Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Yogyakarta - Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama atau NU berkolaborasi membuat film Jejak Langkah Dua Ulama. Film ini berkisah tentang pendiri masing-masing ormas tersebut, yakni Ahmad Dahlan dan Hasyim Asy'ari.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Film Jejak Langkah Dua Ulama ini dibuat oleh Lembaga Seni Budaya dan Olahraga atau LSBO PP Muhammadiyah dan Pondok Pesantren Tebu Ireng. Adalah Sigit Ariansyah yang menjadi sutradara dengan dua produser, yaitu Andika Prabhangkara dari LSBO Muhammadiyah dan Abdullah Aminuddin Azis dari Pondok Pesantren Tebu Ireng.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Kedua tokoh ini menjadi role model generasi baru tentang Islam karena mengenalkan Islam yang memberi pembaruan dan kemajuan," kata Ketua Umum PP Muhammadiah Haedar Nasir saat launching kerja sama pembuatan film Jejak Langkah Dua Ulama di ruang pertemuan Gedung PP Muhammadiyah di Yogyakarta, Rabu, 24 Juli 2019. Film yang akan diputar pada September - Oktober 2019 itu mengisahkan keteladanan kedua pendiri Muhammadiyah dan NU sedari muda hingga tua. Mereka memberikan pembaruan dakwah Islam secara damai, toleran, dan santun.
Kedua tokoh tersebut hidup di zaman yang sama, hanya berselisih 4 sampai 5 tahun dan memiliki konsentrasi di bidang pendidikan. Ahmad Dahlan dikenal sebagai pendiri Muhammadiyah pada 1912 dan sebelumnya telah mendirikan Madrasah Diniyah Al Islamiah pada 1911 yang dikenal sebagai sekolah awal Muhammadiyah. Sedangkan Hasyim Asy’ari mendirikan NU pada 1926 dan sebelumnya telah mendirikan Pondok Pesantren Tebu Ireng pada 1899.
(kiri ke kanan) Sutradara Film Jejak Langkah 2 Ulma Sigit Ariansyah, Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng KH Solahuddin Wahid, Ketua Umum PP Muhammadiyah Haedar Nasir, dan Ketua Lembaga Seni Budaya dan Olahraga (LSBO) PP Muhammadiyah Sukriyanto AR di Gedung PP Muhammadiyah Yogyakarta, Rabu 24 Juli 2019. TEMPO | Pito Agustin Rudiana
Sayangnya, Haedar Nasir menjelaskan, tak menutup kemungkinan generasi saat ini tak ada yang peduli dengan sejarah. Meskipun Ahmad Dahlan adalah tokoh Muhammadiyah, Haedar meyakini sebagian besar kader Muhammadiyah tak tahu di mana ulama tersebut dimakamkan.
Adapun generasi di luar Muhammadiyah dan NU, menurut Haedar Nasir hanya menempatkan keduanya sebagai tokoh primordial Muhammadiyah dan NU. "Mereka lupa bahwa keduanya adalah tokoh umat dan bangsa, lintas dunia Islam untuk menyampaikan simbolisasi Islam yang Rahmatan lil alaamiin," kata Hedar. "Perlu belajar tokoh-tokoh masa lalu untuk proyeksi bangsa hari ini dan ke depan. Film ini menjadi jembatan untuk generasi baru tentang sejarah."
Pimpinan Pondok Pesantren Tebu Ireng, KH Shalahuddin Wahid menyambut baik pembuatan film Jejak Langkah Dua Ulama dengan beberapa pertimbangan. "Dua tokoh ini hidup di antara empat tokoh 'raksasa' umat Islam. Jadi memang perlu dibuat filmnya," kata Gus Sholah.
Empat tokoh yang dimaksud adalah HOS Cokroaminoto dan KH Agus Salim serta KH Samanhudi dan Haji Rasul, ayah dari Buya Hamka. Mereka hidup pada zaman yang sama dengan selisih usia yang tak jauh berbeda. Sementara tokoh bangsa lainnya pada masa itu adalah RA Kartini, Dewi Sartika, Douwes Dekker, dokter Cipto Mangunkusumo, juga Ki Hadjar Dewantara. Beberapa tokoh tersebut juga dihadirkan di dalam film tersebut.