Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pameran tunggal Yos Suprapto, perupa senior Yogyakarta, mengenai pangan dan kekuasaan dibatalkan Galeri Nasional Indonesia. Lima lukisan yang diangkat dari hasil riset Yos terhadap dampak buruk pupuk kimia terhadap pertanian itu dituduh vulgar dan bermuatan politik karena menggambarkan raja Jawa dan mirip Jokowi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Kurator Suwarno Wisetrotomo mundur beberapa hari sebelum rencana pameran dibuka. Perundingan antar Yos dan Galeri Nasional menemui jalan buntu meskipun Yos bersedia menutup lima lukisan bermasalah itu dengan kain hitam. Ini menjadi sensor pertama seni rupa di era Presiden Pabowo Subianto.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pembaca yang terhormat, pada edisi akhir tahun kami juga menyajikan tulisan obituari mengenai Lukman Setiawan. Ia ikut mendirikan majalah Tempo bersama Goenawan Mohamad, Fikri Jufri, Usamah, Christianto Wibisono, dan Harjoko Trisnadi pada 1971. Dia termasuk yang melobi Ciputra, pendiri dan Ketua Yayasan Jaya Raya, serta Eric Samola, sekretaris yayasan, untuk menyokong terbitnya Tempo. Lukman kemudian ikut membangun harian Bisnis Indonesia pada 1985.
Sebagai wartawan Tempo, Lukman bertugas meliput isu olahraga. Ia memiliki jaringan luas di kalangan atlet, termasuk dekat dengan narasumbernya secara pribadi, seperti atlet bulu tangkis Rudy Hartono. Di dunia fotogarfi pun namanya mentereng. Popularitasnya melejit saat ia berhasil menangkap momen kiper tim nasional Indonesia, Judo Hadianto, “terbang” saat menghalau bola yang hendak masuk ke sudut gawangnya pada 1984. Lukman meninggal di Singapura pada Senin malam, 16 Desember 2024, dalam usia 90 tahun.
Di edisi akhir tahun, kami juga menyajikan laporan khusus tokoh Tempo 2024 dan kaleidoskop berisi berita-berita penting sepanjang 2024. Selamat membaca.
Laporan selengkpanya: Alasan Sesungguhnya Galeri Nasional Membatalkan Pameran Yos Suprapto