Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Surabaya - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) menyatakan uji coba co-firing atau pembakaran batu bara dengan biomassa pada Pembangkit Listrik Tenaga Uap atau PLTU Paiton di Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, bisa menimbulkan dampak sosial-ekonomi. Manajer Kampanye Walhi Jawa Timur Lila Puspitaningrum mengatakan bahwa klaim pengurangan emisi lewat co-firing sangat menyesatkan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Solusi palsu untuk transisi energi," kata Lila kepada Tempo pada Senin, 17 Februari 2025.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Dengan klaim akan memangkas emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen pada 2030, PT PLN (Persero) berencana memakai biomassa, salah satunya lewat co-firing, melalui 52 PLTU di Indonesia. Salah satunya lokasi yang disasar untuk percobaannya adalah PLTU Paiton.
PLTU Paiton merupakan salah satu pembangkit listrik terbesar di Indonesia. Luas lahan proyek ini mencapai 400 hektare dengan total kapasitas daya sebesar 4.600 megawatt (MW).
Menurut Lila, PLTU Paiton seharusnya menjadi satu dari 13 PLTU yang akan dipensiunkan oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), terutama karena emisinya tinggi. Praktik co-firing ditengarai justru menambah usia PLTU Paiton. Padahal, Walhi mencatat, masyarakat di sekitar PLTU Paiton sudah terkena dampak negatif secara ekonomi, sosial, hingga kesehatan, akibat proyek terssebut.
“Ada penurunan kualitas lingkungan, gangguan terhadap sumber mata pencarian masyarakat, hingga gangguan kesehatan,” kata dia.
Masalah deforestasi juga dikhawatirkan berlanjut. Pasalnya, Lila meneruskan, suplai bahan baku biomassa berasal dari palet-palet kayu atau sawdust yang didapat dari jenis tanaman tertentu. “Beberapa kawasan hutan akan dialihkan menjadi hutan tanaman energi dengan model satu jenis tanaman (monokultur),” ucap Lila.
Abdul Haq, salah satu warga Paiton, membenarkan soal dampak lingkungan yang dirasakan masyarakat di sekitar PLTU tersebut. Selain soal udara dan hawa yang semakin panas, kualitas dan kuantitas tembakau di sekitar Paiton juga menurun. Tembakau membutuhkan panas matahari untuk proses penjemuran, yang kini terganggu oleh polusi akibat PLTU.
Masalah lain berupa hilangnya ikan-ikan kecil, seperti udang rebon, akibat limbah tambak udang dan limbah PLTU. Dulu ada desa penghasil terasi karena kaya udang rebon. Sekarang sudah tidak ada lagi,” tutur Haq.
Pilihan Editor: Kenali Bahaya Kandungan PFAS yang Jadi Perhatian Donald Trump