Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Sains

Kalkulasi WHO: Pandemi 2020-2021 Sebabkan Hampir 15 Juta Kematian

Dalam analisis besar yang dilakukannya, WHO menghitung angka kematian terkait pandemi Covid-19 di dunia antara 1 Januari 2020 dan 31 Desember 2021.

6 Mei 2022 | 20.56 WIB

Mayat dipindahkan ke kontainer berpendingin di luar rumah duka, karena kamar mayat kehabisan ruang di tengah wabah COVID-19 di Hong Kong, Cina, 5 Maret 2022. Hong Kong melaporkan 37.529 infeksi virus corona baru pada hari Sabtu dan 150 kematian. REUTERS/Tyrone Siu
Perbesar
Mayat dipindahkan ke kontainer berpendingin di luar rumah duka, karena kamar mayat kehabisan ruang di tengah wabah COVID-19 di Hong Kong, Cina, 5 Maret 2022. Hong Kong melaporkan 37.529 infeksi virus corona baru pada hari Sabtu dan 150 kematian. REUTERS/Tyrone Siu

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Dalam sebuah analisis besar yang dilakukannya, Badan Kesehatan Dunia (WHO) menghitung angka kematian terkait pandemi Covid-19 di dunia antara 1 Januari 2020 dan 31 Desember 2021. Tim penelitinya mengkombinasikan data kematian di setiap negara dengan statistik dari studi-studi ilmiah yang dilaksanakan di negara yang sama.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

WHO juga menggunakan sebuah model statistik untuk kalkulasi angka kematian yang mungkin selama ini tak terhitung. Tim penelitinya kemudian mengestimasi jumlah kematian jika tak terjadi pandemi--berdasarkan tren data tahun-tahun sebelum pandemi.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Perbandingan atas kedua angka yang didapat memberikan 'kelebihan' angka kematian aktual sebesar 14,9 juta. Tepatnya antara 13,3 juta sampai 16,6 juta.

Kelebihan ini termasuk di dalamnya adalah kematian secara langsung akibat virus SARS-CoV-2, seperti halnya juga yang secara tidak langsung seperti orang-orang yang meninggal prematur karena beban sistem layanan kesehatan yang membeludak. Selisih angka kematian juga telah menghitung risiko kematian yang lebih rendah di jalan maupun lingkungan kerja di masa pandemi.

Sebagai pembanding, data dari dasbor Johns Hopkins University, Amerika Serikat, jumlah korban meninggal yang terkonfirmasi karena Covid-19 di dunia tercatat sudah lebih dari 6,2 juta per rilis perhitungan WHO ini, Kamis 5 Mei 2022.

Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus, menilai data total hampir 15 juta kematian tersebut menyedihkan yang tak hanya menunjuk kepada dampak pandemi. "Tapi juga kepada kebutuhan seluruh negara untuk menginvestasikan sistem kesehatan yang lebih kuat yang dapat mempertahankan layanan kesehatan esensial selama krisis, termasuk sistem informasi kesehatan yang lebih kuat," katanya.

Data sebaran kematian

Data kelebihan 14,9 juta kematian dibandingkan masa tanpa pandemi hasil perhitungan tim peneliti WHO sebanyak 84 persen di antaranya terkonsentrasi di kawasan Asia Tenggara, Eropa dan Amerika. Tim dipimpin Profesor Debbie Bradshaw dan Kevin McCormack dan didukung Profesor Jon Wakefield dari University of Washington, AS.

Jika dihitung berdasarkan data per negara, mereka mendapati sebesar 68 persen di antara kelebihan kematian itu terkonsentrasi hanya di 10 negara. Negara-negara kelompok pendapatan menengah mendominasi hingga 81 persen untuk data 14,9 juta kematian itu. Urutan kedua adalah negara pendapatan tinggi, sebesar 15 persen. Sisanya berasal dari negara berpendapatan rendah.

Warga berdoa di makam keluarganya yang meninggal akibat wabah Covid-19 di TPU Rorotan, Jakarta Utara, Kamis, 12 Agustus 2021. Kematian akibat wabah Covid-19 secara nasional masih mencapai di angka 1000 perharinya. Berdasarkan data Satuan Tugas (Satgas) Covid-19, daerah dengan kasus kematian terbanyak nomor satu di Indonesia sekaligus di Jawa disumbang oleh Jawa Tengah. Sebanyak 386 kasus kematian ditemukan di daerah itu perhari ini. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

Perkiraan untuk periode 24 bulan (2020 dan 2021) tersebut juga telah dirinci berdasarkan usia dan jenis kelamin. Hasilnya sekaligus mengkonfirmasi kalau tingkat kematian Covid-19 global lebih tinggi pada laki-laki daripada perempuan (57:43), serta lebih tinggi angka kematian di antara pasien orang dewasa yang lebih tua.

"Pengukuran ini adalah sebuah komponen penting untuk memahami dampak dari pandemi, menyediakan informasi bagi para pembuat keputusan untuk memberi panduan kebijakan untuk bisa mengurangi kematian dan mencegah krisis di masa mendatang," kata Samira Asma, Asisten Direktur Jenderal WHO bidang Data, Analisis dan Distribusi.

Sedangkan Ibrahima Socé Fall, Asisten bidang Respons Kedaruratan, menegaskan bahwa data adalah landasan kerja WHO untuk memajukan kesehatan, menjaga keselamatan dunia, dan melayani mereka yang rentan. "Kami tahu di mana terdapat kesenjangan data, dan kami harus secara bersama mengintensifkan dukungan kepada negara-negara, sehingga setiap negara memiliki kemampuan untuk melacak wabah real-time, memastikan distribusi layanan kesehatan yang esensial, dan mengawal kesehatan populasi," katanya.

WHO, NEW SCIENTIST


Selalu update info terkini. Simak breaking news dan berita pilihan dari Tempo.co di kanal Telegram “Tempo.co Update”. Klik https://t.me/tempodotcoupdate untuk bergabung. Anda perlu meng-install aplikasi Telegram terlebih dahulu.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus