Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Setelah diresmikan oleh Presiden Joko Widodo pada November 2017 lalu, jalan Tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu) seksi 1B dan 1C yang menghubungkan Cipinang-Jakasampurna sepanjang 8,26 kilometer telah menjadi salah satu jalan alternatif bagi warga Bekasi menuju Cawang, Jakarta Timur, selain jalan Tol Jakarta-Cikampek.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Saat ini, pemerintah memberlakukan sistem tarif tol terbuka sebesar Rp 14 ribu untuk kendaraan golongan I yang menggunakan jalan Tol Becakayu sepanjang 21,04 kilometer.
Sistem tarif tol terbuka artinya pengguna jalan dikenakan tarif merata baik untuk jarak terdekat maupun terjauh. Hal ini berbeda dengan sistem tarif tertutup karena pengguna jalan dikenakan tarif sesuai jarak tempuhnya per kilometer.
Nurul Annisa, karyawan swasta asal Tambun, Bekasi, mengaku telah beberapa kali memanfaatkan jalan Tol Becakayu untuk menuju kantornya yang terletak di kawasan Permata Hijau, Jakarta Selatan.
“Di Tol Japek (Jakarta-Cikampek) bisa sejam lebih baru sampai Bekasi Barat, lewat situ (Becakayu) cuma 15 menit aja meski ada macetnya di dekat exit tol. Enak sih, tapi mahal,” ujarnya.
Mahalnya tarif jalan Tol Becakayu tak hanya dirasakan oleh Nurul. Iqbal Musyaffa, seorang karyawan swasta, juga mengaku pernah sekali menjajal Tol Becakayu untuk menuju ke Cawang. Namun, Iqbal lebih memilih menunggu jalan tol tersebut beroperasi seluruhnya sebelum menggunakannya kembali secara rutin.
“Mahal banget untuk rute pendek dan tidak efisien, pas turun malah langsung ketemu bottleneck. Niatnya mau ke Halim, tapi kan belum nyambung, baru bisa sampai Cawang,” ungkapnya.
Herry Trisaputra Zuna, Kepala Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT), mengakui jika besaran tarif Tol Becakayu cukup mahal dibandingkan dengan tol lainnya seperti Jakarta-Cikampek.
Menurutnya, perhitungan tarif tersebut didasarkan pada sejumlah faktor untuk pengembalian investasi badan usaha dan biaya konstruksi struktur tol yang lebih mahal karena dibangun secara melayang.
"Kami ada hitungan, Rp 14 ribu untuk mengembalikan investasinya. Nah, di sini strukturnya dibikin elevated, lebih mahal dari yang biasa. Namun, Rp 14 ribu ini masih di bawah willingness to pay masyarakat kok," ujarnya.
Herwidiakto, Direktur Utama PT Kresna Kusuma Dyandra Marga (KKDM), pengelola jalan Tol Becakayu, menjelaskan bahwa setelah diresmikan pada November tahun lalu hingga awal tahun ini, lalu lintas harian rata-rata (LHR) Tol Becakayu terbilang sepi, rata-rata 11 ribu kendaraan per hari.
Angka ini jauh di bawah prediksi BPJT yang memperkirakan LHR untuk seksi 1B dan 1C dapat mencapai 22 ribu kendaraan setiap hari. “LHR masih 11 ribu. Maklum, masih pendek, tapi nanti kalau sudah nyambung dengan Pasar Gembrong kan sudah murah” ungkapnya.
Akan tetapi, perusahaan optimistis jumlah tersebut berpotensi bertambah menjadi 40 ribu kendaraan per hari ketika konstruksi sudah tersambung seluruhnya dan jalan Tol Becakayu terhubung dengan jalan tol Wiyoto Wiyono di sebelah utara dan jalan Tol Jakarta-Cikampek di sisi selatan.