Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Pemerintah sedang menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menjaga kinerja ekspor dan impor nasional di tengah penyebaran Virus Corona. Salah satunya dengan menginventarisasi pasar ekspor selain Cina untuk dibidik sebagai antisipasi perlambatan.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Susiwijono Moegiarso, mencontohkan pangsa pasar ekspor ke Cina selama ini sebesar 16,8 persen dengan nilai US$ 28 miliar dengan produk utama tambang dan CPO. "Itu bisa berdampak pada neraca dagang kita," ujarnya, di Jakarta, Rabu, 12 Februari 2020.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Bahkan, menurut Susiwijono, perlambatan ekonomi Cina bisa jadi celah bagi pengusaha dengan memanfaatkan pasar ekspor negara tirai bambu itu. "Selama ini, ekspor terbesarnya (Cina) adalah barang-barang elektronik. Mungkin industri kita belum bisa menggantikannya. Tetapi ada potensi lain yang bisa kita ambil seperti fesyen," ucapnya.
Sementara sisi impor dari Cina yang mayoritas merupakan barang modal dan bahan baku untuk industri manufaktur nasional, juga bisa dimanfaatkan. Meski belum terdampak, pemerintah juga sedang menyiapkan sejumlah langkah antisipasi agar aktivitas industri manufaktur di dalam negeri tetap berjalan.
"Bagaimana pemerintah menjaga pasokan dari Cina yang jumlahnya cukup besar," kata Susiwijono. "Misalnya dari negara lain atau mengoptimalkan dari dalam negeri."
Terkait sektor pariwisata yang diperkirakan juga terdampak Virus Corona, Susiwijono mengatakan pemerintah sedang menyiapkan strategi untuk mendorong wisatawan domestik melalui pemberian insentif harga tiket pesawat.
"Pemerintah akan mendorong konferensi-konferensi dan MICE (meeting, incentive, convention and exhibition) di sejumlah destinasi wisata. Kontribusi wisatawan MICE lebih besar dibandingkan wisatawan liburan," katanya.
ANTARA