Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Berita Tempo Plus

Mengancam dari Seberang Mediterania

Baru tahun lalu Negara Islam di Irak dan Syam resmi beroperasi di Libya. Meski kecil, tindakannya tak kalah brutal dari yang di Irak dan Suriah.

23 Februari 2015 | 00.00 WIB

Mengancam dari Seberang Mediterania
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Amira selalu waswas terhadap keadaan saudara perempuannya yang tinggal di Derna, Libya timur. Saat saudaranya itu mengunjunginya di Tripoli bulan lalu, Amira membujuk agar dia lebih lama tinggal. "Saya khawatir terhadap anak-anak laki-lakinya karena mereka telah menjadi anak muda," kata Amira kepada BBC.

Yang ia cemaskan, banyak anak muda di Derna yang bergabung dengan berbagai kelompok militan. Satu di antaranya kelompok "impor" dari kawasan Irak dan Suriah yang menjadi sorotan dunia belakangan ini: Negara Islam di Irak dan Syam (Suriah dan sekitarnya) atau ISIS.

Di Derna pula banyak anak muda tewas dibunuh karena menolak bergabung atau mengkritik kelompok militan. "Kita tak bisa mempercayai bagaimana keluarga sampai pada tahap melarang anak laki-lakinya bersembahyang di masjid," Amira menambahkan.

Menurut dia, suasana kota yang dianggap ibu kota ISIS Libya itu sebenarnya tak semengerikan yang digambarkan media. "Yang saya tahu dari saudara saya, kehidupan sehari-hari di sana normal. Tapi kadang mereka (milisi ISIS) muncul dan membunuh atau menculik seseorang, atau berparade," ujarnya.

Namun, bagi masyarakat dunia, Derna—yang merupakan kota kelahiran ISIS Libya—adalah kota yang layak "diperhitungkan" dan menjadi perhatian beberapa pekan ini. Hal ini terutama setelah beredarnya video berisi rekaman yang mengabarkan eksekusi terhadap 21 warga Kristen Koptik asal Mesir oleh milisi ISIS pada pertengahan Februari lalu.

Mesir, yang bertetangga dengan Libya, langsung membalas dengan melancarkan serangan udara hanya sehari setelahnya. Pekan lalu, Kairo juga membawa isu ISIS Libya ke markas Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Mereka berusaha mendapatkan dukungan bagi tindakan keras terhadap kelompok pimpinan Abu Bakar al-Bagdadi yang kini beroperasi di negeri tetangganya itu.

Prancis, yang belum lama mengalami serangan terorisme berupa serangan ke kantor mingguan satire Charlie Hebdo, juga mendesak Dewan Keamanan.

Eropa memang juga ketar-ketir terhadap keberadaan ISIS di seberang Laut Mediterania, tepatnya sekitar 320 kilometer dari pantai selatan Uni Eropa. Ketakutan ini didorong pula oleh kenyataan betapa kapal kerap berdatangan ke Italia membawa migran gelap dari Libya. "ISIS berada di depan pintu," kata Menteri Dalam Negeri Italia Angelino Alfano kepada La Republica.

Alfano mendesak Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) turun tangan. "Kita harus bergegas."

ISIS mengancam akan menguasai Roma. Kelompok itu juga mengancam membanjiri Eropa dengan setengah juta migran bila Eropa menyerang mereka.

* * * *

DI pesisir Mediterania, tepatnya di kota kelahiran ISIS Libya, Derna, bendera hitam ISIS berkibar di atas sebuah masjid peninggalan abad ke-18. Juga di gedung-gedung pemerintah. Selain itu, tulisan ISIS terlihat di tiang-tiang lampu neon. Dalam salah satu laporannya, CNN menyebutkan keberadaan sekitar 800 anggota milisi ISIS di kota berpenduduk kurang-lebih 100 ribu orang itu.

Mereka beroperasi dari beberapa kamp di pinggiran kota. Ada pula yang bermarkas di beberapa kamp yang lebih besar di sekitar Pegunungan Hijau, lokasi para pejuang dari berbagai daerah di Afrika Utara mendapat pelatihan.

Milisi ISIS di Derna memang membesar setelah bergabungnya sekitar 300 orang dari Suriah dan Irak, yang berasal dari Brigade al-Battar ISIS yang dikerahkan pertama kali ke Deir Ezzor di Suriah dan kemudian Mosul, Irak. Orang-orang ini tadinya bergabung dengan Dewan Syura Pemuda Islam Derna, yang kemudian mendeklarasikan kesetiaan kepada Abu Bakar al-Bagdadi.

Kelompok sipil bersenjata bukan hal baru di Derna. Pada 1990-an, saat Muammar Qadhafi berkuasa, terdapat Kelompok Pejuang Islam Libya yang memerangi pemerintah Qadhafi. Derna tak begitu diperhatikan oleh Tripoli.

Dalam perkembangannya, ketika Irak dilanda perang, terutama setelah jatuhnya Saddam Hussein pada 2003, banyak "pejuang" Libya, termasuk dari Derna, berangkat ke Irak untuk menjadi relawan. Informasi ini diketahui benar setelah pasukan Amerika Serikat menemukan daftar petempur asing di Irak pada 2006. Bisa dikatakan cukup banyak relawan berasal dari Derna.

Ketika Qadhafi hampir jatuh akibat pemberontakan yang dibantu oleh serangan udara oleh pasukan asing di bawah payung NATO, sebagian dari para petempur itu pulang. Orang-orang yang sudah biasa berada dalam konflik bersenjata ini melanjutkan peperangan di kampung halamannya.

Setelah Qadhafi jatuh, pada 2011, kelompok militan kemudian tumbuh subur dan menambah kekacauan di Libya hingga kini. Sebagai negara, Libya boleh dibilang sulit berfungsi; saat ini terdapat dua pemerintah, yakni pemerintah hasil pemilihan umum di Tobruk dan pemerintah sempalan di Tripoli.

Pada saat yang sama, di Irak banyak relawan asing, termasuk dari Libya, yang tak pulang dan memilih bergeser ke Suriah. Mereka membantu perlawanan terhadap pemerintah Bashar al-Assad. ISIS, yang tadinya Al-Qaidah di Irak, kemudian Negara Islam di Irak, pun membesar di Irak dan Suriah.

Di Libya, kelompok-kelompok militan yang ada gencar menggelar serangan dengan target berupa fasilitas milik orang asing atau bahkan orang asing. Misalnya serangan ke konsulat Amerika di Benghazi, yang menewaskan Duta Besar Chris Stevens dan tiga orang lainnya. Amerika menuding Ansar al-Sharia, kelompok militan bersenjata paling kuat di Libya, di belakang serangan.

Pada Januari tahun lalu, kelompok Al-Qaidah di Libya selatan menyerang kilang gas In Amena di Aljazair. Juga musim semi tahun lalu, beberapa diplomat dari Mesir, Yordania, dan Tunisia diculik di Tripoli. Pembebasan mereka ditukar dengan tahanan anggota kelompok militan di negara masing-masing.

Di Derna sendiri, beberapa kelompok militan berebut pengaruh. Maklum, kota ini seolah-olah tak bertuan. ISIS mulai terlihat jelas ketika Abu Bakar al-Bagdadi mengirim Abu Nabil an-Anbari dari Suriah ke Derna. Di kota itu, ia dibantu Abu al-Baraa el-Azdi dari Arab Saudi, yang kemudian menjadi hakim agama di Derna.

Bersama orang-orang ISIS lainnya, mereka membujuk orang-orang dari kelompok radikal bergabung. Akhirnya, pada Oktober tahun lalu, mereka mengumumkan Derna sebagai kota "kekhalifahan Islam" di bawah Abu Bakar al-Bagdadi.

