulan Ramadan. Iran menyoroti serangan terhadap Gaza itu terjadi ketika warga Palestina tidak memiliki fasilitas dasar untuk berpuasa.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Menurut catatan Kedubes Iran, sekitar 300 warga Palestina, termasuk perempuan dan anak, harus kehilangan nyawa karena serangan Israel. Iran menilai bahwa kejahatan kemanusiaan yang dilakukan Israel dan sekutunya akan menjadi sejarah buruk.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Noda kejahatan ini akan tetap tercatat dalam sejarah sebagai aib abadi bagi rezim tersebut dan para pendukungnya, yang tidak hanya gagal mencegah kezaliman ini, namun juga mendukungnya dengan bantuan militer dan logistik secara penuh," kata pertanyaan resmi Kedubes Iran, Senin, 24 Maret 2025.
Kedubes Iran menilai bahwa peran aktif masyarakat internasional menjadi sangat penting untuk mendukung Palestina. Dia menganggap langkah ini penting mengingat banyak pemerintah dan organisasi internasional yang pasif terhadap kejahatan rezim Zionis serta gagal mengambil langkah nyata untuk menegakkan keadilan bagi rakyat Palestina.
"Peran aktif rakyat dan bangsa-bangsa yang sadar menjadi semakin penting guna menuntut pertanggungjawaban komunitas internasional dan menghadapi rezim penindas ini secara efektif," tulis pernyataan itu.
Secara spesifik, Kedubes Iran turut menyampaikan apresiasi kepada pemerintah dan rakyat Indonesia, yang selama lebih dari tujuh dekade ikut dalam perjuangan melawan pendudukan Israel. Kedubes Iran juga memuji sikap warga negara Indonesia yang berdiri bersama rakyat Palestina dan mendukung mereka sebagaimana rakyat Iran.
Sedikitnya 130 warga Palestina tewas dan 263 orang lainnya terluka dalam serangan Israel di Jalur Gaza selama 48 jam terakhir, kata otoritas kesehatan yang berbasis di Gaza pada Ahad seperti dilansir Antara.
Serangan ini menambah jumlah korban tewas menjadi lebih dari 50.000 orang dan korban luka menjadi 113.213 sejak genosida Israel di Gaza pecah pada awal Oktober 2023, ujar otoritas tersebut.
Pernyataan itu juga menekankan banyak korban jiwa masih terjebak di bawah reruntuhan atau tergeletak di jalanan, yang sulit dijangkau oleh ambulans dan tim pertahanan sipil.
Dalam pernyataan terpisah, pihak otoritas kesehatan mengimbau warga Jalur Gaza untuk mendonorkan darah mereka dengan mendatangi beberapa rumah sakit yang masih beroperasi di daerah kantong tersebut.
Israel kembali melancarkan serangan di Gaza pada Selasa setelah gencatan senjata dengan Hamas yang dimulai pada 19 Januari runtuh. Pasukan Israel kemudian melancarkan operasi darat di Gaza bagian selatan, utara, dan tengah.
Sejak itu, lebih dari 700 warga Palestina tewas dan lebih dari 1.000 lainnya terluka akibat serangan udara mendadak Israel di Gaza, yang menghancurkan kesepakatan gencatan senjata dan pertukaran tawanan yang berlaku sejak Januari.
Pada November lalu, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap pemimpin otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan kepala pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.
Israel juga menghadapi kasus genosida di Mahkamah Internasional (ICJ) terkait serangan di wilayah tersebut.
Sita Planasari ikut berkontribusi dalam penulisan artikel ini.
Pilihan Editor: Militer Israel Akui Tembak Gedung Palang Merah di Gaza