Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Ringkasan Berita
Pameran
Agus Suwage, perupa senior, mengeksplorasi egoisme dan luka, sementara Nadya dengan goresan cat minyak menyajikan karya yang ilusif.
Karya-karya Nadya seperti menyusuri alam nyata dan ruang lain, ada dan tiada.
DARI kejauhan, ujung menara boks setinggi lebih dari lima meter itu terlihat mengkilat, berkilau keemasan, ditempa sinar matahari sore hampir di sudut ruang Orange di galeri ROH, Jakarta. Sepertiga monumen itu memang dilumuri cat berwarna emas, tampak megah. Tersusun dari 45 boks seng lawas produksi akhir 1970-an seperti bentuk piramida, visualnya seperti dari material yang sangat kokoh. Makin mendekati obyek, makin terlihat “motif” seng lawas yang sangat khas. Tak sesempurna dan sekokoh monumen itu, di beberapa boks terlihat beberapa noda karat. Noda yang sengaja dibuat atau tercipta karena cipratan kencing anjing yang ikut mewarnai proses kreatif saat pembuatan menara.
- Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
- Akses penuh seluruh artikel Tempo+
- Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
- Fitur baca cepat di edisi Mingguan
- Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Agus dan Nadya: Dua Perbedaan"