PERMAINAN video game ternyata bisa menimbulkan epilepsi, yang lazim disebut ayan. Radiasi dari kerlap-kerlip warna pada gambar bergerak di layar monitor bisa mencetuskan penyakit kejang-kejang itu. Permainan yang digemari anak-anak dan orang dewasa ini kini makin populer dan bisa membuat lupa waktu. Padahal, jika tubuh capek, ambang batas rangsangan sinar pada saraf bisa pula menurun. ''Dan ini bisa menjadi petaka bagi yang punya bakat epilepsi,'' kata ahli saraf anak Prof. Sofyan Ismail, yang juga kepala Bagian Anak RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta. Kasus di atas sudah terjadi bulan ini di Jepang terhadap empat mahasiswa. Pekan lalu, seorang mahasiswa berusia 20 tahun mendadak kejang-kejang, kemudian pingsan, setelah semalaman main video game. Menurut diagnosis dokter, ia menderita epilepsi fotosensitif, atau sensitif terhadap kerjapan sinar. Kejadian ini juga menimpa anak-anak di London yang getol main video game menjelang Natal barusan. Fenomena itu membuat Inggris pekan ini mengumumkan akan meneliti pengaruh video game pada penyandang epilepsi. ''Harus dicari sebabnya agar masyarakat tidak gelisah,'' kata Ketua Asosiasi Epilepsi Inggris (BEA), Terry O'Leary, seperti dikutip kantor berita Reuters, Kamis pekan lalu. Produsen video game tentu tidak mau dituding sebagai penyebab petaka. ''Kami mengutamakan keamanan dan kesehatan pembeli. Apalagi pembeli umumnya anak-anak,'' kata Perrin Kaplan, juru bicara produsen video game Nintendo of America Inc., di Washington DC, AS. Produsen boleh membela diri, sedangkan para ahli wajib memberi peringatan. Sebab, pemicu epilepsi fotosensitif itu bervariasi. Selain video display unit (VDU), pesawat televisi juga bisa menjadi pencetus. Dan pemicu ini aktif jika penderita fotosensitif duduk terlalu dekat dengan TV. Pada jarak yang dekat itu saraf mata akan menerima 25 kilatan cahaya (pembentuk garis pada gambar) per detik. Ini sudah cukup membuat picu terpantik. Sebab, makin kecil jumlah kerjapan yang diterima, makin besar kemungkinan ia terserang kejang-kejang. Bandingkan, misalnya, jika ia duduk sejauh kira-kira tiga kali lebar layar televisi. Pada jarak ini saraf mata cuma tersengat 50 kerjapan cahaya per detik. Itu sebabnya televisi portabel model baru dinyatakan lebih aman, karena memantulkan 100 kilatan cahaya. Di Indonesia epilepsi fotosensitif sebenarnya sudah diamati ahli saraf Prof. Mahar Mardjono sejak tahun 1964. Kala itu ia sedang memperdalam epilepsi. Ia menemukan penderitanya yang terkena pantulan cahaya televisi hitam putih atau sorot lampu mobil pada pohon yang dicat putih. Perubahan gelap-terang itulah yang menyebabkan penderita kena epilepsi. ''Mungkin itu sebab terjadinya kecelakaan,'' katanya. Secara umum epilepsi merupakan gejala gangguan kegiatan biolistrik otak. Jaringan pada sel otak mempunyai kegiatan listrik, yang dalam keadaan normal seharusnya punya ritme teratur. Jika ritme itu ''mabuk'' karena kekenyangan muatan listrik, seperti halnya bola lampu yang ''byar-pet'', penderita mendapat serangan. Bagaimana serangan itu bisa terjadi, belum diketahui. Serangan epilepsi ada yang berat (grand mal) sehingga perlu operasi, ada pula yang ringan (petit mal), yang cukup diobati saja. Epilepsi, menurut Sofyan, bisa sembuh asal penderita mau memeriksakan diri dengan baik dan teratur. Di Indonesia juga ada penderita epilepsi fotosensitif. Penyakit ini bisa dideteksi dengan EEG (elektroensefalografi). Tidak semua penderita epilepsi rentan pada kerdipan cahaya. Menurut Mahar Mardjono, hanya 4% dari jumlah penderita epilepsi masuk kategori epilepsi fotosensitif. Penderita pun baru tahu ia termasuk kategori itu jika kena serangan. Pencegahannya, ya, periksakan dengan EEG. Jika hasil pemeriksaan positif, penderita dianjurkan menjauhi kerjapan sinar, seperti di ruang diskotek atau bermainvideo game. Atau, kalau masih mau ke diskotek, pakailah kaca mata gelap. Ia boleh nonton televisi tetapi dengan jarak pandang yang aman. Sri Pudyastuti R.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini