Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sosial

Berita Tempo Plus

Perjalanan sebuah konflik

Konflik di hkbp

30 Januari 1993 | 00.00 WIB

Perjalanan sebuah konflik
Perbesar

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Mereka ambil semua isi gereja Candelabra-candelabra. Tirai-tirai. Permadani-permadani. Barang-barang perak. Dan patung-patung berhiaskan permata Cha-cha-cha, berulang-ulang diserukan Seluruh gereja rontok SAJAK Rendra berjudul Khotbah itu tak pernah dibacakan di Seminari Sipoholon, Tapanuli Utara. Tapi, menurut mereka yang menyaksikan, suasana Sinode Godang (Muktamar Agung) HKBP ke-51 di seminari itu hiruk-pikuknya mirip yang dilukiskan dalam sajak tersebut. Dalam lima hari sinode, 23 hingga 28 November tahun lalu, hanya Aturan HKBP 1992-2002 yang bisa disahkan. Selebihnya, apalagi dalam sidang pemilihan ephorus, jabatan tertinggi dalam HKBP, yang terdengar hanya sorak-sorai protes dari sekitar 600 orang peserta sidang. Ada kubu yang pro-Nababan, ephorus lama yang habis masa jabatannya pada bulan itu, dan ada yang kontra. Untuk mengatasi kekosongan ephorus, diusulkan dibentuk sebuah presidium yang terdiri dari enam pendeta. Langsung, sidang me+ngumandangkan pekik protes. Ancaman Danrem setempat, Kolonel Daniel Toding, yang juga koordinator panitia penyelenggara, agar para peserta sidang berlaku tertib, tenggelam oleh suasana riuh. Dari situlah sebenarnya sumber awal kericuhan dalam HKBP belakangan ini, yang makin ricuh setelah ada pihak-pihak yang mengundang keterlibatan Bakorstanasda Sumatera Utara. Sebenarnya latar belakang kericuhan tak tercipta dalam sehari. Benih-benihnya sudah tersebar sepanjang kepemimpinan Ephorus Nababan. Setelah sekitar satu setengah tahun Nababan ''menggembalakan'' umat, pada hari ulang tahunnya ke-55, 24 Mei 1988, terbit sebuah buku berjudul Parmaraan di HKBP (Bahaya di HKBP). Konon buku itu sengaja disebarkan ke 2.300 Gereja Batak Protestan, yang tersebar di seluruh Indonesia. Sampul buku itu sendiri mestinya sangat menarik perhatian umat HKBP: gambar salib menjelang ambruk bertuliskan Quo Vadis HKBP. Buku itu disusun oleh 38 pendeta, dipimpin oleh Domine P.M. Sihombing, kini 60 tahun, bekas sekjen HKBP sebelum periode Nababan. Isinya antara lain menuduh Nababan meniupkan ajaran yang bertentangan dengan HKBP. Di situ ditulis, misalnya, tentang gerakan evangelisasi yang dikoordinasi oleh Nababan sejak Oktober 1987. Gerakan itu sendiri merupakan gerakan internal ''mengkristenkan kembali orang Kristen,'' yang konon bermula di antara warga HKBP dari Jakarta. Keberatan 38 pendeta yang menulis buku itu, antara lain, tim evangelisasi itu beranggotakan juga sejumlah pendeta yang ditabalkan gereja. Bahkan ada tuduhan bahwa ada pemberkatan yang dilakukan di pemandian sambil berbugil ria. Lalu pelbagai penyembuhan penyakit dilakukan oleh anggota tim yang lelaki atas pasien wanita dengan berduaan dalam kamar. Nababan tentu saja menyangkal dan minta bukti-bukti. Lalu dalam Sinode Godang HKBP ke-49, November 1988 di Pematangsiantar, diputuskan kelompok Sihombing tak dapat memberikan bukti-bukti. Karena itu mereka dianggap telah menyebar fitnah. Kelanjutannya mudah ditebak: 38 pendeta pengikut