Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Arsip

Berita Tempo Plus

Mengapa Inkumben dan Pesohor Gagal Kembali Masuk Senayan

Masifnya politik uang membuat Pemilu 2024 dianggap sebagai pemilu terbrutal. Banyak inkumben gagal ke Senayan.

31 Maret 2024 | 00.00 WIB

Simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memekai topeng bergambar Anies Baswedan ketika berkampanye di Tegal, Jawa Tengah, 30 Januari 2024. Tempo/Hilman Fathurrahman W
Perbesar
Simpatisan Partai Keadilan Sejahtera (PKS) memekai topeng bergambar Anies Baswedan ketika berkampanye di Tegal, Jawa Tengah, 30 Januari 2024. Tempo/Hilman Fathurrahman W

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

BERKUMPUL di kantor partai pada Sabtu, 23 Maret 2024, sebanyak 89 anggota Majelis Syura Partai Keadilan Sejahtera mendiskusikan hasil Pemilihan Umum atau Pemilu 2024. Mereka menyoroti perolehan suara partai yang jauh di bawah target. “Kami merasa aneh dengan hasilnya,” kata juru bicara PKS, Ahmad Mabruri, yang mengetahui isi rapat itu kepada Tempo, Rabu, 27 Maret 2024. 

Menurut survei internal menjelang hari pencoblosan 14 Februari 2024, PKS bakal mendulang 13 persen suara, efek menyokong Anies Baswedan dalam pemilihan presiden. Pimpinan PKS pun menargetkan 15 persen suara dan 86 kursi Dewan Perwakilan Rakyat. Namun rekapitulasi Komisi Pemilihan Umum mencatat PKS meraup 8,42 persen suara atau 12,78 juta pemilih.

Para petinggi PKS meyakini kegagalan mendapatkan dua digit suara disebabkan oleh masifnya politik uang. Mereka mendapat berbagai cerita bahwa calon legislator dari partai lain mengebom pemilih dengan duit, dari puluhan ribu sampai jutaan rupiah. Mabruri pun membenarkan ihwal brutalnya politik uang. “Ada faktor eksternal di luar kontrol kami,” ucapnya. 

PKS kehilangan banyak kursi DPR di basis-basis suara mereka. Kursi PKS berkurang dari dua menjadi satu di daerah pemilihan Sumatera Utara dan Jawa Barat I. Bahkan PKS harus kehilangan kursi di daerah pemilihan Sumatera Utara II, Banten I, dan Sulawesi Tengah pada Pemilu 2024. Padahal, lima tahun lalu, ketiga daerah pemilihan itu menyumbang masing-masing satu kursi.

Meski begitu, ada delapan daerah yang pecah telur, menyumbang kursi baru untuk PKS, seperti di dua daerah pemilihan di Jawa Tengah dan tiga di Jawa Timur. Kekuatan PKS di Senayan bertambah dari 50 menjadi 53 kursi. Perolehan suara PKS juga melonjak menjadi 8,42 persen dari sebelumnya 8,21 persen. Mabruri tak memungkiri jika kenaikan jumlah perolehan suara dan kursi disebut sebagai efek PKS mengusung Anies.

Image of Tempo
Image of Tempo
Berlangganan Tempo+ untuk membaca cerita lengkapnyaSudah Berlangganan? Masuk di sini
  • Akses edisi mingguan dari Tahun 1971
  • Akses penuh seluruh artikel Tempo+
  • Baca dengan lebih sedikit gangguan iklan
  • Fitur baca cepat di edisi Mingguan
  • Anda Mendukung Independensi Jurnalisme Tempo
Lihat Benefit Lainnya

Francisca Christy Rosana, Hussein Abri Dongoran, dan Egi Adyatama berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Lepas Kursi karena Beruang"

 

Erwan hernawan

Menjadi jurnalis di Tempo sejak 2013. Kini bertugas di Desk investigasi majalah Tempo dan meliput isu korupsi lingkungan, pangan, hingga tambang. Fellow beberapa program liputan, termasuk Rainforest Journalism Fund dari Pulitzer Center. Lulusan IPB University.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus