Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Setiap anak adalah unik. Mereka pun belajar dengan cara yang berbeda. Ada yang lebih suka belajar dengan mendengarkan, ada yang lebih suka belajar secara langsung, ada pula yang lebih memilih membaca buku. Gaya belajar adalah cara yang digunakan oleh anak untuk menerjemahkan, memahami, dan menyimpan informasi tertentu. Penggolongan gaya belajar ini menggunakan pendekatan sensori, yaitu melihat, mendengar, membaca/menulis, dan kinestetika.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Orang tua lah yang penting untuk memahami gaya belajar anak untuk mendukung dan mengembangkan kemampuan akadmisnya secara optimal. Selain itu, mengerti gaya belajar anak juga akan menghapus stigma negatif yang mungkin melekat pada anak, seperti attention deficit disorder (ADD) dan learning disabled (AD).
Tidak hanya orang tua, para guru dan pengajar pun perlu paham gaya belajar ini. Beberapa murid akan terlihat tertinggal karena kemungkinan besar ‘mesin’ di dalam otak mereka belum diaktivasi. Pada dasarnya, terdapat empat gaya belajar anak, yaitu:
- Gaya belajar visual
Anak yang memiliki gaya belajar ini akan menyerap ilmu baru dengan lebih banyak diam dan melihat serta mengobservasi lingkungannya. Gaya belajar ini dikenal juga sebagai gaya spasial, yakni anak yang sering membuat catatan dengan menggunakan bagan, tabel, atau spidol warna-warni sehingga buku catatannya terlihat sangat atraktif.
Kekurangan gaya belajar visual adalah mereka butuh lebih banyak waktu untuk mencerna informasi yang diberikan. Pasalnya, mereka harus terlebih dahulu memproses informasi, kemudian menumpahkan ide tersebut secara menarik di atas media yang diinginkannya. - Gaya belajar membaca/menulis
Anak dengan gaya belajar yang satu ini bisa memperoleh banyak informasi hanya dengan membaca atau menulis di buku. Gaya ini mirip dengan tipe visual, hanya saja gaya membaca/menulis tidak perlu ‘menggambarkan’ kata-kata yang dipelajarinya lewat bagan atau presentasi yang menarik.
Gaya belajar ini adalah tipe paling ideal untuk diterapkan di sekolah-sekolah. Anak dengan gaya tersebut akan sangat senang bila diberi tugas membaca literatur, mencari informasi dari internet, atau menulis esai. - Gaya belajar auditori
Anak dengan gaya belajar ini lebih mampu memproses informasi yang berguna ketika mendengarnya, misalnya lewat pidato, diskusi, maupun lewat musik. Kadang kala, anak akan menggumamkan informasi yang didengarnya tersebut agar lebih melekat di otak.
Anak dengan gaya belajar ini sering dicap pemberani karena mereka tidak malu untuk mengungkapkan pendapatnya dan bisa menjelaskan dengan baik. Sebaliknya, gaya belajar ini akan membuat anak menjadi pembaca buku yang lambat. - Gaya belajar kinestetika
Anak kinestetika harus mengalami sendiri pembelajaran yang dimaksud untuk memahami maksudnya. Jika Anda menerangkan tentang anatomi tubuh kucing, misalnya, ia harus menyentuh, mencium, atau merasakan sendiri bagian yang dimaksud agar informasi itu tersimpan baik di otaknya.
Positifnya, gaya belajar ini akan membuat anak sangat aktif sehingga dapat disalurkan untuk kegiatan olahraga, menari, dan aktivitas fisik lainnya. Sisi negatifnya, mereka akan sangat sulit diminta duduk untuk membaca buku atau bahkan mendengar penjelasan yang disampaikan guru.
Orang tua bisa mulai memperhatikan kecenderungan gaya belajar anak mulai dari usia 6-7 tahun. Gaya belajar ini biasanya akan mengkristal alias semakin terlihat ketika anak sudah memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP).
SEHATQ
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini