Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

Dampak Covid, Asosiasi: Jumlah Pekerja Industri Tekstil Turun 50 Persen

Gita Wirawasta mengatakan jumlah tenaga kerja di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) saat ini menurun 50 persen dibanding tahun lalu

26 Agustus 2020 | 16.06 WIB

Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi
Perbesar
Pekerja menyelesaikan produksi kain sarung di Pabrik Tekstil Kawasan Industri Majalaya, Kabupaten Bandung, Jawa Barat, Jumat 4 Januari 2019. Kementerian Perindustrian menargetkan ekspor tekstil dan produk tekstil (TPT) pada tahun 2019 mencapai 15 miliar dollar AS atau naik 11 persen dibandingkan target pada tahun 2018. ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Sekretaris Jenderal Asosiasi Produsen Serat dan Filament Indonesia (APSyFI) Redma Gita Wirawasta mengatakan jumlah tenaga kerja di industri tekstil dan produk tekstil (TPT) saat ini menurun 50 persen dibanding tahun lalu.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"Kalau posisi sekarang sih saya yakin tenaga kerja hanya setengahnya, bahwa masih banyak perusahaan-perusahaan yang merumahkan karyawannya pasca Covid-19," kata Redma dalam diskusi virtual, Rabu, 26 Agustus 2020. Badan Pusat Statistik Mencatat tenaga kerja di industri TPT sebanyak 4,5 juta di 2019.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Dia menyarankan untuk menyelamatkan industri TPT nasional, kata dia, pemerintah perlu mengeluarkan kebijakan perdagangan yang pro industri lokal agar dapat mengusai pasar domestik.

Selain itu, perlu pembenahan kinerja di pelabuhan untuk menghindari praktik-praktik impor yang melanggar aturan. "Dan perlu peningkatan daya saing untuk mendorong ekspor," ujarnya.

Adapun dia menuturkan devisa ekspor industri tekstil sekitar US$ 12 miliar di 2019. Padahal, sebelumnya US$ 13 miliar di 2018. "Yang jadi masalah adalah ketika ekspor kita tidak bisa naik di atas US$ 13 miliar, impor justru naik tinggi," kata dia.

Impor industri TPT di 2018, kata Redma, sebesar US$ 4,5 miliar. Sedangkan saat ini di atas hampir US$ 9 miliar.

Dengan kondisi itu, kata dia, devisa bersih menjadi tergerus cukup banyak. Juga Neraca perdagangan minus 4,3 persen. "Ini akan jadi masalah buat ekonomi. Meski begitu tekstil masih sangat bermanfaat," ujar dia.

HENDARTYO HANGGI

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus