Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
PRAJURIT muda itu berbaris memanggul perlengkapan perang. Wajahnya tegang ketika atasannya memeriksa kesiapan mereka untuk dikirim ke Libanon. Mereka sedang menghitung hari kapan bisa berangkat ke sana. Atasannya, para jenderal, lebih gusar lagi dan seolah tak sabar menunggu perundingan tingkat internasional yang akan memutuskan kapan prajurit ini diberangkatkan. Tidak ada tanggal yang pasti, setiap menteri punya tanggal yang berbeda-beda untuk menentukan keberangkatan saja.
Padahal persiapan sudah matang betul. Tank sudah dicat putih, warna khas ”tentara perdamaian” Perserikatan Bangsa-Bangsa. Uang pun sudah disiapkan Rp 380 miliar dan ada kemungkinan bertambah. Maklum, akan membeli senjata baru.
Keputusan pemerintah untuk mengirim pasukan perdamaian ini adalah wujud tugas mulia bangsa bermartabat dan antikekerasan. Kengototan para jenderal untuk segera memberangkatkan pasukan ini seperti ingin menunjukkan kepada dunia bahwa tanpa tentara Indonesia, perdamaian di Libanon sulit terwujud. Serangan rudal dan tank darat Israel, atau dari mana pun datangnya serangan yang akan merusak perdamaian di Libanon, akan dihadapi oleh seribu tentara Indonesia dengan gagah berani. Pokoknya, Libanon harus damai, penduduknya merasa aman, tenteram, dan terayomi.
Sementara itu, di bagian lain dari bumi, tepatnya di Papua—ini masih wilayah Republik Indonesia—perang suku tetap berkecamuk dan tak kunjung tercipta perdamaian yang abadi. Yang berperang tidak menggunakan rudal, tank, apalagi bom. Mereka menggunakan panah, beberapa lagi membawa tongkat atau memungut batu di jalanan untuk dilemparkan ke pihak lawan. ”Pasukan” yang berperang terang-terangan bergerak di lapangan, kadang seperti orang menari dan riuh memberikan semangat—kalau ada wartawan memotret. Andai saja anak panah tidak membawa korban, dan suku-suku yang bertikai tidak melakukan perusakan, ini adalah teater jalanan yang asyik ditonton. Tapi ini perang, korban berjatuhan, rumah terbakar, anak kecil mengungsi bersama ibunya.
Maka muncul pertanyaan sederhana, kenapa seribu prajurit ingin buru-buru dikirim ke Libanon, dan kenapa pesawatnya tidak dibelokkan ke Timika untuk ”misi perdamaian”, toh tetap naik pesawat carteran? Sebelum ketemu lawan yang tak kelihatan, sebelum menembak rudal yang diluncurkan Israel dengan antirudal (itu pun kalau kita punya), cobalah dulu mendamaikan perang suku di Kwamki Lama, Timika. Kalau rumah sendiri masih kacau, bagaimana melerai keributan di tetangga. Kalau anak kita saja masih adu jotos, bagaimana kita merukunkan anak-anak tetangga. Memakai istilah orang desa, kita harus ”ngaca dulu” dan jangan ”sok gengsi”.
Berbagai kerusuhan di Tanah Air sudah memberikan bukti bahwa aparat keamanan sesungguhnya tak siap benar ”menjaga perdamaian”. Bom masih meledak di Poso, berkali-kali ”pasukan perdamaian” dikirim ke sana, dan ternyata tanpa hasil. Mengamankan stadion saja, katakanlah berukuran 200x200 meter, aparat keamanan tak mampu. Bonek yang bersenjatakan ”botol air kemasan” plus ”korek api” bisa merusak stadion dan membakar mobil. Kalau menghadapi bonek dan suku-suku di Papua saja kita kewalahan, boro-boro mencegah rudal dan tank Israel di Libanon. Ya, meski perbandingan ini ”kurang akademis”, kesan seperti itu tak bisa dihapus.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo