Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Tangerang - Pemerintah Kota Tangerang Selatan berencana mengusulkan pembuatan sheet pile atau turap sepanjang 1.200 meter di bantaran Sungai Cisadane untuk mencegah banjir susulan. Pekan lalu, banjir menerjang wilayah Kota Tangerang Selatan yang berbatasan langsung dengan aliran Cisadane.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Luapan Sungai Cisadane itu menyebabkan Perumahan Pesona Serpong, yang berada di wilayah Kademangan, Kecamatan Setu, Tangsel, dilanda banjir. Warga perumahan itu, Darman mengatakan, banjir di perunahan itu bukan disebabkan oleh curah hujan tinggi melainkan akibat luapan sungai Cisadane.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Kalau hujan tinggi malah enggak banjir. Di sini rawan kalau kiriman air dari Bogor itu banyak," kata Darman saat dijumpai TEMPO beberapa waktu lalu.
Biasanya jika permukaan sungai tinggi, warga di lingkungan perumahannya mendapat informasi dari penjaga pintu air Batu Belah. "Dapat informasi yang dikirim melalui WA ke lingkungan, itu sangat membantu. Tapi kalau kemarin memamg HP milik penjaganya rusak," ujarnya.
Wali Kota Tangsel Benyamin Davnie mengatakan akan berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten untuk membangun turap di bantaran Cisadane.
"Akan kita usulkan ke Pemprov Banten untuk pembuatan sheet pile sepanjang 1.200 meter di bantaran Sungai Cisadanenya untuk penahan limpasan air dari sungainya," kata Benyamin, Senin siang, 27 November 2023.
Benyamin mengatakan persoalan banjir akibat luapan sungai ini bisa ditangani dengan pembuatan sheet pile. Warga di perumahan tersebut tidak perlu direlokasi.
"Mudah-mudahan dengan sheet pile sepanjang 1.200 meter bisa mengatasi banjir," kata Benyamin.
Banjir akibat luapan Sungai Cisadane juga berdampak pada warga di Panunggangan Barat, Kecamatan Cibodas, Kota Tangerang. Erik, 33 tahun, mengatakan banjir sering terjadi di wilayahnya.
"Kalau sudah meluap yah lumayan lama. Kadang bisa sampai berhari - hari, kalau yang kemarin itu enam jam," ujarnya.
Kata Erik, luapan sungai terjadi akibat proyek pembangunan turap di wilayahnya mangkrak, sehingga limpasannya memasuki permukiman.
"Itu ada pembangunan turap, tapi sudah dua tahun mangkrak. Padahal jika ada turap mungkin enggak banjir lagi," ujarnya.
Warga di Panunggangan Barat resah bila banjir terjadi, karena selain sulit mendapatkan air bersih pasokan listrik juga ikut terganggu.
"Otomatis air bersih susah dan listrik juga dimatiin. Waktu itu pernah sampe 2 hari," ujarnya.
Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane Bambang Heri Mulyono mengatakan pembangunan turap di wilayah sungai harus mengikuti aturan yang berlaku. "Untuk melakukan pembangunan infrastruktur di sempadan sungai, harus mengikuti Permen PUPR No. 28 tahun 2015. Perlu diteliti apakah perumahan tersebut sudah memperoleh ijin penggunaan sumber daya air dari kementerian PUPR untuk membangun di daerah sepadan sungai Cisadane," ujarnya.
MUHAMMAD IQBAL
Pilihan Editor: Ponsel Petugas Rusak, Banjir dari Kali Cisadane Kejutkan Warga Pesona Serpong