Sebuah video amatir yang beredar Oktober tahun lalu menunjukkan kerumunan orang-orang radikal yang tergabung dalam Dewan Syura Pemuda Islam meneriakkan yel-yel kesetiaan kepada pemimpin ISIS, Abu Bakar al-Bagdadi. Mereka menyebut diri sebagai ISIS Divisi Provinsi Barqa, kawasan Libya timur. Tak lama kemudian, jumlah mereka ditambah lagi dengan banyak petempur Libya yang pulang dari Suriah dan Irak.

Mereka pun menguasai kota serta menerapkan sistem hukum, pemerintahan, dan pendidikan ala mereka, hingga kini. "Derna sekarang seperti Raqqa, kota di Suriah yang menjadi markas ISIS," ucap mantan milisi Libya yang terlibat dalam gerakan anti-terorisme untuk Yayasan Quilliam, Noman Benotman, kepada CNN.

Meski kebanyakan orang Derna tak sepakat dengan ISIS, mereka tak berbuat apa-apa. "Suku-suku yang ada enggan memerangi mereka karena ada anggota keluarga yang bergabung (dengan ISIS)," kata Benotman. Apalagi memang tak ada pemerintah resmi yang berperan.

* * * *

Wajar bila ISIS kian mencengkeram. Pada November tahun lalu, kelompok pan-Libya yang menyebut diri sebagai Mujahidin Libya mendeklarasikan kesetiaan kepada Abu Bakar al-Bagdadi. Mereka mengklaim ISIS menguasai tiga wilayah: Barqa, terutama di Derna dan Benghazi; Tripoli; serta Fezzan di kawasan barat daya.

Tak perlu waktu lama, mereka langsung menggebrak dengan berbagai serangan. Di antaranya serangan ke markas militer di Benghazi dan sekitarnya. Pada awal tahun ini, mereka mengklaim bertanggung jawab atas eksekusi dua jurnalis Tunisia. Kabar ini belum bisa diperiksa kebenarannya.

Belum lama ini, milisi ISIS menyerang kompleks pekerja asal Mesir di Sirte. Orang-orang Islam dipisahkan. Para pekerja Kristen dibawa. Hingga sekitar dua pekan lalu, kepastian nasib mereka disiarkan, yang membuat keluarga mereka dan pemerintah di Kairo meradang. Video eksekusi terhadap warga Kristen Koptik itu diluncurkan oleh ISIS.

Setelah menyerang Sirte, milisi ISIS menyerang hotel paling mentereng yang kerap ditinggali pebisnis dan diplomat asing di Tripoli, Corinthian. Seorang pilot Prancis dan kontraktor Amerika tewas dalam serangan ini.

Alasan yang disebutkan oleh kelompok yang menyebut diri Negara Islam Tripolitania itu adalah balas dendam atas kematian Abu Anas al-Libi di tahanan Amerika pada awal Januari lalu. Libi ditangkap pasukan Amerika di Tripoli pada Oktober sebelumnya serta dinyatakan meninggal karena sakit sebelum pengadilan atas perannya dalam pengeboman kedutaan Amerika di Kenya dan Tanzania pada 1998.

Benotman pun khawatir ISIS menjadi ancaman serius di Libya. "Mereka berada di jalan menuju penciptaan emirat Islam di Libya timur."

Ada pula yang tak sekhawatir Bonetman. Menurut Thomas Joscelyn, editor senior Long War Journal yang berfokus pada upaya antiterorisme Amerika, ISIS tak berkuasa betul di Libya. Bahkan di Derna, misalnya, ISIS tak menguasai semua kota karena masih berebut pengaruh dengan Brigade Abu Salim. "Mereka ingin memamerkan bahwa kekhalifahan terus tumbuh," kata Joscelyn, seperti dilansir Foreign Policy.

Meski demikian, ISIS serius mengancam, seperti terlihat dalam video eksekusi warga Kristen Koptik. "Semua petempur perang salib, keselamatan untuk kalian hanyalah harapan, terutama bila kalian bersama memerangi kami. Kami akan memerangi kalian."

Purwani Diyah Prabandari (BBC, Der Spiegel, Politico, Foreign Policy, CNN)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus