Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Lingkungan

Berita Tempo Plus

Kosmetik Biomassa Mengganti Batu Bara

Implementasi co-firing di PLTU Indramayu menyisakan dampak lingkungan dan kesehatan. Co-firing biomassa hutan tak mengurangi emisi?

27 November 2022 | 00.00 WIB

Warga yang tergabung dalam Jaringan Tanpa Asap Batubara Indramayu menuntut Pemerintah untuk melarang penggunaan palet atau serbuk kayu sebagai bahan bakar PLTU di depan PLTU Indramayu, Sukra, Indramayu, Jawa Barat, 21 Oktober 2022/ANTARA/Dedhez Anggara
Perbesar
Warga yang tergabung dalam Jaringan Tanpa Asap Batubara Indramayu menuntut Pemerintah untuk melarang penggunaan palet atau serbuk kayu sebagai bahan bakar PLTU di depan PLTU Indramayu, Sukra, Indramayu, Jawa Barat, 21 Oktober 2022/ANTARA/Dedhez Anggara

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Ringkasan Berita

  • Co-firing biomassa dijadikan jembatan untuk transisi sekaligus mengurangi emisi di sektor pembangkit tenaga listrik.

  • Berpotensi menimbulkan deforestasi dan menghasilkan utang karbon dari pembukaan hutan tanaman energi.

  • Pelaksanaannya di PLTU Indramayu menyisakan persoalan.

EMPAT kali pengumuman lelang terbuka untuk pengadaan serbuk gergaji kayu sepanjang 2021 terpampang di situs lelang PT Pembangkitan Jawa-Bali untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) Indramayu. Tiga lelang di antaranya adalah pengadaan ulang untuk April 2021, yang lain untuk pengadaan Juli 2021. Serbuk gergaji ini akan digunakan sebagai campuran batu bara atau co-firing pada PLTU. Adapun spesifikasi yang diminta adalah serbuk kayu dengan total kelembapan sebesar 16,63 persen dan memiliki nilai kalori 3.921 kilokalori per kilogram (Kkal/kg). Jumlah yang diminta sebanyak 6.500 ton.

Kemudian tak ada lagi pengumuman lanjutan mengenai siapa pemenang tendernya. Belakangan, diketahui serbuk gergaji tersebut berasal dari usaha kayu rakyat yang didatangkan dari Subang, Cirebon, dan daerah sekitar Indramayu, Jawa Barat. Dalam diskusi yang diadakan Perkumpulan Inisiatif pada Selasa, 1 November lalu, Perusahaan Umum Kehutanan Negara Divisi Regional Jawa Barat dan Banten mengatakan tidak pernah memasok bahan baku biomassa berupa serbuk gergaji ataupun pelet kayu ke PLTU Indramayu.

Menurut Koordinator Jaringan tanpa Asap Batu Bara Indramayu, Tarmidi, tak pernah ada kejelasan mengenai siapa yang memasok serbuk gergaji ke PLTU Indramayu. Yang ia tahu, sejak ada “pengoplosan” dengan serbuk kayu tersebut, banyak pohon pisang yang mati begitu terkena asap yang keluar dari cerobong PLTU Indramayu. “Dulu pohon kelapa yang mati, sekarang pohon pisang ikut mati,” katanya. Selain itu, banyak penduduk yang mengidap infeksi saluran pernapasan akut dan infeksi mata.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya
Dini Pramita

Dini Pramita saat ini adalah reporter investigasi. Fokus pada isu sosial, kemanusiaan, dan lingkungan.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus