Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Bisnis

PwC: 65 Persen Pendapatan Masyarakat Indonesia Turun, Tapi Paling Optimistis

Rumah tangga di Indonesia mengalami penurunan pendapatan melebihi rata-rata global.

13 Agustus 2020 | 13.04 WIB

Pengunjung melintas di depan toko di Lippo Mall Puri saat masa PSBB transisi di Jakarta, 4 Juli 2020.  Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan bahwa pengunjung pusat perbelanjaan di DKI pada masa pembatasan sosial berskala besar atau PSBB transisi tidak membludak. TEMPO/Fajar Januarta
Perbesar
Pengunjung melintas di depan toko di Lippo Mall Puri saat masa PSBB transisi di Jakarta, 4 Juli 2020. Wakil Gubernur DKI Jakarta Ahmad Riza Patria mengatakan bahwa pengunjung pusat perbelanjaan di DKI pada masa pembatasan sosial berskala besar atau PSBB transisi tidak membludak. TEMPO/Fajar Januarta

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - PricewaterhouseCoopers (PwC) meluncurkan hasil survei Global Consumer Insights 2020 dengan tajuk "Before and After the Covid-19 Outbreak". Hasilnya, rumah tangga di Indonesia mengalami penurunan pendapatan melebihi rata-rata global.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

"65 persen konsumen urban Indonesia mengalami penurunan pendapatan rumah tangga," kata Retail and Consumer Leader PwC, Peter Hohtoulas, dalam paparan publikasi secara virtual pada Kamis, 13 Agustus 2020.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

slot-iklan-300x600

Sementara di tingkat global, angkanya hanya 45 persen. Sehingga, PwC pun menyebut dampak pandemi Covid-19 bagi konsumen di Indonesia, lebih tinggi dibandingkan konsumen di tingkat global.

Tekanan pada pendapatan rumah tangga ini juga sudah terlihat dalam tingkat konsumsi pada pengumuman Badan Pusat Statistik (BPS) beberapa waktu lalu. Konsumsi rumah tangga yang jadi penopang ekonomi Indonesia tumbuh minus 5,51 peren (year-on-year/yoy) pada triwulan II 2020.

Ada sejumlah faktor utama yang mendorong terjadi penurunan pendapatan di 65 persen responden ini. Pertama, penurunan pendapatan karena PHK. 63 persen responden di Indonesia mengalami hal ini, lebih tinggi dari tingkat global yang hanya 40 persen.

Kedua, meningkatnya tagihan listrik dan pengeluaran untuk makanan. 63 persen di Indonesia mengalami hal ini, lagi-lagi lebih tinggi dari rata-rata global yang hanya 41 persen.

Akan tetapi, PwC melihat temuan baik di balik kondisi ini. Dari hasil survei, ternyata masyarakat Indonesia cenderung lebih optimistis di masa depan, ketimbang rata-rata masyarakat global.

Sebelum pandemi Covid-19, hanya 57 persen saja masyarakat yang ingin berbelanja lebih banyak. 22 persen memilih untuk mengurangi belanja mereka.

Tapi setelah pandemi Covid-19 nanti, 64 persen ingin berbelanja lebih banyak lagi. Sementara yang ingin mengurangi belanja mereka justru turun menjadi 17 persen. Angka 64 persen ini membuat Indonesia lebih optimis dalam hal pengeluaran, dibandingkan kawasan Timur Tengah (49 persen), Cina (43 persen), dan Eropa (29 persen).

Angka 64 persen juga lebih optimistis dibandingkan dengan rata-rata. Hanya 33 persen saja masyarakat yang ingin berbelanja lebih banyak setelah pandemi nanti. Mayoritas yaitu 36 persen memilih untuk mengurangi pengeluaran mereka.

FAJAR PEBRIANTO

Fajar Pebrianto

Meliput isu-isu hukum, korupsi, dan kriminal. Lulus dari Universitas Bakrie pada 2017. Sambil memimpin majalah kampus "Basmala", bergabung dengan Tempo sebagai wartawan magang pada 2015. Mengikuti Indo-Pacific Business Journalism and Training Forum 2019 di Thailand.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus