SENIN malam pekan lalu, (sejumlah artis menyatroni) kediaman Menteri Koperasi Bustanil Arifin, di Jalan Hang Tuah, Jakarta. "Serbuan" dadakan itu ternyata tak mengejutkan tuan rumah. "Kami sedang mengadakan syukuran. Memang sangat mendadak, karena kru film pingin datang ke rumah saya. Jadi, saya buatkan sekalian upacara selamatan," kata Bustanil dengan senyum cerah. Dua hari sebclumnya, Christine Hakim menelepon Nyonya Bustanil. Ia dan rekan-rekannya ingin sowan. "Sebagai ungkapan rasa terima kasih atas bantuan Bustanil Arifin dalam pembuatan film Tjoet Nya' Dhien," kata Eros Djarot, mewakili sejawatnya. Tapi karena hari itu kebetulan seorang cucunya ulang tahun, Bustanil minta mereka datang pada Senin malam. Keberhasilan Tjoet Nya' Dhien sebagai film terbaik FFI 1988 ternyata membahagiakan Bustanil sekeluarga. Sampai-sampai, menteri yang tinggi besar itu perlu menyelenggarakan peusejuk alias tepung tawar. Acara ini khusus dipersembahkan kepada Christine Hakim dan Slamet Rahardjo pemeran Tjoet Nya' Dhien dan Teuku Umar. Mengapa Menteri Koperasi yang juga Ketua Bulog ini begitu bersemangat? Tersebutlah ketika Menteri selaku fungsionaris Golkar berkunjung ke Aceh pada tahun 1986. Di sana ia bertemu dengan para pendukung film Tjoet Nya' Dhien yang sedang macet karena kekurangan dana. Kontan sang Menteri membuka pundi-pundi dan memberikan Rp50 juta. Spontanitas itu sempat disemprot nyonya Bustanil. "Kok, seperti sinterklas saja, dalam lima menit mengeluarkan uang Rp50 juta," ujar Bustanil, menirukan ucapan istrinya, sambil tergelak.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini