Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
HAMPIR saban dinihari, pasar itu seperti sarang lebah. Bahkan beberapa jam sebelumnya: menjelang tengah malam, ke dalam petak tanah seluas 2.000 meter persegi itu—di sela-sela bangunan bambu yang seadanya—sudah berdatangan benda dan manusia. Para pedagang kecil, karung dan keranjang, dan tentu saja sayur-mayur, ikan sungai, udang kering, tempe dan tahu mentah, buah dan cabai, terasi, garam, tekstil kasar, beras, kelapa…. Berjejal-jejal.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo