Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X yang menjalankan usaha pengelolaan gula lewat pabrik-pabrik yang beroperasi di Jawa Timur mengaku siap menerima penugasan impor gula mentah (raw sugar). Impor gula mentah itu dilakukan guna memenuhi konsumsi gula kristal putih (GKP).
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Direktur Utama PTPN X Dwi Satriyo Annurogo mengungkapkan, rata-rata pabrik gula yang beroperasi di bawah PTPN X memiliki kapasitas pengolahan di kisaran 2.500 sampai 7.200 ton cane per day (TCD). Sementara berdasarkan audit Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), seluruh pabrik yang beroperasi di bawah PTPN X diperkirakan memiliki kapasitas pengolahan gula mentah dengan produksi mencapai 443.000 ton. Adapun selama 2018 lalu, besaran gula yang diproduksi PTPN X tercatat mencapai 335.839 ton.
"Jangan dikira kami tidak bisa mengolah raw sugar. Kami siap dan yang menilai kami siap, kami bisa, dan mampu itu bukan kami sendiri. BPPT melakukan audit pada pabrik-pabrik potensial dan diperkirakan bisa mencapai 443.000 ton," kata Dwi di Jakarta, Jumat 28 Juni 2019.
Ketua Umum Dewan Pembina DPP Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Arum Sabil menilai pemerintah perlu memberi kesempatan lebih besar bagi PTPN untuk mengelola gula mentah demi memenuhi kebutuhan konsumsi gula nasional, alih-alih memberi izin pada perusahaan gula baru yang belum terbukti kinerjanya.
"Kenapa muncul pabrik gula baru tapi sudah bisa mengimpor dengan alasan idle capacity? Impor yang diajukan mencapai ratusan ribu ton, padahal pabriknya baru," kata Arum.
Ekonom Pertanian yang pernah menjabat sebagai Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian Agus Pakpahan pun berpendapat demikian. Ia mencatat sepanjang 2003 sampai 2008 produksi gula nasional sempat mengalami tren kenaikan, namun berbalik turun setelahnya.
"Apa sebabnya? Menurut saya ada kesalahan kebijakan. Dulu kita bekerja keras meningkatkan produksi untuk menutup impor, penyuluhan pada petani ditingkatkan. Impor gula mentah atau raw sugar itu menekan idle capacity, penghasilannya pun bisa dimanfaatkan untuk investasi ke petani tebu," kata Agus.