Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Bandung -Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral, Rida Mulyana mengatakan, pemerintah memproyeksikan pengembangan pembangkit listrik dari sumber energi terbarukan pada teknologi pembangkit yang sudah terbukti, atau proven.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
“(Pembangkit listrik) panas bumi, mikro hidro, air sudah banyak kita punya bendungan. Terakhir kita mulai dengan bayu, angin, itu pertama kita bangun di Indonesia sebanyak 75 MW di Sidrap, Sulawesi Selatan,” kata dia di Bandung, Selasa, 11 Oktober 2017.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Rida mengatakan, angin mulai dilirik menjadi salah satu sumber energi terbarukan untuk pembangkit listrik. “Kita punya potensi 1,6 GW,” kata dia.
Menurut Rida, daerah pantai umumnya berpotensi untuk dikembangkan pembangkit listrik tenaga angin. “Seperti di Jeneponto, Sukabumi, Jogja. Di pantai-pantai kebanyakan anginya bagus,” kata dia.
Rida mengatakan, dalam waktu dekat akan dibangun pembangkit listrik tenaga angin menyusul pembangkit pertama di Sidrap, Sulawes Selatan. Diantaranya di Jeneponto dan Sukabumi. “Misalnya di Sukabumi itu bisa sampai 700 MW. Sudah ada perusahaan yang berminat,” kata dia.
Pemerintah sendiri sudah mengatur tarif penjualan listrik untuk pembangkit terbarukan bersumber tenaga angin. Rida mengklaim, tarif listrik yang ditetapkan pemerintah itu relatif menguntungkan.
“Masalah tarif sendiri tergantung mereka minjem uangnya dari mana, kalau pintar minjmenya dapat yang bunganya rendah, tarifya kecil. Tarifnya tergantung regionalnya, masing-masing punya Biaya Pokok Penyediaan (BPP) yang diaur dalam Permen 50 tahun 2017. Tiap wilayah punya BPP sendiri,” kata dia.
Rida mengatakan, pembangunan pembangkit listrik tenaga angin masih mengandalkan pihak asing. “Kerjasamanya dengan pihak luar negeri. Tapi teknologinya, 40 persen sudah TKDN di sana,” kata dia.
Soal pembiayaan, sejumlah lembaga pembiayaan ada yang menyediakan pembiayaan pembangkit listrik energi terbarukan misalnay dengan bunga yang rendah. “Perbankan ngeliatnya bisnis. Tapi ada pihak yang bisa menyediakan ‘interest’ yang ‘low’, biasanya ini yang ‘Green Fund’, yang berbau linkungan itu bunganya pasti rendah. Di luar negeri banyak, dan di atarnaya ada yang sudah masuk (Indonesia). Jangankan ke energi hijau, yang batu bara juga ada yang ngasih (bunga pinjaman) 4 persen sampai 6 persen,” kata Rida.
Sementara pemanfaatan arus laut untuk pembangkit listrik masih menunggu pengembangan teknologinya. “Kita tunggu teknologinya proven. Kalau yang masih coba-coba, mangga, itu riset dulu. Kita juga melakukan itu melaluai Badan Litbang kerjasama dengan beberapa pihak termasuk ITS dan luar negeri, tapi dalam rangka menguji. Menghasilkan ya, proven, belum tentu. Yang lebih penting, komersial atau nggak,” kata Rida.
Rida mengatakan, pemerintah memproyeksikan pembangkit listrik energi terbarukan menembus 10 ribu MW dalam proyek pembangkit 35 ribu MW. “Kita ingin nanti pada saatnya kontribusinya itu 10 ribu MW masuk sampai 2025. Panas bumi masih porsi paling besar antara 5 ribu MW sampai 6 ribu MW. Sisanya ada air, bayu, dan bio massa,” kata dia.
AHMAD FIKRI