Sihombing itu pun dipecat dari jabatannya. Benarkah Sihombing tak bisa memberikan bukti? ''Kami ini tak pernah diminta bukti, kok dipecat,'' katanya. Dan bagaimana mereka bisa membeberkan bukti-bukti kalau diundang dalam Sinode Godang ke-49 itu pun tidak. Maka Sihombing dan kelompoknya menulis surat pengaduan ke Menteri Tenaga Kerja Cosmas Batubara -- bukan anggota HKBP karena menteri satu ini Katolik. Hasilnya? ''Pak Cosmas sendiri yang menyurati ephorus dan menyebut pemecatan itu batal demi hukum,'' tutur Sihombing, seraya memperlihatkan surat Menteri tertanggal 16 Mei 1990 itu. Tak bertemunya kedua pihak itulah rupanya yang membuat masing-masing pihak merasa pihak lain keliru. Pihak tim evangelisasi, misalnya, merasa bahwa gerakannya diperlukan untuk meluruskan umat HKBP yang kian jauh dari Alkitab. Dan ini ada contohnya. Tatkala di Tapanuli Utara terjadi bencana alam, mereka tak ''mengadu'' ke gereja, tapi menangis dan memohon kepada arwah-arwah nenek moyang agar malapetaka tak lagi datang. Sikap itu, ang tampaknya merupakan warisan kepercayaan kuno Tapanuli, pelebegu, dianggap tak sesuai dengan iman HKBP. Tapi dalam perjalanan waktu kemudian, masalah yang sebenarnya penting dari sudut keagamaan itu dilupakan oleh kedua belah pihak. Yang muncul ke permukaan adalah isu bahwa Sihombing iri karena dikalahkan oleh Nababan dalam pemilihan ephorus tahun 1987. Sihombing membantah. Kata pendeta yang masih famili dekat Nababan ini, ''Saya kalah adalah satu hal, tapi Nababan menabrak ajaran HKBP adalah hal lain.'' Konflik pun makin menjadi setelah, se perti sudah disebutkan, Ephorus Nababan yang merasa difit nah memecat anasir berbau Sihombing lewat Sinode Godang ke-49 itu. Di antara mereka yang dipecat termasuk Rektor Universitas Nommensen -- universitas milik HKBP -- Profesor Doktor Amudi Pasaribu dan sejumlah pengurus yayasannya. Itu sebabnya di Universitas Nommensen muncul demonstrasi mahasiswa menuntut Nababan mundur, Juli 1990. Demonstrasi berjalan agak keras, dan sebuah laboratorium terbakar. Repotnya, konflik di dalam yang meledak keluar itu oleh Pemerintah, dalam hal ini aparat keamanan, dipandang sudah mengganggu keamanan. Itulah mengapa izin Sinode Godang HKBP Juli 1990 men dadak dibatalkan oleh Kapolri berdasarkan rekomendasi Bakorstanasda Sumatera Utara, dekat sebelum sinode dibuka. Pada hal ratusan utusan dari pelbagai penjuru sudah berdatangan. ''Kami sangat berkepen tingan dengan kerukunan umat beragama,'' kata Humas Bakorstanasda, Letnan Kolonel Achmad Soedjai, waktu itu. Dari kalangan HKBP sendiri muncul inisiatif untuk merukunkan kembali pihak-pihak yang bersengketa. Lahirlah yang di sebut Tim Damai oleh Jenderal (Purnawi rawan) Maraden Panggabean di Jakarta pada September 1990. Ikut serta dalam tim ini adalah A.E. Manihuruk, bekas kepala Badan Administrasi Kepegawaian Negara. Tim Damai mengadakan kunjungan ke pel bagai gereja HKBP di wilayah Jakarta-Bogor-Tangerang-Bekasi. Konon mereka di sambut dengan horas, salam selamat. Juga di Sipoholon dan Sibolga, jemaat gereja menyambut mereka dengan positif. Memang tak semua pihak menyambut adanya Tim Damai dengan lapang. Sekitar 30 pendeta di Medan menentang Panggabean. Ephorus Nababan sendiri, yang waktu itu berada di Swiss, bahkan menilai kehadiran Tim Damai itu sebagai campur tangan pihak luar. ''Badan itu tak dikenal dalam HKBP,'' katanya kepada TEMPO. Dan memang kenyataannya, tak lalu konflik bisa diredam. Peristiwa yang cukup serius terjadi pada bulan November 1990. Ratusan warga Siborong-borong, sebagian besar ibu-ibu, berbaris menuju Kantor Pusat HKBP di Pearaja, Tarutung. Mereka me nuntut Ephorus Nababan agar mengundur kan diri. Mereka menduduki kantor pusat itu beberapa jam. Ephorus Nababan, sejumlah pendeta, dan karyawan kantor yang tengah mengadakan rapat terpaksa menying kir. Setelah muspida setempat turun tangan, aksi itu bubar. Tapi mungkin karena orang bosan rame-rame terus, konflik mereda. Meski, ada yang bilang, meredanya konflik di HKBP bagaikan api dalam sekam. Yang jelas, akhirnya izin mengadakan sinode godang diperoleh juga. April 1991, di Sipoholon, muktamar agung HKBP itu pun dilang sungkan. Tim Damai yang dipimpin oleh Jenderal Panggabean juga membubarkan diri bulan itu. Ketika itu, sepertinya konflik sudah jauh, hanya ada damai di HKBP. Tapi benar juga mereka yang bilang kon flik di HKBP bak api dalam sekam. Mi salnya, api itu menjilat keluar di Gereja HKBP Helvetia, Medan, pekan pertama Maret 1992. Waktu itu terjadi perkelahian antarjemaat. Yang satu membela Nababan, yang lain mencemoohkannya. Puncaknya meledak pada 11 Maret: unjuk rasa kelompok anti-Nababan, memprotes tindakan Pendeta Resor L.R. Manurung yang memecat beberapa pengetua Gereja HKBP Helvetia yang suka mengkritik Ephorus Na baban. Sampai September 1992, terjadi konflik di gereja HKBP di berbagai tempat. Tema konflik pun semakin jelas: mendukung atau tak mendukung Nababan terpilih lagi se bagai ephorus. Sempat juga terjadi pemisahan diri. Se jumlah jemaat HKBP di Sidikalang mengucapkan selamat tinggal kepada gereja lamanya, dan membentuk Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi. Ini memang bukan pertama kali terjadi. Itulah yang terjadi dalam perjalanan HKBP menuju ke Sinode Godang ke-51, November lalu. Suatu hal yang mudah ditebak sebenarnya bila sidang-sidang sinode godang bagaikan sungai besar yang menampung anak-anak sungai penuh gejolak. Tak berlebihan bila ada yang terkesan bahwa suasana sinode bak suasana yang di gambarkan dalam sajak Khotbah-nya Rendra: riuh, perbedaan pendapatpun memancing perkelahian. Soalnya, kubu pro dan kontra-Nababan membentuk sendiri panitia penyelenggara, dan masing-masing menyebarkan undangan. Jadi, banyak jemaat yang menerima dua undangan untuk acara yang sama, tapi pengundangnya berbeda. Maka, beberapa hari sebelum sinode dibuka, suasana konflik sudah terasa. Ketika itulah Danrem Kawal Samudera, Kolonel Daniel Toding, yang wilayahnya meliputi Tapanuli, mengambil inisiatif menyatukan kedua panitia di bawah kepemimpinannya. Toh Sinode Godang ke-51 itu tetap gagal, tak bisa memilih ephorus baru. Apakah itu karena kedua kelompok memang tak mau saling mengalah, ataukah karena ada unsur ''luar'' -- Daniel Toding meski Kristen, bukan jemaat HKBP -- itu soal lain. Bersihar Lubis, Munawar Khalil, Sarluhut Napitupulu, Affan Bey (Medan)

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus