Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Internasional

Ganjalan Utama Menangani Pengungsi Rohingya

Ketidakpastian masa depan membebani para pengungsi Rohingya di Indonesia. Mereka juga bergulat dengan berbagai keterbatasan.

 

20 Oktober 2024 | 00.00 WIB

Wanita Rohingya beristirahat setelah mendarat di pantai di Sabang, Aceh, November 2023. Reuters/Riska Munawarah
Perbesar
Wanita Rohingya beristirahat setelah mendarat di pantai di Sabang, Aceh, November 2023. Reuters/Riska Munawarah

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TUJUH tahun lalu, roda kehidupan Abdu Rahman, pengungsi Rohingya 25 tahun, berputar ke titik terendah. Genosida di Myanmar mengubahnya menjadi yatim-piatu. Ayahnya yang bekerja sebagai guru bahasa Arab, Monir Ahmad, juga ibunya, meninggal pada 2017.

Masuk untuk melanjutkan baca artikel iniBaca artikel ini secara gratis dengan masuk ke akun Tempo ID Anda.
  • Akses gratis ke artikel Freemium
  • Fitur dengarkan audio artikel
  • Fitur simpan artikel
  • Nawala harian Tempo

Mitra Tarigan, Dian Yuliastuti, Savero Aristia Wienanto, Anggun R Alifah dari Pekanbaru, dan Putri Zuhra Furna dari Aceh berkontribusi dalam penulisan artikel ini. Di edisi cetak, artikel ini terbit di bawah judul "Derita Rohingya Tak Berujung". Artikel ini bagian dari jurnalisme konstruktif yang didukung International Media Support

Nurdin Saleh

Nurdin Saleh

Bergabung dengan Tempo sejak 2000. Kini bertugas di Desk Jeda, menulis soal isu-isu olahraga dan gaya hidup. Pernah menjadi juri untuk penghargaan pemain sepak bola terbaik dunia Ballon d'Or.

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus