Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
TEMPO.CO, Jakarta - Pasukan pemerintah Suriah memasuki kota Dara'a pada hari Kamis, 12 Juli 2018 dan mengibarkan bendera di kota yang pertama dilanda perang sipil selama lebih dari 7 tahun.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
"Berdasarkan kesepakatan yang dicapai pekan lalu dengan kelompok-kelompok milisi, kelompok teroris akan menyerahkan senjata berat dan senjata ringannya, dan mereka yang setuju dengan kesepakatan itu akan diizinkan untuk tetap tinggal di tempat ini," kata pemerintah Suriah dalam pernyataannya yang dilansir oleh CNN, Jumat, 13 Juli 2018.
"Dan mereka yang menolak rekonsiliasi akan dievakuasi," ujar kantor berita pemerintah, SANA.
Baca: 6 Negara Bertempur Besar-besaran di Suriah, untuk Apa?
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Lebih dari 300 ribu warga Suriah menjadi tunawisma di Dara'a akibat perang. Menurut juru bicara UNICEF, Badan PBB untuk urusan anak-anak, jumlah warga sipil yang meninggalkan rumahnya di Dara'a, di selatan Damaskus merupakan yang terbesar sejak perang pecah sekitar tujuh tahun lalu.
Menurut UNICEF, dalam kurun waktu 3 bulan sejak perang pertama kali pecah di Dara'a, sekiar 180 ribu anak-anak terpaksa meninggalkan rumah mereka.
Bagi warga Suriah, perang pertama kali pecah di Dara'a, kota agrikultur yang berbatasan dengan Yordania.
Perang ditandai dengan penangkapan 15 remaja laki-laki karena menyemprotkan cat untuk membuat grafiti di dinding satu sekolah menengah atas.
Baca: Ini Tujuan Rusia, Turki, dan Iran dalam Perang 7 Tahun di Suriah
Di dinding sekolah itu muncul tulisan: Sekarang giliran Dokter." Kalimat itu merujuk pada presiden Suriah Bashar al-Assad.
Assad disandingkan senasib dengan presiden Mesir Hosni Mubarak dan presiden Tunisia Ben Ali.
Polisi kota Dara'a tidak menemukan terduga pelaku yang menulis kalimat itu. Sejumlah remaja yang membuat grafiti jadi sasaran amarah polisi. Mereka ditangkap, dipukuli, dan kuku jari tangan mereka dicabut. Mereka menjalani siksaan beberapa minggu dengan tujuan meminta mereka mengakui perbuatan mereka.
Setelah muncul aksi protes menuntut Assad memerintahkan polisi membebaskan remaja-remaja itu. Beberapa minggu kemudian remaja itu dibebaskan dan Dara'a menjadi titik perlawanan pemerintah terhadap berbagai gelombang aksi protes.
Baca: PBB Desak Semua Pihak Hentikan Operasi Militer di Suriah
Dara'a pun menjadi medan perang yang membuat jutaan orang meninggalkan rumah mereka dan ratusan ribuan orang meninggal. Belakangan, pasukan Suriah dan Rusia melakukan serangan besar-besaran terhadap kelompok pemberontak anti Assad.