Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Dewan Pimpinan Daerah Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jakarta Shafruhan Sinungan mengatakan para pemilik angkutan umum kesulitan menyiapkan uang muka pembelian bus untuk ikut program peremajaan bus sedang oleh PT Transjakarta tahun ini.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“Kan untuk kredit kendaraan baru itu perlu uang muka, sebagian anggota operator problem-nya di situ,” kata Shafruhan kepada Tempo, Kamis, 3 Oktober 2019.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Tahun ini, sebanyak 316 bus sedang akan bergabung dengan program Jak Lingko. Sejumlah operator angkutan umum yang mendapatkan kuota untuk terintegrasi dengan Transjakarta itu antara lain, Kopaja 150 unit, Metromini (100), Kopami Jaya (30), dan Koantas Bima (36). Dengan kesulitan itu, diperkirakan program peremajaan itu dapat terhambat.
Peremajaan 316 bus sedang itu juga sejalan dengan Instruksi Gubernur Nomor 66 Tahun 2019 tentang Pengendalian Kualitas Udara. Instruksi Gubernur itu memerintahkan Kepala Dinas Perhubungan DKI untuk mempercepat peremajaan 10.047 bus besar, sedang, dan kecil pada 2020. Sedangkan hingga Agustus lalu, jumlah armada yang terintegrasi dengan PT Transjakarta melalui program unggulan pemerintah DKI itu baru mencapai 3.369 unit.
Shafruhan menjelaskan operator yang mendapatkan alokasi peremajaan bus pada tahun ini telah berkomunikasi dengan dealer. Tujuannya, agar pengadaan bus bisa segera direalisasikan saat lembaga pembiayaan menyetujui pengajuan kredit mereka. “Mudah-mudahan Desember besok bisa meluncur,” kata dia.
Selain itu, Shafruhan telah mengingatkan operator angkutan umum lainnya untuk menyiapkan keuangannya jika ingin bergabung dengan program Jak Lingko. Sebab, pemerintah DKI telah menyiapkan subsidi yang dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBD) untuk program tersebut.
Pemerintah DKI mengusulkan anggaran subsidi transportasi pada 2020 sebesar Rp 6,94 triliun. Subsidi transportasi itu paling besar dialokasikan untuk Transjakarta dengan pagu Rp 5,34 triliun.
Ketua Umum Koperasi Angkutan Jakarta (Kopaja) Asyari Ilyas belum menanyakan pada anggotanya terkait kondisi keuangan untuk pembelian bus. Namun, menurut dia, wajar jika pemilik bus yang bergabung dalam Kopaja mengupayakan pembelian bus dengan uang muka serendah mungkin.
Asyari menjelaskan harga satu unit bus sedang baru yang spesifikasinya sesuai dengan permintaan Transjakarta sekitar Rp 800 juta. Jika dealer meminta uang muka sebesar 20 persen, anggota Kopaja yang ingin memperbarui busnya perlu menyiapkan uang sebesar Rp 160 juta. “Kami coba cari skema pembiayaan lain agar uang muka bisa di bawah Rp 50 juta,” kata dia.
Selain itu, kata Asyari, hingga saat ini Kopaja dan Transjakarta belum menyepakati harga rupiah per kilometer. Perusahaan Daerah itu menawar tarif hingga di bawah Rp 14 ribu per kilometer. Sedangkan Kopaja, meminta tarif sebesar Rp 16.600 per kilometer.
Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo belum bisa berkomentar terkait kesulitan keuangan operator untuk pembelian bus baru. “Saya coba tanyakan dulu pada mereka,” kata dia.