Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
TEMPO.CO, Jakarta - Hari H pemilihan presiden tinggal 45 hari lagi. Hasil survei Cyrus Network menunjukkan, 'perang di udara' merupakan lini yang sudah terihat mencapai titik jenuh dan hanya terlihat sekadar riuh. Perang di media sosial ini dianggap tak efektif untuk menambah suara di Pemilu 2019.
Baca juga: Golput Pemilu 2019 Tidak Akan Besar
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
Survei Cyrus Network memperlihatkan, bahwa hanya sekitar 40 persen pemilih yang terkoneksi dengan informasi di telapak tangan mereka, baik itu media sosial maupun aplikasi pesan berantai seperti whatsApp dan Line. Sisanya, 60 persen populasi belum bersentuhan dengan sumber-sumber informasi.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik disini
"Di media sosial paling tenar, facebook misalnya hanya diakses oleh 32 persen populasi dan WhatsApp dimiliki oleh 33 persen populasi pemilih. Sementara Twitter yang tampaknya selalu paling heboh, hanya diakses oleh 4 persen populasi saja," Chief Executive Officer (CEO) Cyrus Network, Hasan Nasbi lewat keterangan tertulis pada Kamis, 28 Februari 2019.
Dari jumlah itu, hanya 13 persen responden (40 persen dari pengguna Facebook) mengaku aktif menyebarkan pesan politik di Facebook. Begitu juga di WhatsApp, hanya 8,8 persen lresponden (28 persen dari pengguna WhatsApp) yang mengaku aktif menyebarkan pesan-pesan politik di aplikasi chatting tersebut. Sisanya sudah berhenti atau tidak peduli sama sekali.
"Setelah kira-kira hampir lima tahun tensi politik yang amat tinggi, ternyata tidak sampai 50 persen pengguna medsos atau aplikasi pesan terlibat secara aktif menyebarkan pesan-pesan politik," ujar Nasbi.
Hal ini, menurut dia, menunjukkan bahwa keriuhan politik di media sosial dan pesan berantai sudah tidak lagi efektif menambah audience atau menambah suara. Melainkan hanya sekadar untuk mempertahankan isu. "Temuan kami, orang yang aktif di media sosial merasa kelompoknyalah yang paling dominan ditemui di media sosial maupun pesan berantai. Angkanya di atas 70 persen. Artinya, orangnya itu-itu saja," ujar Nasbi.
Nasbi menuturkan, jika hanya setengah dari 40 persen ceruk yang bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan suara di tengah ketegangan politik yang bisa dioptimalkan, itu artinya hanya sekitar 20 persen dari total keseluruhan populasi.
Baca juga: Soal WNA Masuk DPT Pemilu 2019, Ini Penjelasan KPU Cianjur
Lalu di mana ceruk yang belum optimal? Dia menilai, kelompok masyarakat yang tidak terkoneksi dengan riuh rendah kampanye politik di telapak tangan masih bisa dioptimalkan. Jumlahnya 60 persen populasi. "Kelompok ini yang seharusnya disentuh secara optimal," ujar Nasbi.