Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Perjalanan

Dubrovnik Akhirnya Menyerah Kepada Game of Thrones

Pariwisata pada titik jenuh bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Kota jadi terlalu ramai, akibatnya ketenangan jadi mahal. Itu yang menimpa Dubrovnik.

11 November 2019 | 14.00 WIB

Image of Tempo
Perbesar
Game of Thrones S08 E04 Foto: Helen Sloan/HBO

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta -  Tren menutup pariwisata yang memiliki nilai sebagai warisan dunia atau taman nasional, menjadi solusi saat terjadi kejenuhan. Kasus yang menimpa Taman Nasional Komodo, yang bakal disulap menjadi destinasi wisata premium pun, tak mustahil menghadapi penutupan suatu saat.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Dubrovnik, situs warisan budaya UNESCO, yang digunakan untuk syuting film Game of Thrones mengalami hal tersebut. Pulau benteng di Kroasia ini, mengalami ledakan kunjungan wisatawan selaras dengan popularitas film Games of Thrones. Pemerintah Kota Dubrovnik tak sanggup menangani laju pertumbuhan wisatawan. Lantas siapa yang dikorbankan demi kenyamanan penduduk kota kecil itu?

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Menukil Travel and Leisure, Pemerintah Kota Dubrovnik melarang pembukaan restoran baru selama lima tahun. Agar para pejalan kaki bisa melintasi pedestrian tanpa berdesak-desakan. Wisatawan memang memadati pulau itu, mengalahkan jumlah penduduknya. Tahun lalu, pulau itu didatangi 1.271.657 pengunjung yang belum pernah terjadi sebelumnya. Itu adalah peningkatan tujuh persen dari 2017, yang juga merupakan rekor, di atas sejuta wisatawan per tahun.

Stradun merupakan jalan protokoler sejak abad pertengahan. Sejak 50 tahun terakhir didedikasikan hanya untuk pejalan kaki. Foto: @dana_honya

Dubrovnik berusaha keras untuk mengimbangi peningkatan lalu lintas pejalan kaki dan pengunjung asing, hingga memfilter Instagram. Wisatawan menyemut, terutama di jalan-jalan sempit di Kota Tua. Musim panas lalu, UNESCO memperingatkan pejabat kota, agar memperhatikan "daya dukung berkelanjutan" kota dalam hal jumlah pengunjung, terutama ratusan ribu yang datang dengan kapal pesiar.

Dua tahun lalu, Mato Frankovi, Wali Kota Dubrovnik memberikan batasan 4.000 wisatawan yang boleh mengunjungi Kota Tua pada waktu tertentu – terutama saat peak season. Ia bahkan meminta operator pelayaran untuk membantunya, mengatur sirkulasi pengunjung. Caranya, meminta operator pelayaran atau agen wisata menunjukkan spot-spot lain di Dubrovnik selain Kota Tua, bergantian, sebelum memasuki Kota Tua.

Namun bisa dipastikan, 2019, bakal menjadikan Dubrovnik lebih padat dari tahun sebelumnya. Dan Frankovi harus mengambil langkah tambahan, untuk memperoleh sedikit lebih banyak ruang bernapas bagi kotanya . 

Tapi kata itu keluar dan orang-orang benar-benar ingin pergi ke Dubrovnik sekarang — tahun ini sepertinya akan menjadi pemecah rekor lain — dan Frankovi telah memutuskan untuk mengambil beberapa langkah tambahan untuk memberi kota ini sedikit lebih banyak ruang bernapas.

Dia sudah menutup 80 persen kios suvenir Dubrovnik dan memangkas jumlah meja outdoor di restoran sebesar 20 persen. Bahkan Dewan Kota Dubrovnik mengusulkan untuk memotong lagi, jumlah tempat duduk di luar ruangan itu sebesar 10 persen lagi.

Kota tua Dubrovnik di Kroasia terlihat indah di sore hari. Kota ini semakin diburu wisatawan dari Eropa dan benua lainnya. (Instagram @con_luxury_travel dubrovnik)

Langkah dramatis berikutnya adalah Pemerintah dan Dewan Kota akan memberikan suara pada bulan Desember, yang melarang pemilik restoran baru, untuk meletakkan meja atau kursi luar ruangan untuk lima tahun ke depan — dan itu pada dasarnya berarti bahwa tidak akan ada restoran baru di Dubrovnik selama lima tahun ke depan.

"Siapa pun yang ingin membuka restoran di Kota Tua tidak dapat meletakkan meja dan kursi baru untuk lima tahun ke depan," kata Frankovi kepada CNN. "Mereka bisa membuka restoran dengan kursi di dalam. Tapi saat ini sulit membuka restoran dengan meja makan dan dapur di dalam ruangan, sebab 99 restoran di Kota Tua tak memiliki ruang untuk meja dan kursi, " imbuhnya.

Proposal itu juga berarti bahwa jika sebuah restoran tutup, maka tak akan dibuka lagi untuk lima tahun ke depan. Pemilik baru pun tak bisa membuka resto karena terbentur larangan penutupan itu. Kedengarannya seperti tindakan drastis, tetapi kepadatan Dubrovnik memang mengkhawatirkan bagi ruang publik di kota pulau itu.

Image of Tempo

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Image of Tempo
>
Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus