Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Nusa

Menelisik Jemaah Tarekat Naqsabandiyah Selalu Puasa Ramadan Lebih Awal

Menggunakan metode penentuan 1 Ramadan yang berbeda dengan pemerintah, jemaah Naqsabandiyah sering puasa lebih awal

28 Februari 2025 | 19.21 WIB

Jamaah tarekat Naqsabandiyah melaksanakan shalat tarawih pertama di Surau Baru, Pauh, Padang, Sumatera Barat, 26 Februari 2025. Antara/Iggoy el Fitra
Perbesar
Jamaah tarekat Naqsabandiyah melaksanakan shalat tarawih pertama di Surau Baru, Pauh, Padang, Sumatera Barat, 26 Februari 2025. Antara/Iggoy el Fitra

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

TEMPO.CO, Jakarta - Jemaah Tarekat Naqsabandiyah di Kota Padang, Sumatera Barat telah memulai puasa Ramadan 1446 Hijriah sejak Kamis, 27 Februari 2025. Hal itu mereka lakukan lebih awal dibanding ketetapan yang akan dikeluarkan oleh pemerintah di sidang isbat yang akan diselenggarakan pada Jumat, 28 Februari 2025.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Dilansir dari laman Infosumbar.net, Pengurus sekaligus Imam Surau Baru, Zahar menyebut penentuan 1 Ramadan tersebut melalui metode hisab, ru’yah, dalil, ijma, dan qiyas. Keputusan tersebut juga sudah disepakati bersama sejak dua bulan yang lalu. Ia melanjutkan, puasa lebih awal bukanlah hal yang baru bagi jemaah Naqsabandiyah sebab metode penentuan 1 Ramadan yang dilakukan sudah dilaksanakan turun temurun dan sering kali berbeda dengan pemerintah. Dengan perbedaan ini, dipastikan jika Tarekat Naqsabandiyah akan melaksanakan lebaran idulfitri terlebih dahulu.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Naqsabandiyah yang dikembangkan oleh  Syekh Muhammad Bahauddin An-Naqsabandy dari Bukhara pada tahun 1390 ini telah menyebar secara luas ke berbagai wilayah, termasuk Asia Tengah, Volga, dan Kaukasus. Selain itu, tarekat ini juga berkembang di China, Indonesia, India, Turki, serta mencapai Eropa dan Amerika Utara. 

Dikutip dari buku berjudul Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia karya Martin van Bruinessen, Tarekat Naqsyabandiyah telah berkembang di Indonesia sekitar dua abad sebelum pertama kali diketahui oleh pihak Belanda, meskipun bentuknya mungkin mengalami perubahan dari waktu ke waktu. Salah satu ulama dan sufi pertama di Indonesia yang menyebut tarekat ini dalam tulisannya adalah Syaikh Yusuf Makassar (1626–1699), seorang tokoh terkemuka dalam sejarah Islam Nusantara.

Syaikh Yusuf berasal dari Kerajaan Islam Gowa di Sulawesi Selatan dan memiliki hubungan kekerabatan dengan keluarga kerajaan. Pada tahun 1644, saat masih muda, ia melakukan perjalanan ke barat dengan tujuan menuntut ilmu dan menunaikan ibadah haji. Ketika tiba di Aceh—yang pada saat itu merupakan pusat utama pendidikan Islam di Nusantara—ia bergabung dengan tarekat Qadiriyah.

Lalu saat di Yaman, ia mempelajari tarekat Naqsyabandiyah dari seorang ulama Arab terkenal bernama Muhammad 'Abd Al-Baqi. Kemudian, di Madinah, ia juga berguru kepada ulama Naqsyabandiyah terkemuka, Ibrahim Al-Kurani, meskipun ia hanya menyebut gurunya ini sebagai pengajar tarekat Syattariyah.

Selain itu, Syaikh Yusuf juga menimba ilmu dari berbagai ulama di Makkah dan Madinah serta melakukan perjalanan hingga ke Damaskus, tempat ia akhirnya bergabung dengan tarekat Khalwatiyah. Secara keseluruhan, ia menghabiskan sekitar 25 tahun di tanah Arab dan mengaku telah mempelajari berbagai macam tarekat lainnya.

Teks yang paling jelas mengenai tarekat Naqsyabandiyah yang dikaitkan dengan Syaikh Yusuf adalah Al-Risalah Al-Naqsyabandiyah. Naskah tersebut berisi metode meditasi tertua yang awalnya dirumuskan oleh 'Abd Al-Khaliq Al-Ghujdawani, serta aturan-aturan tentang zikir. Namun, dalam tulisan-tulisan Syaikh Yusuf lainnya, referensi terhadap tarekat Naqsyabandiyah tidak menunjukkan bahwa ia secara khusus lebih menekankan tarekat ini dibandingkan yang lain. Kemungkinan besar, ia lebih sering membahasnya secara teoritis daripada mengajarkannya secara langsung.

Kemudian hingga saat ini, Tarekat Naqsabandiyah di Indonesia menyebar di berbagai daerah, seperti Sumatera Utara, Sumatera Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.

Eka Yudha Saputra ikut berkontribusi dalam artikel ini.
Pilihan editor: Pakar Diet Ungkap Kesalahan Pola Makan yang Umum Saat Ramadan

close

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Logo Tempo
Unduh aplikasi Tempo
download tempo from appstoredownload tempo from playstore
Ikuti Media Sosial Kami
© 2024 Tempo - Hak Cipta Dilindungi Hukum
Beranda Harian Mingguan Tempo Plus